May 22, 2006

Aneh Itu Mahal

Biji chestnut yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai kastanye, adalah salah satu nyamikan populer di masyarakat eropa. Jika anda membaca komik Donal Bebek terbitan Disney, buah inilah yang digotong-gotong oleh dua ekor tupai, Kiki dan Koko, yang kerap dikejar-kejar Donal. Dalam komik Donal Bebek terbitan Indonesia, chestnut atau kastanye itu disebut kenari.


Beberapa waktu lalu, mertua saya datang megoleh-olehi sekantong biji kastanye. Tidak dari eropa, melainkan dibeli dari toko buah All Fresh di Jakarta Selatan. Kastenye memiliki kulit biji yang keras dan agak tebal. Bagian yang dapat dimakan sebenarnya adalah daging biji. Rasanya mengingatkan kita pada biji nangka rebus, yang oleh masyarakat jawa biasa disebut biji beton. Mempur dan kedat. Memang menjadikan kastanye sebagai nyamikan, biji kastanye diolah dengan cara direbus atau panggang.


Iseng-iseng saya tanya harganya. ”Terlalu mahal untuk biji beton,” selorohnya ibu mertua saya. ”Apalagi untuk makanan tupai.”  Ia sama sekali tak menyebut harga.


Chestnut mengingatkan saya pada tumbuhan yang saya kenal sejak usia kecil: Petaling (Ochanostachys amentacea). Di samping rumah orang tua saya ada satu pohon petaling. Di kebun buah depan rumah ada tiga batang lagi. Jika sedang berbuah, kami akan memunguti buah petaling berjatuhan di tanah, atau sesekali memanjat. Daging buahnya kami pukul-pukul dengan kayu hingga mengelupas dan hanya tersisa bijinya. Bijinya sebesar kelereng. Biji itu biasanya direbus. Tapi lebih sering kami lemparkan saja ke tumpukan ranting yang dibakar ditengah kebun. Karena cara terakhir itu memberi kami hiburan. Biji-biji itu akan meletup dan berbunyi seperti petasan kecil setelah agak lama terbakar. Adakalanya biji itu ikut terlontar. Dengan begitu kami bisa menandai bahwa biji petaling sudah matang. Mirip dengan cara mengetahui roti panggang sudah matang begitu dilontarkan oleh toaster.


Di pasar Prabumulih, dulu kerap ditemukan pedagang menjual buah petaling.  Baik mentah atau yang sudah direbus. Tapi saat ini, pemandangan itu tak ditemukan lagi. Sebab, pohon ini memang bukanlah jenis yang dibudidayakan secara khusus. Tanaman hutan biasa. Atau jika ditanam, cuma sebagai tanaman tunggu-tungguan di kebun.


Secara berangsur-angsur, pohon ini menjadi langka. Lantaran hutan-hutan kecil di sekitar pemukiman habis ditebangi demi perluasan pemukiman. Pohon petaling juga ditebangi karena kayunya punya kualitas yang baik. Pada skala yang lebih besar hutan-hutan di sekitar Prabumulih dan bahkan Sumsel, juga dikonversi untuk perkebunan besar dan Hutan Tanaman Industri. Pola monokultur seperti pada perkebunan sawit atau HTI akasia juga mendorong laju habisnya pohon petaling.


Padahal, jika boleh berandai-andai... jika petaling masih bisa dibudidayakan kemudian diperkenalkan sebagai bahan nyamikan atau cemilan yang aneh dan sebutlah unik atau apalah, mungkin petaling punya harga yang bagus dan mahal. Tidak lagi cuma... ’secanting selawe’.
* * *

Posted by chan/syam at 04:12:23 | Permanent Link | Comments (3) |

May 18, 2006

Semua Daerah, Seksi!

Catatan Satu tahun blog dusunlaman    Bagian keempat: Semua Daerah, Seksi!   

 

Di media massa (baca: media nasional), pemberitaan mengenai Sumatera Selatan memang mendapat porsi yang sedikit. Bandingkan dengan berita mengenai Papua, Aceh, apalagi Jakarta.   

 

Dalam satu kesempatan, saya sempat berdiskusi ringan seorang aktivis LSM sekaligus praktisi hukum di Palembang. Diskusi ringan itu membahas pertanyaan yang mirip. Kenapa dukungan lembaga internasional lebih banyak mengarah pada isu-isu di daerah-daerah yang sudah disebut di atas?    

 

Kesimpulan teman saya itu: Sumsel tidak seksi!    

 

Maksudnya, seksi pada ranah “isu”. Sumsel tidak memiliki isu yang “menjual”. Tidak ada isu memisahkan diri, tak ada juga isu kerusakan lingkungan sedahsyat isu penambangan emas oleh PT. Freeport Mc Moron. Dan tak sepenting Jakarta, ibukota negara yang penuh dengan bahan berita. Mulai dari perampokan di taksi sampai korupsi di lembaga negara. Dari demonstrasi di Gedung DPR hingga amuk massa di jalan-jalan. Dari ustadz yang aneh hingga artis yang dianggap mempertontonkan kecabulan. Dari kemacetan lalu lintas sampai rencana pembangunan monorel. Pokoknya, di Jakarta segala isu ada. Dan lagi, seksi.   

 

Kiranya pendapat itu bisa diterima. Jika Sumsel saja dianggap tidak seksi, apalagi Prabumulih, sebuah titik kecil saja di propinsi ini. Walau sebenarnya, Prabumulih juga memiliki ragam isu yang sama dengan daerah lain. Isu maupun kasus kerusakan lingkungan, korupsi, pendidikan, pemerintahan, bahkan kelangkaan BBM juga terjadi di kota penghasil minyak dan gas bumi ini.    

 

Memang isu maupun kasus tersebut tidaklah sekrusial yang terdapat di Jakarta, Papua, atau Aceh. Karena tidak besar, maka tidak montok. Karena tidak montok maka tidak pula seksi.  Selain perkara keseksian isu, penyebab lain adalah keterbatasan halaman. Tak banyak koran memberi ruang yang besar untuk berita daerah. Baik rubrik “Nusantara” atau “Nasional” di koran nasional cuma menyediakan satu halaman untuk berita yang datang dari pelbagai pelosok tanah air.   

 

Maka dari itu, berharap berita tentang Prabumulih menghiasi halaman koran nasional nyaris muskil. Kecuali, misalnya pemogokan buruh minyak di sektor produksi yang berdampak pada terhentinya pasokan minyak mentah ke kilang di Plaju dan sungai gerong. Contoh lain, terhentinya kiriman gas bumi ke Pabrik Pupuk Sriwijaya atau berkurangnya gas bumi di stasiun pengukur di Singapura. Atau berita lain yang memang punya kaliber yang luar biasa lainnya.   

 

Jadi, kenapa tidak membuat media sendiri ? Prabumulih punya kekayaan budaya yang khas, punya potensi alam yang berlimpah, punya nilai strategis lainnya. Dan saya percaya bahwa setiap daerah itu, seksi!* * *
Posted by chan/syam at 08:30:01 | Permanent Link | Comments (5) |

May 05, 2006

Dusunlaman, Mengapa Prabumulih [#3]?

Catatan Satu tahun blog dusunlaman    

 

Bagian ketiga: Mengapa Blog?   

 

Terus terang, mengapa media komunikasi dan pertukaran informasi seputar Prabumulih ini memilih blog, karena alasan kepraktisan belaka. 

 

 

Ya, blog adalah media paling praktis yang bisa dimanfaatkan. Blog, sebagai salah satu terapan teknologi internet, tidaklah sesukar membangun website “betulan”. Tanpa memiliki kemampuan tentang desain web (webdesain) dan tanpa menguasai bahasa HTML, setiap orang sudah mampu membuat blog. Situs penyedia layanan blog semacam http://blog.com yang dimanfaatkan oleh dusunlaman, sudah menyediakan desain dan template yang disediakan. Modal utama ketika memulai blog ini hanyalah kesediaan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disediakan oleh blog ini, secara teliti.  

 

 

Sementara, blog menawarkan daya jangka yang sangat luas. Media dalam bentuk blog bisa dibaca oleh pembaca di mana saja, tanpa sanggup dibatasi oleh jarak dan batasan-batasan administratif. Kendalanya hanyalah ketersediaan akses berinternet.  Alasan yang juga penting adalah, murah! Ruang blog disediakan gratis oleh situs penyedia layanan blog. Biaya yang dikeluarkan hanya biaya berinternet.  

 

Rasanya tidak terbayang, jika membangun dusunlaman dalam bentuk “buletin kecil” saja. Yang sudah pasti membutuhkan biaya untuk membeli kertas, tinta, biaya fotokopi, dan tentu saja biaya penyebaran untuk daya jangkau yang sangat terbatas. * * *
Posted by chan/syam at 19:52:00 | Permanent Link | Comments (0) |

April 06, 2006

Makan Tahi, Mmm...

Anda mungkin kaget dengan judul di atas. Tapi memang tahi itu enak. Tentu tahi yang saya maksud bukanlah tinja, kotoran, feses, atau shitt.

 

tahi7Melainkan buah tahi.   Tahi ini adalah nama lokal Prabumulih untuk tumbuhan yang bernama latin Curculigo latifolia. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama parasi, marasi, atau terasi-terasian.

 

   

tahi4Buahnya gemuk dan lancip seperti pacet kenyang. Ukurannya juga sepacet, sedikit lebih besar dari biji kacang tanah. Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru, berwarna putih keabuan. Daging buahnya putih. Biji-biji hitam di dalam buah membuat daging buah menjadi tampak berbintik-bintik, seperti daging buah jenis-jenis berry, atau buah naga.   

 

tahi2Tumbuhan tahi banyak ditemukan tumbuh di tepian sungai atau di hutan sekunder (misalnya, kebun karet tua). Jenis tumbuhan ini mudah dikenali karena bentuknya yang mirip bibit kelapa. Dari pangkal yang dekat tanah, muncul bunga berwarna kuning. Setiap bunga memiliki enam kelopak. Di sana pula buahnya ditemukan bergerombol. Di masa kecil saya, buah tahi adalah salah satu favorit saya. Demi mencari buah tahi, saya seringkali tiarap dan menyelinap di bawah pohon seperti babi hutan. Grusssaak!  Rasanya manis dan sedikit asam. Sehabis makan buah tahi, rasa manisnya melekat di lidah dalam waktu agak lama. Sehingga, jika kita minum air putih setelah memakan buah tahi, air yang tawar jadi terasa manis. Minum air jeruk pun, efek manis yang ditinggalkan buah tahi pun menyamarkan rasa asam jeruk.

 

  tahi1Hasil penelitian menyebutkan bahwa rasa manis itu berasal dari curculin, ekstrak protein yang memberikan rasa manis. Protein manis dapat menjadi gula alternatif yang cocok untuk mencegah diabetis atau kencing manis. Buah ini dipercaya memiliki banyak khasiat, di antaranya mengurangi panas dalam dan sakit kepala. 

* * *

Posted by chan/syam at 13:37:52 | Permanent Link | Comments (10) |

April 05, 2006

Dusunlaman, Mengapa Prabumulih [#2]?

Catatan Satu tahun blog dusunlaman


Bagian Kedua: Prabumulih di Peta Informasi


Berita tentang Prabumulih terkini, tentu bisa diakses melalui koran daerah di Sumsel. Baik Sriwijaya Post (Sripo), Sumatera Ekspress (Sumeks), Transparan, bahkan Palembang Pos. Sumatera Ekspress bahkan memberikan porsi lebih melalui “suplemen” khusus, Prabumulih Pos. Tapi bagi warga Prabumulih yang merantau, tentu saja kesulitan mengakses informasi tersebut.


Beruntung, koran sumsel terebut juga menyediakan versi online yang bisa diakses melalui internet. Selain Sripo dan Sumeks, Palembang Post juga pernah menyediakan versi online. Sayangnya, pada sumeks online, tidak menyertakan Prabumulih Postnya. Tentu saja, karena keterbatasan halaman maka terbatas pula porsi untuk berita lokal Prabumulih. Harapan lainnya adalah, siapa tahu koran nasional memuat satu berita tentang prabumulih. Ini jarang sekali terjadi.


Seiring dengan isyu e-government, Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih pun tidak mau ketinggalan. Maka dibangunlah situs atau web Pemkot Prabumulih. Lazimnya, sebuah situs milik pemerintahan di Indonesia, situs ini tampaknya hanya menyajikan berita seputar program pembangunan dan liputan seremonial di lingkungan Pemkot saja.


Beberapa waktu yang lalu, situs yang beralamat di http://kotaprabumulih.go.id ini tidak bisa diakses lagi.


Sebelum sampai pada masa “ditutupnya” situs pemkot tersebut, keinginan untuk menyediakan ruang bagi catatan-catatan kecil tentang prabumulih lahir. Maka, dengan keterbatasan sumberdaya, terbitlah dusunlaman ini.


Kenapa pilihannya adalah blog? Nantikan catatan berikutnya.
* * *  

 

Posted by chan/syam at 10:36:35 | Permanent Link | Comments (0) |

April 03, 2006

Dusunlaman, Mengapa Prabumulih?

Catatan Satu Tahun dusunlaman   

 

Bagian Pertama: Lokal Itu Utama  

 

Barangkali anda juga seperti saya. Orang biasa, yang cenderung lebih memilih berita mengenai kejadian yang dekat dengan kehidupan kita untuk disimak lebih dulu. Jika kita tinggal di Prabumulih, belum tentu kita tertarik mengikuti berita tentang ledakan bom di Jakarta, atau berita perceraian artis terkenal. Kita juga mungkin tidak peduli terhadap issue senjata pemusnah massal di Irak, melemahnya dukungan warga Amerika Serikat terhadap George Bush, mencairnya gunung-gung es di Kutub Utara, atau ditemukannya planet terjauh di tatasurya.  

 

Setiap kali kali membaca koran, menonton berita di televisi, mendengar radio, atau menjelajah info di internet, pemberitaan kejadian kecil di dekat rumah kita, misalnya warga RT di dekat RT kita tidak kebagian kartu miskin, sebuah tukang pangkas rambut di kelurahan kita memenangkan lomba tata rambut, banjir terjadi di kecamatan tempat kita tinggal, kontingen olahraga kota kita memenangi lomba di tingkat Kabupaten, Walikota yang sedang sakit, dan lain sebagainya.  

 

Orang-orang biasa seperti kitalah yang kemudian menjadi sasaran bidik atau konsumen media-media komunitas yang kemudian marak. Misalnya saja di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, konon terbit belasan media khusus tentang info-info yang terjadi di kawasan tersebut. Info-info di dalam media-media semacam ini seringkali “biasa” saja. Malah kebanyakan berupa iklan. Mulai dari info sewa jual rumah, hingga pembukaan tempat usaha baru. Misalnya, kedai makan, salon, penjahit, gerai telepon genggam, kios buku, tempat kursus, taman kanak-kanak, bengkel otomotif, pusat kebugaran, atau lainnya.   

 

Hebatnya, media semacam ini bisa dibagikan secara cuma-cuma. Gratis! Karena, info non iklan lah yang bikin warga komunitas itu tidak ingin melewatkan media ini begitu saja. Mereka ingin membaca tentang kegiatan sosial yang baru saja mereka lakukan, ingin membaca liputan tentang tokoh masyarakat yang boleh jadi adalah tetangga seberang jalan, mencari tahu enaknya malam ini makan malam di mana? Ketertarikan, minat, dan kebutuhan tentang info lokal inilah, media semacam ini bisa dihidupi oleh pengiklan.  

 

Hal semacam ini mengentalkan sebuah kesimpulan yang menyebutkan, publik membutuhkan informasi lokal. Pada gilirannya, kebutuhan informasi lokal tidak hanya dibutuhkan oleh warga yang menetap di sana. Para perantau asal suatu daerah, tentu akan tertarik dengan berita terkait kampung asalnya. Dimana sepotong “irisan nostalgia” tertinggal tak lekang.***
Posted by chan/syam at 04:06:39 | Permanent Link | Comments (0) |

Maret 20, 2006

Nasi Uduk Stasiun

Jika sedang bermalam di Prabumulih kemudian merasa lapar, jangan takut kesulitan mencari tempat makanan yang buka sampai pagi. Datang saja ke stasiun kereta api. Di satu halaman parkirnya yang luas itu berjejer, belasan hingga puluhan tenda pedagang nasi uduk dan bandrek jahe. Nasi uduk memang menjadi menu utama. Lauknya beragam. Minuman lain juga bisa dipesan. Pilihan makanan kecil dan jajajan pasar juga ada. Harganya juga murah. Dengan uang lima ribu rupiah, sudah bisa kekenyangan.    

 

Tenda-tenda itu selalu ramai oleh pengunjung. Mulai dari para calon penumpang kereta atau yang kerabat yang mengantar, karyawan yang bekerja malam, anak-anak muda, para pelancong, dan bagian masyarakat Prabumulih lainnya. Ssst… di tempat tersebut sering juga terjadi lobby-lobby politik lokal.

 

Posted by chan/syam at 07:17:41 | Permanent Link | Comments (12) |

A2K

Gedung berdinding hijau yang nyempil di kawasan pertokan Prabumulih itu adalah Puncak Toserba. Sebelumnya, sempat bernama Talago, milik sebuah kelompok usaha yang sama dengan toko Enggano. Grup ini memiliki beberapa cabang di beberapa kota Sumatera Selatan, diantaranya Lahat dan Lubuk Linggau. Konon grup ini berpusat di kota Bengkulu.  

 

Jauh sebelumnya, gedung ini adalah sebuah bioskop yang selalu ramai. Awalnya bioskop itu bernama Ria, kemudian berganti menjadi King. Tidak seperti ruang teater seperti kebanyakan bioskop saat ini yang hanya satu lantai tapi berundak-undak, ruang teater Bioskop King berlantai dua. Lantai atas berfungsi seperti balkon.  

 

Tapi sekarang, bioskop ini mengalami nasib yang serupa dengan semua bioskop di prabumulih. Sama juga dengan nasib banyak bioskop di Indonesia. Tutup!   Namun demikian, meski fungsi dan nama “Bioskop King” sudah lama hilang tergantikan, pernahkah anda mendengar komunitas anak-anak muda yang menamakan mereka sebagai “A2K”. Komunitas yang juga memiliki klub bola basket kenamaan, sering berkumpul kawasan bekas bioskop ini. Mulai dari kawasan depan pertokoan, di lorong sebelah kiri bekas bioskop, maupun di belakang berbatasan dengan Jl. A. Hamid. A2K itu adalah akronim dari Anak-Anak King.
Posted by chan/syam at 07:02:24 | Permanent Link | Comments (0) |

Februari 01, 2006

[Hilangnya] Hak [Anda] atas Tanah [Anda Sendiri]

LinkingHandsPicBayangkan, suatu hari pemerintah merencanakan pembangunan fasilitas publik di atas tanah atau lahan kita. Setuju atau tidak setuju, dalam 90 hari tanah kita akan tetap “hilang”. Anda pasti berpikir, mana ada ketentuan hukum yang mengijinkan hal tersebut.

Sungguh. Hal tersebut adalah keniscayaan.

Tentu saja ini bukan informasi baru. Tapi dusunlaman belum pernah merilisnya. Beberapa waktu lalu, dusunlaman bertemu seorang praktisi hukum asal Prabumulih, Syamsul Bahri, S.H. Sehari-hari Syamsul Bahri tergabung sebagai pengacara sekaligus aktifis hukum dan hak asasi manusia di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta. Dalam pertemuan yang tak lama itu, sempat didiskusikan perkembangan situasi terkini di kampung halaman Prabumulih.

Salah satu bahasan yang menarik dicatat adalah tentang pelebaran jalan Sudirman. Sebagaimana diketahui jalan utama di prabumulih ini, tidak berlangung mulus. Proses pelebaran jalan yang menggunakan jasa kesatuan TNI- YON ZIPUR  yang dimulai dari batas kota [arah palembang] ini, terhenti tepat di mulut jl. Senuling dusun Prabumulih. Dan dilanjutkan lagi di kawasan Bawah Kemang, persis di depan kantor Pertamina DOH Sumbagsel. [Mengenai jalan ini, dusunlaman pernah menuliskan catatan yang berjudul “Kisah Jalan  Leher Botol”].

Tulisan ini tidak akan menyinggung apa yang membuat masyarakat ‘terkesan’ enggan merelakan sebagian lahan di depan rumah mereka dibebaskan untuk pembangunan jalan. Tapi lebih pada apa yang terjadi jika masyarakat tetap mempertahankan sikap tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Syamsul Bahri, upaya mempertahankan lahan yang dilakukan masyarakat tersebut sebenarnya menjadi mirip sia-sia jika “Aturan tentang penggusuran paksa”, betul-betul diberlakukan. Yang dimaksud Peraturan Presiden no. 36 tahun 2005 atau Perpres 36/2005 tentang tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Oleh karena itu komponen-komponen masyarakat sipil perlu melakukan penolakan –dalam hal ini memberikan dukungan terhadap upaya peninjauan kembali—atas pemberlakuan perpres ini.

Beberapa lembaga swadaya masyarakat bahkan menolaknya dengan langsung mengajukan peninjauan ulang (judisial review) ke Mahkamah Agung (MA) begitu Perpres no. 36 ini dikeluarkan. Alasan penolakan ini adalah: Perpres ini melegalisasi pencabutan hak rakyat atas tanah. Dengan demikian ruang-ruang keberatan masyarakat tidak diakomodir oleh negara.

Praktek penggusuran Paksa.

Perpres ini bisa menjadi alat bagi pemerintah untuk melakukan praktek penggusuran paksa (forced eviction), dimana berpeluang memberikan otoritas dan wewenang kepada negara untuk mencabut hak atas tanah rakyat. Sedangkan masyarakat hanya diberi waktu 90 hari untuk bermusyawarah sebelum digusur paksa.

Perpres ini juga tidak memuat ketentuan menyangkut penentuan kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yang tidak dapat dialihkan atau dipindahkan secara teknis tata ruang ke tempat atau lokasi lain. Lahirnya Perpres tidak dilakukan secara partisipatif, tidak lewat konsultasi publik, bahkan penentuannya dilakukan secara sepihak. Sangat mungkin malah dua belah pihak, antara investor (pemilik modal) dan pemerintah.

Perpres No. 36 2005 lebih kejam dibandingkan Keppres No. 55/1993 Tentang “Pembangunan Untuk Kepentingan Umum”. Kepress No 55/1993, yang pada rezim orde baru, menjelaskan “kegiatan pembangunan yang dilakukan dan selanjutnya dimiliki oleh pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan.”

Implikasi pergantian produk hukum ini mengesahkan para pengusaha dan investor, untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa menghormati hak-hak rakyat. Perpres ini merupakan wujud dari zalimnya penguasa dan rakusnya pemodal dengan cara mempermudah masuknya investasi.

Patut dicatat,  Perpres ini lahir setelah diselenggarakannya pertemuan tingkat tinggi antara Pemerintah dengan Pemodal Asing  dalam kegiatan Infrastructure Summit Januari 2005 lalu.

Maka, bersiaplah. Jika ada investasi asing masuk ke wilayah anda, dan jika proyek pembangunannya di bangun di atas lahan anda, maka hak anda atas tanah pun dikorbankan.

* * *

                                                   Syamsul Bahri, S.H [aktivis YLBHI], praktisi hukum asal Prabumulih.

Posted by chan/syam at 09:59:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Desember 07, 2005

Bertahan di Arus Zaman

Keunikan arsitektur bangunan sebuah kota adalah keindahan. Tidaklah istimewa jika arsitektur sebuah kota sama saja dengan kota yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

Jikalau anda sempat melancong ke kawasan pertokoan di kota ini pada dekade 1980-an, niscaya tak akan menemukan bangunan yang menyolok. Bangunan pertokoan masih didominasi oleh rumah-rumah panggung berbahan kayu. Tentu saja rumah-rumah panggung tersebut sudah diadaptasi. bagian bawahnya sebagian sudah dikeraskan dengan semen atau tegel dan bertembok. Tetapi masih beratap genting berbentuk limas.

 

 

 

 

 

 

 

 

Klik READ MORE untuk melanjutkan baca:

 

Posted by chan/syam at 05:23:28 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2