Pehabong Uleh - Nice Reviews

nice reviews blog

Aneh Itu Mahal

Biji chestnut yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai kastanye, adalah salah satu nyamikan populer di masyarakat eropa. Jika anda membaca komik Donal Bebek terbitan Disney, buah inilah yang digotong-gotong oleh dua ekor tupai, Kiki dan Koko, yang kerap dikejar-kejar Donal. Dalam komik Donal Bebek terbitan Indonesia, chestnut atau kastanye itu disebut kenari.


Beberapa waktu lalu, mertua saya datang megoleh-olehi sekantong biji kastanye. Tidak dari eropa, melainkan dibeli dari toko buah All Fresh di Jakarta Selatan. Kastenye memiliki kulit biji yang keras dan agak tebal. Bagian yang dapat dimakan sebenarnya adalah daging biji. Rasanya mengingatkan kita pada biji nangka rebus, yang oleh masyarakat jawa biasa disebut biji beton. Mempur dan kedat. Memang menjadikan kastanye sebagai nyamikan, biji kastanye diolah dengan cara direbus atau panggang.


Iseng-iseng saya tanya harganya. ”Terlalu mahal untuk biji beton,” selorohnya ibu mertua saya. ”Apalagi untuk makanan tupai.”  Ia sama sekali tak menyebut harga.


Chestnut mengingatkan saya pada tumbuhan yang saya kenal sejak usia kecil: Petaling (Ochanostachys amentacea). Di samping rumah orang tua saya ada satu pohon petaling. Di kebun buah depan rumah ada tiga batang lagi. Jika sedang berbuah, kami akan memunguti buah petaling berjatuhan di tanah, atau sesekali memanjat. Daging buahnya kami pukul-pukul dengan kayu hingga mengelupas dan hanya tersisa bijinya. Bijinya sebesar kelereng. Biji itu biasanya direbus. Tapi lebih sering kami lemparkan saja ke tumpukan ranting yang dibakar ditengah kebun. Karena cara terakhir itu memberi kami hiburan. Biji-biji itu akan meletup dan berbunyi seperti petasan kecil setelah agak lama terbakar. Adakalanya biji itu ikut terlontar. Dengan begitu kami bisa menandai bahwa biji petaling sudah matang. Mirip dengan cara mengetahui roti panggang sudah matang begitu dilontarkan oleh toaster.


Di pasar Prabumulih, dulu kerap ditemukan pedagang menjual buah petaling.  Baik mentah atau yang sudah direbus. Tapi saat ini, pemandangan itu tak ditemukan lagi. Sebab, pohon ini memang bukanlah jenis yang dibudidayakan secara khusus. Tanaman hutan biasa. Atau jika ditanam, cuma sebagai tanaman tunggu-tungguan di kebun.


Secara berangsur-angsur, pohon ini menjadi langka. Lantaran hutan-hutan kecil di sekitar pemukiman habis ditebangi demi perluasan pemukiman. Pohon petaling juga ditebangi karena kayunya punya kualitas yang baik. Pada skala yang lebih besar hutan-hutan di sekitar Prabumulih dan bahkan Sumsel, juga dikonversi untuk perkebunan besar dan Hutan Tanaman Industri. Pola monokultur seperti pada perkebunan sawit atau HTI akasia juga mendorong laju habisnya pohon petaling.


Padahal, jika boleh berandai-andai… jika petaling masih bisa dibudidayakan kemudian diperkenalkan sebagai bahan nyamikan atau cemilan yang aneh dan sebutlah unik atau apalah, mungkin petaling punya harga yang bagus dan mahal. Tidak lagi cuma… ’secanting selawe’.
* * *

Semua Daerah, Seksi!

Catatan Satu tahun blog dusunlaman 
  Bagian keempat: Semua Daerah, Seksi!   

 

Di media massa (baca: media nasional), pemberitaan mengenai Sumatera Selatan memang mendapat porsi yang sedikit. Bandingkan dengan berita mengenai Papua, Aceh, apalagi Jakarta.   

 

Dalam satu kesempatan, saya sempat berdiskusi ringan seorang aktivis LSM sekaligus praktisi hukum di Palembang. Diskusi ringan itu membahas pertanyaan yang mirip. Kenapa dukungan lembaga internasional lebih banyak mengarah pada isu-isu di daerah-daerah yang sudah disebut di atas?    

 

Kesimpulan teman saya itu: Sumsel tidak seksi!    

 

Maksudnya, seksi pada ranah “isu”. Sumsel tidak memiliki isu yang “menjual”. Tidak ada isu memisahkan diri, tak ada juga isu kerusakan lingkungan sedahsyat isu penambangan emas oleh PT. Freeport Mc Moron. Dan tak sepenting Jakarta, ibukota negara yang penuh dengan bahan berita. Mulai dari perampokan di taksi sampai korupsi di lembaga negara. Dari demonstrasi di Gedung DPR hingga amuk massa di jalan-jalan. Dari ustadz yang aneh hingga artis yang dianggap mempertontonkan kecabulan. Dari kemacetan lalu lintas sampai rencana pembangunan monorel. Pokoknya, di Jakarta segala isu ada. Dan lagi, seksi.   

 

Kiranya pendapat itu bisa diterima. Jika Sumsel saja dianggap tidak seksi, apalagi Prabumulih, sebuah titik kecil saja di propinsi ini. Walau sebenarnya, Prabumulih juga memiliki ragam isu yang sama dengan daerah lain. Isu maupun kasus kerusakan lingkungan, korupsi, pendidikan, pemerintahan, bahkan kelangkaan BBM juga terjadi di kota penghasil minyak dan gas bumi ini.    

 

Memang isu maupun kasus tersebut tidaklah sekrusial yang terdapat di Jakarta, Papua, atau Aceh. Karena tidak besar, maka tidak montok. Karena tidak montok maka tidak pula seksi.  Selain perkara keseksian isu, penyebab lain adalah keterbatasan halaman. Tak banyak koran memberi ruang yang besar untuk berita daerah. Baik rubrik “Nusantara” atau “Nasional” di koran nasional cuma menyediakan satu halaman untuk berita yang datang dari pelbagai pelosok tanah air.   

 

Maka dari itu, berharap berita tentang Prabumulih menghiasi halaman koran nasional nyaris muskil. Kecuali, misalnya pemogokan buruh minyak di sektor produksi yang berdampak pada terhentinya pasokan minyak mentah ke kilang di Plaju dan sungai gerong. Contoh lain, terhentinya kiriman gas bumi ke Pabrik Pupuk Sriwijaya atau berkurangnya gas bumi di stasiun pengukur di Singapura. Atau berita lain yang memang punya kaliber yang luar biasa lainnya.   

 

Jadi, kenapa tidak membuat media sendiri ? Prabumulih punya kekayaan budaya yang khas, punya potensi alam yang berlimpah, punya nilai strategis lainnya. Dan saya percaya bahwa setiap daerah itu, seksi!* * *

Dusunlaman, Mengapa Prabumulih [#3]?

Catatan Satu tahun blog dusunlaman 
  

 

Bagian ketiga: Mengapa Blog?   

 

Terus terang, mengapa media komunikasi dan pertukaran informasi seputar Prabumulih ini memilih blog, karena alasan kepraktisan belaka. 

 

 

Ya, blog adalah media paling praktis yang bisa dimanfaatkan. Blog, sebagai salah satu terapan teknologi internet, tidaklah sesukar membangun website “betulan”. Tanpa memiliki kemampuan tentang desain web (webdesain) dan tanpa menguasai bahasa HTML, setiap orang sudah mampu membuat blog. Situs penyedia layanan blog semacam http://blog.com yang dimanfaatkan oleh dusunlaman, sudah menyediakan desain dan template yang disediakan. Modal utama ketika memulai blog ini hanyalah kesediaan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disediakan oleh blog ini, secara teliti.  

 

 

Sementara, blog menawarkan daya jangka yang sangat luas. Media dalam bentuk blog bisa dibaca oleh pembaca di mana saja, tanpa sanggup dibatasi oleh jarak dan batasan-batasan administratif. Kendalanya hanyalah ketersediaan akses berinternet.  Alasan yang juga penting adalah, murah! Ruang blog disediakan gratis oleh situs penyedia layanan blog. Biaya yang dikeluarkan hanya biaya berinternet.  

 

Rasanya tidak terbayang, jika membangun dusunlaman dalam bentuk “buletin kecil” saja. Yang sudah pasti membutuhkan biaya untuk membeli kertas, tinta, biaya fotokopi, dan tentu saja biaya penyebaran untuk daya jangkau yang sangat terbatas. * * *

Makan Tahi, Mmm…

Anda mungkin kaget dengan judul di atas. Tapi memang tahi itu enak. Tentu tahi yang saya maksud bukanlah tinja, kotoran, feses, atau shitt.

 

tahi7Melainkan buah tahi.
  Tahi ini adalah nama lokal Prabumulih untuk tumbuhan yang bernama latin Curculigo latifolia. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama parasi, marasi, atau terasi-terasian.

 

   

tahi4Buahnya gemuk dan lancip seperti pacet kenyang. Ukurannya juga sepacet, sedikit lebih besar dari biji kacang tanah. Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru, berwarna putih keabuan. Daging buahnya putih. Biji-biji hitam di dalam buah membuat daging buah menjadi tampak berbintik-bintik, seperti daging buah jenis-jenis berry, atau buah naga.   

 

tahi2Tumbuhan tahi banyak ditemukan tumbuh di tepian sungai atau di hutan sekunder (misalnya, kebun karet tua). Jenis tumbuhan ini mudah dikenali karena bentuknya yang mirip bibit kelapa. Dari pangkal yang dekat tanah, muncul bunga berwarna kuning. Setiap bunga memiliki enam kelopak. Di sana pula buahnya ditemukan bergerombol. Di masa kecil saya, buah tahi adalah salah satu favorit saya. Demi mencari buah tahi, saya seringkali tiarap dan menyelinap di bawah pohon seperti babi hutan. Grusssaak!  Rasanya manis dan sedikit asam. Sehabis makan buah tahi, rasa manisnya melekat di lidah dalam waktu agak lama. Sehingga, jika kita minum air putih setelah memakan buah tahi, air yang tawar jadi terasa manis. Minum air jeruk pun, efek manis yang ditinggalkan buah tahi pun menyamarkan rasa asam jeruk.

 

  tahi1Hasil penelitian menyebutkan bahwa rasa manis itu berasal dari curculin, ekstrak protein yang memberikan rasa manis. Protein manis dapat menjadi gula alternatif yang cocok untuk mencegah diabetis atau kencing manis. Buah ini dipercaya memiliki banyak khasiat, di antaranya mengurangi panas dalam dan sakit kepala. 

* * *

Dusunlaman, Mengapa Prabumulih [#2]?

Catatan Satu tahun blog dusunlaman


Bagian Kedua: Prabumulih di Peta Informasi


Berita tentang Prabumulih terkini, tentu bisa diakses melalui koran daerah di Sumsel. Baik Sriwijaya Post (Sripo), Sumatera Ekspress (Sumeks), Transparan, bahkan Palembang Pos. Sumatera Ekspress bahkan memberikan porsi lebih melalui “suplemen” khusus, Prabumulih Pos. Tapi bagi warga Prabumulih yang merantau, tentu saja kesulitan mengakses informasi tersebut.


Beruntung, koran sumsel terebut juga menyediakan versi online yang bisa diakses melalui internet. Selain Sripo dan Sumeks, Palembang Post juga pernah menyediakan versi online. Sayangnya, pada sumeks online, tidak menyertakan Prabumulih Postnya. Tentu saja, karena keterbatasan halaman maka terbatas pula porsi untuk berita lokal Prabumulih. Harapan lainnya adalah, siapa tahu koran nasional memuat satu berita tentang prabumulih. Ini jarang sekali terjadi.


Seiring dengan isyu e-government, Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih pun tidak mau ketinggalan. Maka dibangunlah situs atau web Pemkot Prabumulih. Lazimnya, sebuah situs milik pemerintahan di Indonesia, situs ini tampaknya hanya menyajikan berita seputar program pembangunan dan liputan seremonial di lingkungan Pemkot saja.


Beberapa waktu yang lalu, situs yang beralamat di http://kotaprabumulih.go.id ini tidak bisa diakses lagi.


Sebelum sampai pada masa “ditutupnya” situs pemkot tersebut, keinginan untuk menyediakan ruang bagi catatan-catatan kecil tentang prabumulih lahir. Maka, dengan keterbatasan sumberdaya, terbitlah dusunlaman ini.


Kenapa pilihannya adalah blog? Nantikan catatan berikutnya.
* * *