Januari 06, 2006

HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe, Bag: 3]

HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe, Bag: 3]

Bagian III: Jakarta Coret

 

Setiap kehidupan dimulai oleh bebauan. Begitupun dengan siang ini.

Iklim tanah tinggi masih terasa dingin yang malas. Tapi ada bebauan yang sangat aku kenal. Aroma yang membelai-belai hidung, yang kemudian merangsang saraf-saraf mengirim sinyal ke otak. Aroma yang amat kukenali. Otakku sepertinya berteriak dan memerintah darah mengalir lebih tak tenang. Bangun!

Aroma kopi yang amat akrab. Kopi dari kaki gunung dempo. Itulah yang menyadarkanku dari tidur siang yang pegal tetapi pulas.

“Bangun…! Welcome to Jakarta. Ngopi dulu!”

Aku mengenal suara itu. Suara Hoirul. Dan, saat kubalikkan tubuh, kudapati sosoknya yang sibuk menata cangkir dengan uap yang mengalirkan aroma kopi. Aku melompat bangun dan langsung merangkul tubuh sahabatku itu. Deni juga terbangun merangkul Hoirul, kemudian Deni kembali merebahkan badan, seolah istirahat sebentar sembari menunggu kepulangan Hoirul belumlah cukup. Sementara Rizal tampak masih telelap, dengan nafas teratur yang berat.

“Ini bukan Jakarta. Ini Bogor, kawaaan...! Jakarta Coret!” Bantahku sekenanya.

“Jadi juga ke Jakarta, hehe. Maaf, aku bohong tentang keadaanku. Itu supaya kalian mau kesini.” Hoirul berkata sambil cengar-cengir. Ia membakar rokok dan menyodorkan kotak rokok filternya padaku. Aku mencabut sebatang dan segera menyalakan korek. Ditemani hembusan asap rokok, sebuah reuni hikmat berlangsung.

Cerita lama diceritakan kembali dengan semangat. Seolah cerita itu belum pernah kami dengar sebelumnya. Bahkan hal kecil seperti tentang rokok yang kami hisap, yang di masa kuliah kami sering joint merokok. Yaitu, sebatang rokok berdua.

“Omong-omong, kamu kerja dimana?” Tanyaku.

Tuh! Di pabrik depan.” Hoirul menunjuk dengan bibirnya ke arah yang dia maksud.

Hoirul kemudian bercerita, bahwa ia melamar kerja disana dengan menggunakan ijasah SMA. Karena lowongan untuk sarjana belum tersedia.

“Dua bulan disini, aku sudah melamar ke banyak perusahaan. Tapi, baru ini yang bisa kudapat. Kuambil dulu untuk bertahan hidup. Sekaligus batu loncatan.” Kata Hoirul enteng. Jemarinya gelisah memutar-mutar rokok.

“Sengaja aku kirim surat agar kau kesini berjuang cari kerja. Kalo mengandalkan cari kerja di Palembang atau di kampungmu Prabumulih, susah mau jadi kaya.” Kali ini nada suara dan ekspresi muka Hoirul kelihatan serius.

Saat itulah aku sadar bahwa, isi surat-surat Hoirul yang mengimingi keindahan dan kemudahan mencari kerja di Jakarta, hanyalah angin surga. Di bawah lampu kostnya yang temaram, Hoirul tersenyum menjelaskan.” Aku memang menipumu! Tahu kenapa?!”

Aku menggeleng. Pertanyaannya malah menumbuhkan bibit kemarahanku yang siap meledak kapan saja.

“Kalau kamu tidak keluar dari rumah, kalau kamu tidak keluar dari Prabumulih dan lingkungan lamamu itu, aku kuatir kamu jadi pengangguran permanen!”

Aku diam saja. Sebenarnya aku tak mau menjawabnya sekarang. Hanya akan meledakkan kemarahan yang hampir terkumpul. Tapi kemudian setelah mengambil nafas panjang, aku mau menanggapinya.

“Ya, ‘Ce.” Aku mengangguk. ‘Ce, adalah panggilanku kepada teman dekatku. Bunyi ‘Ce merupakan penggalan dari kata “Kance”, yang dalam bahasa sumsel berarti kawan. “Aku pun sudah berkali kali melamar bekerja di perusahaan perusahaan minyak di Prabumulih. Jangankan diterima, dipanggil pun tidak.” Jawabku skeptis dan kembali men coba menyenderkan badan ke dinding bilik bambu. Tulang belakangku seolah lemas dan siap runtuh satu persatu.

“Ok, kawan! Mari kita taklukan Jakarta!” Tiba-tiba Deni angkat bicara bangun dari tidurnya dan langsung menyambar secangkir kopi hangat yang telah disiapkan Hoirul.

“Mabuk, ‘Ce?! Celetuk Hoirul. Aku dan hoirul tertawa melihat kelakuan Deni. Akibat tawa keras kami, Rizal ikut terbangun. Akhirnya kami berempat terlibat pembicaraan serius tentang format masa depan dan sesekali menyelinginya dengan bernostalgia mengingat saat bersama di bangku kuliah.

[Bersambung…]

* * *

Posted by chan/syam at 04:29:38 | Permanent Link | Comments (46) |

Desember 05, 2005

HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe, bag: 2]

Bagian II: Perjalanan Ke Timur

 

 

 

Ajakan seorang sahabat untuk mencari kerja ke Jakarta terngiang-ngiang kembali. Kota itu menjanjikan berjuta pesona dan harapan kesuksesan. Lalu secepatnya kuputuskan melayangkan surat ke sahabatku itu, Hoirul. Kutanyakan Jakarta dan peluangnya. Maklum, aku juga harus hati hati melangkah kesana. Sebab banyak cerita, jika salah melangkah salah hitung dan salah langkah di Jakarta, acapkali keterpaksaan menjebak seseorang masuk dunia kriminal.

Sekitar dua minggu surat balasan datang. Maklum, waktu itu teknologi kirim SMS atau email. Dan, biaya telpon sangat mahal. Lagipula, tempat tinggal Hoirul tak punya telpon. Jadi komunikasi kami hanya mengandalkan surat.

Isi surat Hoirul membuatku manggut-manggut sambil berfikir. “Hhmm, ternyata cari kerja di Jakarta gampang sekali,” Gumamku. “Kenapa tidak dari kemarin-kemarin. Hehe! Tunggulah… I’m Coming!

Kusiapkan materi dan mental untuk segera berangkat. Seorang paman kumintai uangnya. Bibiku yang pernah berjanji akan memberi modal juga kutagih janjinya. Begitu uang yang kurasa cukup untuk mengongkosiku perjalanan dan biaya hidup untuk beberapa minggu di Jakarta, kuhubungi teman-teman kuliah. Siapa tahu ada mau ikut bergabung ke Jakarta. Dua orang teman tergiur menyatakan untuk ikut. Deni, dan Rizal.

Dua hari sebelum bulan Ramadhan, 1995, perjalanan pun dimulai...

 

KLIK READ MORE untuk melanjutkan baca!

Posted by chan/syam at 06:02:34 | Permanent Link | Comments (0) |

November 22, 2005

HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe]

Bagian Pertama: Gagal

 

Surat dari sahabatku, Hoirul, kuterima. “Thar, segera ke Jakarta! Ada lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan electronic terkemuka,” Tulisnya.

 

Kubaca bolak balik surat dari sahabatku itu. Pikiran ku melayang jauh. Haruskah mencari kerja ke Jakarta? Belum hilang rasanya penat menuntut ilmu di rantau orang. Ingin kunikmati dulu masa masa rileks  untuk refressing otak. Rasanya otakku sudah jenuh dijejali rumus2 fhisika, kimia, mathematika dan ilmu elektro yang jadi mata kuliah utamaku. Mulai dari rumus Hukum Kirchoff, Albert Einstain sampai dengan rumus mendisain network milik Akamura Hatta, tiap hari dijejalkan.

 

Jakarta, kota metropolis yang sangat sombong bathinku berbisik. Tidakkah ada lowongan pekerjaan untukku dikota kelahiran atau di ibukota propinsiku? Kembali pertanyaan pertanyaan bodoh muncul diotak ku. Aku termenung sambil mengilasbalik saat wisuda. Khayalan melayang ke momen yang sangat bersejarah tersebut. Dengan senyum bangga  memegang ijazah dan dengan toga yang topinya sudah digeser ke kanan.

 

Aku akan jadi orang besar bisik batinku. Apa yang terjadi setelah diwisuda? Aku merasa menjadi seorang pengangguran intelek yang tiap hari bolak balik mencari, membaca koran dan majalah yang menawarkan lowongan pekerjaan.

 

Sebulan setelah wisuda aku mengikuti tes untuk sebuah perusahaan asing yang menawarkan lowongan ke kampusku. Kira-kira dua minggu kemudian, aku ikut tes penerimaan karyawan untuk sebuah industri pengolahan kayu di Jambi. Tapi panggilan kerja belum juga datang. Ataukah waktunya yang masih terlalu pendek untuk proses seleksi karyawan, Kembali bathinku bergumam.

Aku tersentak saat ibu ku memanggil, ”Thar, ada surat dari perusaahaan yang kamu lamar kemaren,” Suara ibu membuyarkan lamunanku. Surat itu segera kusambar dan kubaca tergesa.

Tenk! Kepalaku berputar lebih cepat saat terbaca tulisan “Posisi yang anda lamar belum ada di perusahaan kami. Data anda sudah kami simpan dan akan kami gunakan saat dibutuhkan.” Halus sekali kalimat tersebut, tapi artinya dalam. Lemas kulipat surat itu.

 

“Bagaimana?” Tanya ibuku.

“Gagal,” Kujawab pertanyaan ibu sambil berlalu ke kamar. Ada perasaan kecewa yang berkecamuk di hati dan pikiran. Karena aku yakin sekali untuk diterima. Perasaan itulah yang membuat aku jadi terpukul.

[bersambung]

* * *

 

Posted by chan/syam at 06:41:31 | Permanent Link | Comments (0) |