Albani (mungkin) sudah cukup ngetop, lantaran salah satu lagu yang dia tulis Seinggok Sepemunyian menjadi seharusnya sudah cukup dikenal di masyarakat
kota Prabumulih. Di pasaran sudah bisa ditemukan kepingan compact disc (cd) lagu-lagu daerah yang tiga judul adalah lagu ciptaan Albani.
Albani di usia sekitar 35 tahun semestinya sudah agak tenang jika mendapat penghasilan dari royalti lagu ciptaannya. Tapi lelaki dari dusun Prabumulih yang cukup berumur ini masih terlihat menghisap kretek cap Subur. Jika malam datang dia masih mengasah pahat penyadap karetnya, ketika subuh dia berangkat ke kebun karetnya.
Tapi keping cd itu adalah proyek thank you, alias Albani dan beberapa penulis lagu lain hanya dibayar ucapan terima kasih. Jika tidak demikian, Albani yang hanya dibayar "terima kasih". Kepingan cd tersebut di produksi dan dipublikasikan oleh Dinas Pendidikan Nasional Pemerintah Kota Prabumulih.
Sebagai seniman, barangkali Albani bukan termasuk seniman yang mengedepankan kepentingan profit. Dia tidak begitu mempedulikan persoalan proyek "thank you" tersebut. Tapi ini soal eksistensi, Bung! Tentang pengakuan bahwa lagu tersebut bisa dinyanyikan, direkam, dijual, dibeli, diputar, didengar, karena ada yang mengarangnya, ada proses kreatif berkesenian, ada semangat dan energi berkarya yang dorong-mendorong, ada kerja intelektual, ada kemampuan yang tidak dimiliki semua orang. Pendek kata, ada lagu-lagu Albani, ya karena Albani ada.
Ini terjadi ketika ada lomba menyanyikan lagu (salah satunya lagu Albani) oleh instansi tertentu di Prabumulih. Boro-boro Albani didatangi atau diminta kesediaannya agar lagunya boleh dilombakan. Diminta hadir dalam proses lomba pun, tidak. Masih untung, akhirnya diundang ketika penyerahan hadiah bagi pemenang. Kelewatan!
Secara pribadi, saya tabik dengan semangat kesenian Albani. Dalam satu kesempatan, pada satu larut malam, dia mengatakan akan terus berkarya. Karyanya barangkali tak akan jauh dari aktifitas kesehariannya; menyadap getah, berkebun, kearifan lokal masyarakat petani Prabumulih, atau potret budaya dan kehidupan tradisional lainnya. Saya tabik karena tidak banyak seniman yang seperti dia dalam arti konsisten mengembangkan lagu-lagu daerah. Dia adalah aset Prabumulih, karyanya mampu melindungi dan menjadi stimulan ketahanan budaya lokal.
Albani, secara relatif bisa saja atau barangkali cukup puas --tentu dalam tafsiran subjektifitas penulis. Kepuasan itu ada pada karya seninya diterima masyarakat. Tapi tetap saja kepada para pengerat atas karyanya, dia telah dizalimi.
[Mangga Besar, Jakarta Pusat, 22.07.04]
Komentar terakhir
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora