Pehabong Uleh - Nice Reviews

nice reviews blog

Kopi Pendopo: Nikmatnya Ampas

Jika anda seorang penikmat kopi,
cobalah kopi pendopo. Memang kopi dari daerah di dekat Prabumulih tidak sepopuler kopi ketimbang kopi dari Semendo, Pagaralam atau Muara dua Kisam. Semendo dan Pagaralam memang terkenal sebagai sentra kopi terbesar di Sumatera Selatan. Kopi Muaradua kisam, di kabupaten OKU Selatan konon lebih dikenal dalam ”kemasan” kopi lampung. Maklum kawasan perkebunan kopi ini memang terletak di perbatasan Propinsi Sumsel dan Lampung.
   

 

Singkat kata, kopi Pendopo sebenarnya sama saja dengan kopi di sumatera selatan lainnya. Berasal dari jenis kopi robusta. Secara umum rasanya pun seperti kopi sumatera lainnya, cenderung asam.   

 

Yang membedahkannya adalah pada saat kopi ini siap diminum. Jika kopi-kopi pabrikan lain mempromosikan kopi tanpa ampas, maka bersiaplah dengan sensasi nikmatnya ampas pada kopi Pendopo.  Kopi pendopo banyak sekali ampasnya. Dari secangkir kopi, sepertiganya adalah ampas yang mengambang di permukaan cangkir. Tentu saja ini disebabkan karena proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi. Baik pada proses penggorengan biji yang diduga disengaja tidak terlalu garing, juga proses penggilingannya yang disengaja tidak dibikin sangat halus.    

 

Meski begitu, kopi ini memiliki kelezatan yang tak kalah dengan kopi lainnya. Juga wangi. Ampasnya yang terkadang lekat disela gigi meninggalkan sensasi kopi yang berasa asam dan khas.     Sesekali cobalah kenikmatan kopi pendopo. Tanpa perlu takut ada yang memanggil anda dengan cara berseloroh, ”Pagi, Dona…!”*   

 

* potongan sebuah dialog dalam satu iklan kopi pabrikan yang menjual kopi tanpa ampas. * * *

Naik Mokbil Meniti Sepur

Orang-orang Prabumulih dulu, yang sekarang sudah berusia sepuh, membunyikan kata mobil dengan mokbil.  Tidak diketahui kenapa demikian. Anggap saja sama dengan orang jawa dulu menyebut motor dengan montor.


Tapi, gara-gara kekeliruan yang dilakukan dulu sekali, sampai sekarang orang Prabumulih menyebut kereta api sebagai sepur. Ini tentu berasal dari Bahasa Belanda yang berarti rel kereta api. Barangkali karena rambu peringatan yang sering dipasang di perlintasan jalan raya dengan rel kereta api, yang kerap berbunyi: Awas Satu Sepur. Maksudnya, awas rel kereta satu jalur.
Sementara kata penunjuk untuk rel sendiri, oleh masyarakat lokal prabumulih disebut ban sepur. Boleh jadi kata ban yang dimaksud, berasal kata band dari bahasa Belanda. Artinya, pita.


Bahasa Belanda sendiri menyebut kereta api dengan trein.
* * *

Mencari Gunung di Prabumulih

Topografi Prabumulih dan sekitarnya dapatlah dikatakan rata saja. Tanpa pebukitan, lembah, apalagi gunung. Herannya, cobalah berkeliling dan temukan nama-nama gunung di sana. Niscaya ditemukan kampung atau dusun bernama Gunung Ibul, Gunung Kemala, Gunung Raja, Gunung Megang, dan Pagar Gunung.
 * * *

Raja Pulang dan Medan Pertempuran Mati-matian

Banyak yang tidak sepakat jika nama Prabumulih dikaitkan dengan kata prabu dan mulih. Dalam bahasa Jawa, keduanya berarti raja dan pulang. Atau jika dipadukan berarti raja yang pulang atau raja yang kembali.
   

 

Keterangan yang menolak tentang ini menyebutkan, nama prabumulih berasal dari kata: uleh dan pehabung. Yang pada suatu masa dibalik menjadi pehabung dan uleh. Uleh berarti mendapatkan. Pehabung berarti penuh berlimpah. Konon karena lidah orang jepang ketika menduduki kawasan tambang minyak penting ini sulit menyebut pehabong uleh, maka jadilah parabumulih. Pada gilirannya kata ini mengalami penyederhanaan menjadi Prabumulih.   

 

Sementara, kelompok yang menerjemahkan Prabumulih sebagai raja pulang, berpijak pada legenda yang menyebutkan bahwa mahapatih kerajaan Majapahit, Gajahmada, pulang dari perang dan mangkat di Prabumulih. Peristirahatan terakhir sang mahapatih, dipercaya terdapat di Dusun Gunung Ibul. Penanda makam tersebut sebagai makam sang gajamada (yang barangkali dikira sang raja) adalah sebuah bekas tapak kaki berukuran lebih besar dari manusia pada kebanyakan.    Terlepas dari kontroversi tersebut, di sekitar Prabumulih terdapat tempat lain yang memakai nama Prabu. Yaitu, Prabu menang. Sayangnya, dusunlaman tidak memiliki catatan apakah nama prabu tersebut juga berasal dari kata Pehabung.  

 

Lebih lanjut, di Prabumulih terdapat juga tempat bernama Patigalung. Menurut Yulius Hendra dalam suatu obrolan dengan dusunlaman, untuk mengetahui sejarah suatu tempat, dapat dipelajari dari bahasa yang digunakan dalam penamaan tempat. ”Kata patigalung, bukan berasal dari bahasa prabumulih.” Demikian Yulius menerangkan.  Kata pati dan galung, berasal dari bahasa jawa kuno. Pati berarti mati-matian, dan galung berarti medan pertempuran besar. Patut diduga patigalung adalah penamaan untuk tempat dimana telah terjadi pertempuran mati-matian.  Barangkali karena itu, ada Prabu yang Menang dan Prabu yang Mulih?  * * *

Kampung di Pompa Air

Dari stasiun kereta api Prabumulih, jika anda menyusuri rel ke arah Tanjung Karang atau Lubuk Linggau, tak sampai 1 kilometer anda akan bertemu percabangan rel yang memisahkan dua kota tujuan itu. Ketika mulai menyeberangi Sungai Tapus, di sebelah kiri terdapat perkampungan kecil. Namanya Kumpo. Semula bernama Kumpe, yang dalam bahasa Prabumulih berarti Pompa.


  

Dinamakan kampung Kumpo karena dulu memang terdapat sebuah pompa di sana. Pompa air untuk mengisikan air dari sungai ke ketel pada lokomotif tenaga uap. Sekarang meski Sang Kumpe tidak lagi berdiri di sana, lapuk dimakan zaman, kemudian pipa besinya yang bercat gelap telah menjadi barang kiloan, nama kumpe me atau kumpo telah lanjur menjadi nama kampung.

  * * *