Februari 03, 2006

Nanas Prabumulih

 

Barangkali di Jakarta orang lebih mengenalnya sebagai “Nanas Palembang”. Maka saya mahfum ketika membaca keterangan yang bertuliskan Nanas Palembang di atas tumpukan nanas di swalayan khusus buah “Al Fresh”, jl. Panglima Polim Jakarta Selatan. Padahal, saya yakin nanas itu didatangkan dari Prabumulih.

Prabumulih selain dikenal sebagai kota minyak, memang juga dikenal sebagai kota nanas. Nanas dibudidayakan secara tradisional. Saat huma-huma (ladang) baru dibuka untuk meremajakan kebun karet, nanas turut ditanam. Nanas ditanam membentuk lajur-lajur. Biasanya tanaman karet ditanam berkelang diantara lajur-lajur itu. Satu lajur ditanami karet yang berderet, satu lajur lagi tidak, dan demikian seterusnya. Selain nanas dan karet, petani juga membudidayakan padi lokal.

Tanaman karet diharapkan menjadi sumber pencaharian setelah kareta berumur 7 tahun. Pada umur 7 tahun, umumnya karet sudah dapat diambil lateksnya dengan cara di takok (disadap).  Padi adalah tanaman pangan yang hanya diusahakan pada dua kali penanaman. Pertama pada saat huma baru dibuka (ume himbe), dan pada musim tanam di tahun berikutnya (ume punggas). Setelah tahun kedua itu huma sudah ditinggalkan, dan petani sudah membuka huma baru lagi.

Sementara, nanas tergolong sebagai tanaman sekunder, yang ditanam sebagai “tunggu-tungguan” menjelang huma ditinggalkan. Hasil bertanam nanas berupa buah dimaksudkan sebagai sumber penghasilan tambahan selain padi.

Meski nanas hanya dibudidayakan sebagai tunggu-tungguan, buah ini kemudian menjadi maskot kota prabumulih. Tentu bukan cuma karena produksinya berlimpah. Tapi juga karena nanas prabumulih terkenal manis. Hingga terkenal di kota-kota di pulau Jawa.

* * *

Posted by chan/syam at 12:52:11 | Permanent Link | Comments (3) |

May 28, 2005

Warga Tuntut PT PGN Bayar Ganti Rugi Lahan

PALEMBANG -- Rencana pembangunan proyek transmisi gas bumi atau pipa gas dari Sumatera Selatan (Sumsel)-Banten mulai memicu masalah. Di Sumsel, sekitar 1.000 warga dari enam kecamatan, Selasa (26/4), berunjuk rasa ke kantor PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk distrik Palembang di Jl Merdeka.

Warga yang berasal dari Kecamatan Rambang Lumbai, Prabumulih, Lembak, Cambai, Sungairotan, dan Gelumbang berunjuk rasa menuntut BUMN yang akan membangun pipa transmisi gas dari Sumsel ke Banten dengan harga yang wajar. Menurut warga, selama ini PT PGN -- yang diwakili tim sembilan -- menetapkan harga tanah mereka sangat rendah, yaitu Rp 1.000/m2 untuk tanah rawa, Rp 2.000/m2 untuk sawah, dan Rp 2.750/m2 untuk kebun. Warga menuntut PT PGN Tbk membayar ganti rugi diatas harga Rp 10 ribu/m2.

''Penentuan harga ganti rugi itu tidak melalui negosiasi dengan pemilik lahan, sehingga masyarakat pemilik lahan merasa dirugikan. Warga juga minta PT PGN segera melakukan pengukuran dan pengecekan secara benar dan transparan terhadap lahan dan tanaman tumbuh di lahan warga,'' kata Aspihani, koordinator aksi.

(sumber: Republika Online, Rabu, 27 April 2005)

Posted by chan/syam at 04:33:52 | Permanent Link | Comments (0) |