Nanas Prabumulih
Barangkali di Jakarta orang lebih mengenalnya sebagai “Nanas Palembang”. Maka saya mahfum ketika membaca keterangan yang bertuliskan Nanas Palembang di atas tumpukan nanas di swalayan khusus buah “Al Fresh”, jl. Panglima Polim Jakarta Selatan. Padahal, saya yakin nanas itu didatangkan dari Prabumulih.
Prabumulih selain dikenal sebagai kota minyak, memang juga dikenal sebagai kota nanas. Nanas dibudidayakan secara tradisional. Saat huma-huma (ladang) baru dibuka untuk meremajakan kebun karet, nanas turut ditanam. Nanas ditanam membentuk lajur-lajur. Biasanya tanaman karet ditanam berkelang diantara lajur-lajur itu. Satu lajur ditanami karet yang berderet, satu lajur lagi tidak, dan demikian seterusnya. Selain nanas dan karet, petani juga membudidayakan padi lokal.
Tanaman karet diharapkan menjadi sumber pencaharian setelah kareta berumur 7 tahun. Pada umur 7 tahun, umumnya karet sudah dapat diambil lateksnya dengan cara di takok (disadap). Padi adalah tanaman pangan yang hanya diusahakan pada dua kali penanaman. Pertama pada saat huma baru dibuka (ume himbe), dan pada musim tanam di tahun berikutnya (ume punggas). Setelah tahun kedua itu huma sudah ditinggalkan, dan petani sudah membuka huma baru lagi.
Sementara, nanas tergolong sebagai tanaman sekunder, yang ditanam sebagai “tunggu-tungguan” menjelang huma ditinggalkan. Hasil bertanam nanas berupa buah dimaksudkan sebagai sumber penghasilan tambahan selain padi.
Meski nanas hanya dibudidayakan sebagai tunggu-tungguan, buah ini kemudian menjadi maskot kota prabumulih. Tentu bukan cuma karena produksinya berlimpah. Tapi juga karena nanas prabumulih terkenal manis. Hingga terkenal di kota-kota di pulau Jawa.
* * *



Komentar terakhir
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora