May 15, 2006

Kopi Pendopo: Nikmatnya Ampas

Jika anda seorang penikmat kopi, cobalah kopi pendopo. Memang kopi dari daerah di dekat Prabumulih tidak sepopuler kopi ketimbang kopi dari Semendo, Pagaralam atau Muara dua Kisam. Semendo dan Pagaralam memang terkenal sebagai sentra kopi terbesar di Sumatera Selatan. Kopi Muaradua kisam, di kabupaten OKU Selatan konon lebih dikenal dalam ”kemasan” kopi lampung. Maklum kawasan perkebunan kopi ini memang terletak di perbatasan Propinsi Sumsel dan Lampung.    

 

Singkat kata, kopi Pendopo sebenarnya sama saja dengan kopi di sumatera selatan lainnya. Berasal dari jenis kopi robusta. Secara umum rasanya pun seperti kopi sumatera lainnya, cenderung asam.   

 

Yang membedahkannya adalah pada saat kopi ini siap diminum. Jika kopi-kopi pabrikan lain mempromosikan kopi tanpa ampas, maka bersiaplah dengan sensasi nikmatnya ampas pada kopi Pendopo.  Kopi pendopo banyak sekali ampasnya. Dari secangkir kopi, sepertiganya adalah ampas yang mengambang di permukaan cangkir. Tentu saja ini disebabkan karena proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi. Baik pada proses penggorengan biji yang diduga disengaja tidak terlalu garing, juga proses penggilingannya yang disengaja tidak dibikin sangat halus.    

 

Meski begitu, kopi ini memiliki kelezatan yang tak kalah dengan kopi lainnya. Juga wangi. Ampasnya yang terkadang lekat disela gigi meninggalkan sensasi kopi yang berasa asam dan khas.     Sesekali cobalah kenikmatan kopi pendopo. Tanpa perlu takut ada yang memanggil anda dengan cara berseloroh, ”Pagi, Dona...!”*   

 

* potongan sebuah dialog dalam satu iklan kopi pabrikan yang menjual kopi tanpa ampas. * * *
Posted by chan/syam at 05:29:30 | Permanent Link | Comments (0) |

Naik Mokbil Meniti Sepur

Orang-orang Prabumulih dulu, yang sekarang sudah berusia sepuh, membunyikan kata mobil dengan mokbil.  Tidak diketahui kenapa demikian. Anggap saja sama dengan orang jawa dulu menyebut motor dengan montor.


Tapi, gara-gara kekeliruan yang dilakukan dulu sekali, sampai sekarang orang Prabumulih menyebut kereta api sebagai sepur. Ini tentu berasal dari Bahasa Belanda yang berarti rel kereta api. Barangkali karena rambu peringatan yang sering dipasang di perlintasan jalan raya dengan rel kereta api, yang kerap berbunyi: Awas Satu Sepur. Maksudnya, awas rel kereta satu jalur.
Sementara kata penunjuk untuk rel sendiri, oleh masyarakat lokal prabumulih disebut ban sepur. Boleh jadi kata ban yang dimaksud, berasal kata band dari bahasa Belanda. Artinya, pita.


Bahasa Belanda sendiri menyebut kereta api dengan trein.
* * *

Posted by chan/syam at 05:19:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Mencari Gunung di Prabumulih

Topografi Prabumulih dan sekitarnya dapatlah dikatakan rata saja. Tanpa pebukitan, lembah, apalagi gunung. Herannya, cobalah berkeliling dan temukan nama-nama gunung di sana. Niscaya ditemukan kampung atau dusun bernama Gunung Ibul, Gunung Kemala, Gunung Raja, Gunung Megang, dan Pagar Gunung.  * * *
Posted by chan/syam at 05:09:56 | Permanent Link | Comments (2) |

May 11, 2006

Raja Pulang dan Medan Pertempuran Mati-matian

Banyak yang tidak sepakat jika nama Prabumulih dikaitkan dengan kata prabu dan mulih. Dalam bahasa Jawa, keduanya berarti raja dan pulang. Atau jika dipadukan berarti raja yang pulang atau raja yang kembali.    

 

Keterangan yang menolak tentang ini menyebutkan, nama prabumulih berasal dari kata: uleh dan pehabung. Yang pada suatu masa dibalik menjadi pehabung dan uleh. Uleh berarti mendapatkan. Pehabung berarti penuh berlimpah. Konon karena lidah orang jepang ketika menduduki kawasan tambang minyak penting ini sulit menyebut pehabong uleh, maka jadilah parabumulih. Pada gilirannya kata ini mengalami penyederhanaan menjadi Prabumulih.   

 

Sementara, kelompok yang menerjemahkan Prabumulih sebagai raja pulang, berpijak pada legenda yang menyebutkan bahwa mahapatih kerajaan Majapahit, Gajahmada, pulang dari perang dan mangkat di Prabumulih. Peristirahatan terakhir sang mahapatih, dipercaya terdapat di Dusun Gunung Ibul. Penanda makam tersebut sebagai makam sang gajamada (yang barangkali dikira sang raja) adalah sebuah bekas tapak kaki berukuran lebih besar dari manusia pada kebanyakan.    Terlepas dari kontroversi tersebut, di sekitar Prabumulih terdapat tempat lain yang memakai nama Prabu. Yaitu, Prabu menang. Sayangnya, dusunlaman tidak memiliki catatan apakah nama prabu tersebut juga berasal dari kata Pehabung.  

 

Lebih lanjut, di Prabumulih terdapat juga tempat bernama Patigalung. Menurut Yulius Hendra dalam suatu obrolan dengan dusunlaman, untuk mengetahui sejarah suatu tempat, dapat dipelajari dari bahasa yang digunakan dalam penamaan tempat. ”Kata patigalung, bukan berasal dari bahasa prabumulih.” Demikian Yulius menerangkan.  Kata pati dan galung, berasal dari bahasa jawa kuno. Pati berarti mati-matian, dan galung berarti medan pertempuran besar. Patut diduga patigalung adalah penamaan untuk tempat dimana telah terjadi pertempuran mati-matian.  Barangkali karena itu, ada Prabu yang Menang dan Prabu yang Mulih?  * * *
Posted by chan/syam at 07:49:54 | Permanent Link | Comments (0) |

May 10, 2006

Kampung di Pompa Air

Dari stasiun kereta api Prabumulih, jika anda menyusuri rel ke arah Tanjung Karang atau Lubuk Linggau, tak sampai 1 kilometer anda akan bertemu percabangan rel yang memisahkan dua kota tujuan itu. Ketika mulai menyeberangi Sungai Tapus, di sebelah kiri terdapat perkampungan kecil. Namanya Kumpo. Semula bernama Kumpe, yang dalam bahasa Prabumulih berarti Pompa.

  

Dinamakan kampung Kumpo karena dulu memang terdapat sebuah pompa di sana. Pompa air untuk mengisikan air dari sungai ke ketel pada lokomotif tenaga uap. Sekarang meski Sang Kumpe tidak lagi berdiri di sana, lapuk dimakan zaman, kemudian pipa besinya yang bercat gelap telah menjadi barang kiloan, nama kumpe me atau kumpo telah lanjur menjadi nama kampung.

  * * *
Posted by chan/syam at 05:03:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Sosial

Pernah dengar nama kampung Sosial? Jika hendak mencari perabotan dapur berbahan besi atau alumunium, datanglah ke sana. Kampung kecil ini adalah kampung pengrajin. Sentra penghasil kompor, panci, kukusan, langsang, dan lain-lain.


Kampung ini terdapat persis di antara Bakaran dan Prabusari. Penduduk kampung sosial mayoritas datang berasal dari wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) yang merupakan para pengrajin yang pandai.


Dusunlaman tidak mendapatkan catatan, apakah kampung ini memiliki nama tersendiri pada awalnya. Tapi sebagian masyarakat dusun prabumulih menyebut kampung ini dengan kampung ”Ikak Sue”. Penamaan tersebut sebenarnya berasal dari kata ”ikak” dan ”sue”. Dalam salah satu bahasa OKI, kedua kata itu berarti ”ini” dan ”apa”.  Barangkali karena pada awal masa pembauran, penduduk kampung sosial sering terdengar menyebutkan ”ikak sue?”. Hal itu diperparah lagi dengan ketidakpahaman penduduk lokal (dusun prabumulih) yang belum mengerti bahasa yang dibawa dari  daerah OKI tersebut.


Sejak kapan nama ”Sosial” disematkan sebagai nama kampung? Konon, bermula dari masuknya program dari Departemen Sosial.

Yaitu, program pembinaan bagi para pengrajin yang pandai memproduksi aneka perabot dapur.  
Meski program pembinaan tersebut sudah lama terhenti,
nama ”Sosial” tampaknya abadi.
* * *

Posted by chan/syam at 04:55:25 | Permanent Link | Comments (0) |

Membakar Sampah Jadi Kampung

Di prabumulih terdapat sebuah daerah, sebutlah kampung, bernama bakaran. Dari mana nama ini berasal, konon, bermula dari sebuah riwayat. Dahulu, sampah dari perkantoran dan perumahan perusahaan Pertamina --perusahaan penambangan minyak dan gas bumi milik negara yang telah bergantinama berulang kali—dibawa dan dikumpulkan di daerah ini. Tumpukan sampah itu kemudian dibakar. Karena proses pembakaran sampah tersebut berlangsung selama waktu yang cukup panjang, maka kawasan tersebut disebut daerah pembakaran (sampah) atau Bakaran.  * * *
Posted by chan/syam at 04:17:12 | Permanent Link | Comments (0) |

May 16, 2005

[Prabumupedia] Tikungan Padi

Efranudin*

 

Letaknya lebih kurang 700 meter  dari kantor walikota Prabumulih, pada jalur jalan Jenderal Sudirman, ke arah bawah kemang atau kantor Pertamina. Setelah melalui lapangan tennis dan masjid Al Hidayah, kita akan sampai di tikungan yang sangat tajam. Itulah “Tikungan Padi” atau ada juga yang menyebutnya “Tikungan Maut”. Mengapa disebut demikian?

 

Sebagaimana lazimnya penamaan suatu tempat atau daerah, biasanya didasari oleh kejadian tertentu atau hal-hal tertentu yang terjadi atau ada di daerah tersebut. Demikian pula halnya dengan nama”Tikungan Padi” atau “Tikungan Maut”. Sebutan tikungan maut lebih didasari oleh seringnya terjadi kecelakaan lalulintas pada tikungan itu. Sepengetahuan penulis, mungkin lebih ratusan kali telah terjadi kecelakaan kendaraan bermotor, baik sepeda motor ataupun mobil yang tabrakan, jatuh atau melanggar trotoar sehingga masuk rumah yang ada disekitar tikungan itu. Korbanpun telah banyak yang jatuh, baik yang luka-luka ataupun yang meninggal. Dari keadaan itu, entah siapa yang memulai, disebutlah nama “Tikungan Maut”.

 

Nama “Tikungan Padi” berasal dari pernah adanya penggilingan padi (rice milling) pada akhir tahun 60-an  sampai awal tahun 80-an.  Penggilingan padi itu sendiri didirikan sekitar akhir tahun 60-an dengan kongsi(patungan) modal dari beberapa orang, diantaranya : Wak Hasanuddin Dolah Pei (alm),  Mang Asman Acah, Wak Manaf dan beberapa lagi yang lainnya. Adapun nama penggiligan padi itu sendiri adalah “Penggilingan Padi Baru “. Saat itu, Penggilingan Padi Baru adalah satu-satunya penggilingan padi yang ada di wilayah dusun Prabumulih, Tanjung Raman, Sukaraja, Muaradua, Karangraja dan Gunung Kemala.

 

Sekarang ini,  penggilingan padi itu telah ditutup, namun namanya tetap digunakan sebagai nama tikungan yang berada tepat di depan bangunan penggilingan pada masa lalu itu. Enath sampai kapan nama “Tikungan Padi” atau “Tikungan Maut” akan melekat sebagai nama tikungan di jalan Jendral Sudirman itu ? Wallahualambissawaf. (rambank_2004)

* * *

 

Efranudin, Guru STMN Muara Enim, ahir dan Besar di dusun Prabumulih. Saat ini sedang menjalani pendidikan pasca sarjana di Jogjakarta.

Posted by chan/syam at 06:30:20 | Permanent Link | Comments (1) |

May 11, 2005

[Prabumupedia] Karang Raja punya Stasiun Prabumulih Punya Nama

Karang Raja punya Stasiun Prabumulih Punya Nama

 

Persis di seberang rel kereta api, terdapat satu dusun lama yang setua duspra. Karang Raja. Masyarakat dusun Karang Raja dan Duspra berkerabat dekat ini sering berseloroh. Salah satu selorohnya adalah, ''Karang Raja punya stasiun (kereta) Prabumulih punya nama.''

 

Seloroh ini memang beralasan. Stasiun kereta Prabumulih terletak persis di depan dusun di tepian Sungai Kelekar yang namanya berkembang menjadi nama kelurahan. Bayangkan sebuah dusun kecil yang konon beberapa kali berpindah tempat, salah satunya adalah di kawasan kampung Prabusari saat ini, sekarang menggelembung mulai dari karang raja I sampai karangraja 6.

 

Karang Raja 1 terletak persis bersebelahan dengan kampung Prabusari kelurahan Majasari. Karang Raja II terletak kawasan stasiun mengitari balai dusun lama. Karang Raja III di sekitar RSU Prabumulih. Selebihnya saya tidak terlalu yakin. Kurang lebih, Karang Raja IV berada di sekitar kawasan tugu kecil sampai dengan pom bensin. Karang Raja V berkedudukan di sekitar TPU taman Baka sampai dengan kawasan Guhong Regati atau komplek perumahan pegawai Rutan. Karang Raja VI ada di sekitar komplek Relly atau Rellay TVRI.

 

* * *

Posted by chan/syam at 10:37:33 | Permanent Link | Comments (69) |

[Prabumupedia] Dusun Empat Karang

PrabumuPedia

 

Apa itu PrabumuPedia?

 

Anggap saja sejenis ensiklopedia kecil tentang beberapa hal sederhana di Prabumulih. Sebagian darinya seolah boleh saja dilupakan. Tapi bagi dusunlaman.blog.com, sesederhana apapun informasi tetaplah kekayaan. Yang menjadi fokus pertama pada PrabumuPedia ini adalah tukilan-tukilan informasi tentang tempat-tempat atau kampung-kampung di Prabumulih.

 

Karena PrabumuPedia ini lebih ditujukan pada peningkatan pemahaman masyarakat Prabumulih seputar kampung atau tempat di kota kecil itu, sudilah para pengunjung dusunlaman.blog.com untuk melibatkan diri menyempurnakan ensiklopedia kecil ini. Silahkan kirim komentar, saran, informasi atau materi pelengkapnya melalui email ke: kawansyam@yahoo.com.

 

Demikianlah dan salam,

 

www.dusunlaman.blog.com

 

 

 


 

Dusun Empat Karang

 

Dusun Prabumulih yang sering disingkat saja dengan Duspra, diyakini sebagai titik awal kota Prabumulih. Dusun yang sekarang berada dekat pusat kota ini, terbagi menjadi 4 karang atau kampung. Satu kampung barangkali saat ini setingkat dengan 1 Rukun Warga (RW).

 

Keempat kampung itu adalah Karang Ulu (Kampung Hulu), Karang Ileh (Kampung Hilir), Karang Dahat (Kampung Darat) dan Karang Ayek (Kampung Air).  Untuk pertama kalinya ke-4 karang ini didasarkan atas pembagian teritori 4 bersaudara pendiri Prabumulih. Masing-masing adalah Resek di Karang Ulu, Minggun di Karang dahat, N’dayan di Karang Ayek, dan N’jami di Karang Ileh.

 

Pembagian teritori ini kurang lebih adalah sebagai berikut;

 

Karang Ulu, dilingkari oleh:

Jl. Rambang (sekarang Jl. Sudirman) - Jl. Pertamina (dari depan kantor Pertamina DOH Sumbagsel, Bawah Kemang) - pintu kereta api Kebun Duren, - Jalan tembusan dari Simpang Baturaja.

 

Karang Ileh, dilingkari oleh:

Jl. Rambang (sekarang Jl. Sudirman) mulai dari Balai Dusun (Simpang tiga Baturaja - Sungai Muntang Tapus (depan Hotel Murni atau sekitar kios Alai Batu) - sekitar gang tapus - Jalan Serasan dan tembak lurus ke Lokasi Balai Dusun.

 

Karang Dahat, dilingkari oleh;

Sungai Muntang Tapus - Jalan Pertamina (Jl. M Yamin) – Bawah Kemang – Balai dusun.

 

Karang Ayek, dilingkari oleh ;

Jl. Sudirman – Balai dusun – Jl. Baturaja – tembak lurus ke S. Kelekar – Lalu kembali lagi ke Jl. Sudirman di sekitar Mesjid Al Hidayah.

 

* * *

Posted by chan/syam at 10:36:20 | Permanent Link | Comments (0) |