HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe, Bag: 3]

HIJRAH [Memoar Atharis S Prayoe, Bag: 3]
Bagian III: Jakarta Coret
Setiap kehidupan dimulai oleh bebauan. Begitupun dengan siang ini.
Iklim tanah tinggi masih terasa dingin yang malas. Tapi ada bebauan yang sangat aku kenal. Aroma yang membelai-belai hidung, yang kemudian merangsang saraf-saraf mengirim sinyal ke otak. Aroma yang amat kukenali. Otakku sepertinya berteriak dan memerintah darah mengalir lebih tak tenang. Bangun!
Aroma kopi yang amat akrab. Kopi dari kaki gunung dempo. Itulah yang menyadarkanku dari tidur siang yang pegal tetapi pulas.
“Bangun…! Welcome to Jakarta. Ngopi dulu!”
Aku mengenal suara itu. Suara Hoirul. Dan, saat kubalikkan tubuh, kudapati sosoknya yang sibuk menata cangkir dengan uap yang mengalirkan aroma kopi. Aku melompat bangun dan langsung merangkul tubuh sahabatku itu. Deni juga terbangun merangkul Hoirul, kemudian Deni kembali merebahkan badan, seolah istirahat sebentar sembari menunggu kepulangan Hoirul belumlah cukup. Sementara Rizal tampak masih telelap, dengan nafas teratur yang berat.
“Ini bukan Jakarta. Ini Bogor, kawaaan...! Jakarta Coret!” Bantahku sekenanya.
“Jadi juga ke Jakarta, hehe. Maaf, aku bohong tentang keadaanku. Itu supaya kalian mau kesini.” Hoirul berkata sambil cengar-cengir. Ia membakar rokok dan menyodorkan kotak rokok filternya padaku. Aku mencabut sebatang dan segera menyalakan korek. Ditemani hembusan asap rokok, sebuah reuni hikmat berlangsung.
Cerita lama diceritakan kembali dengan semangat. Seolah cerita itu belum pernah kami dengar sebelumnya. Bahkan hal kecil seperti tentang rokok yang kami hisap, yang di masa kuliah kami sering joint merokok. Yaitu, sebatang rokok berdua.
“Omong-omong, kamu kerja dimana?” Tanyaku.
“Tuh! Di pabrik depan.” Hoirul menunjuk dengan bibirnya ke arah yang dia maksud.
Hoirul kemudian bercerita, bahwa ia melamar kerja disana dengan menggunakan ijasah SMA. Karena lowongan untuk sarjana belum tersedia.
“Dua bulan disini, aku sudah melamar ke banyak perusahaan. Tapi, baru ini yang bisa kudapat. Kuambil dulu untuk bertahan hidup. Sekaligus batu loncatan.” Kata Hoirul enteng. Jemarinya gelisah memutar-mutar rokok.
“Sengaja aku kirim surat agar kau kesini berjuang cari kerja. Kalo mengandalkan cari kerja di Palembang atau di kampungmu Prabumulih, susah mau jadi kaya.” Kali ini nada suara dan ekspresi muka Hoirul kelihatan serius.
Saat itulah aku sadar bahwa, isi surat-surat Hoirul yang mengimingi keindahan dan kemudahan mencari kerja di Jakarta, hanyalah angin surga. Di bawah lampu kostnya yang temaram, Hoirul tersenyum menjelaskan.” Aku memang menipumu! Tahu kenapa?!”
Aku menggeleng. Pertanyaannya malah menumbuhkan bibit kemarahanku yang siap meledak kapan saja.
“Kalau kamu tidak keluar dari rumah, kalau kamu tidak keluar dari Prabumulih dan lingkungan lamamu itu, aku kuatir kamu jadi pengangguran permanen!”
Aku diam saja. Sebenarnya aku tak mau menjawabnya sekarang. Hanya akan meledakkan kemarahan yang hampir terkumpul. Tapi kemudian setelah mengambil nafas panjang, aku mau menanggapinya.
“Ya, ‘Ce.” Aku mengangguk. ‘Ce, adalah panggilanku kepada teman dekatku. Bunyi ‘Ce merupakan penggalan dari kata “Kance”, yang dalam bahasa sumsel berarti kawan. “Aku pun sudah berkali kali melamar bekerja di perusahaan perusahaan minyak di Prabumulih. Jangankan diterima, dipanggil pun tidak.” Jawabku skeptis dan kembali men coba menyenderkan badan ke dinding bilik bambu. Tulang belakangku seolah lemas dan siap runtuh satu persatu.
“Ok, kawan! Mari kita taklukan Jakarta!” Tiba-tiba Deni angkat bicara bangun dari tidurnya dan langsung menyambar secangkir kopi hangat yang telah disiapkan Hoirul.
“Mabuk, ‘Ce?! Celetuk Hoirul. Aku dan hoirul tertawa melihat kelakuan Deni. Akibat tawa keras kami, Rizal ikut terbangun. Akhirnya kami berempat terlibat pembicaraan serius tentang format masa depan dan sesekali menyelinginya dengan bernostalgia mengingat saat bersama di bangku kuliah.
[Bersambung…]
* * *


Komentar terakhir
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora