September 08, 2005

BBM Yang Terus Naik

Oleh: Yuni Ambarwati*

 

Harga minyak mentah di dunia mengalami kenaikan hingga mendekati 65 $ per barel. Dari laporan Associated Press, selasa (9/8) di New York Mercantile Exchange minyak dilepas dengan harga 64,27 $ per barel. Kenaikan harga minyak memunculkan problema tersendiri bagi Indonesia selama Indonesia menjadi net importir BBM. Posisi Indonesia sebagai net importir ini berakibat harga bahan bakar potensial naik yang jelas akan menambah biaya.

 

Tidak hanya rakyat biasa yang merasa resah dengan kenaikan tersebut, tetapi juga dunia usaha, khususnya usaha kecil dan menengah. Ironis sekali, kita seperti terpuruk dalam kondisi yan sulit kita lepaskan. Akankah kita akan kembali mengalami krisis seperti yang pernah kita alami sekita tahun 1997 lalu?. Krisis itu belumlah sembuh, melainkan kita mulai melupakan dan kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Sekarang, kita dihadapkan lagi dengan kondisi yang hampir sama, lebih buruk bahkan, dimana harga dolar AS menembus Rp 11.000,-.

 

Mengapa BBM harus terus naik? Tidak ada penjelasan tunggal bagi pertanyaan tersebut. Meski kita tahu, bahwa salah satu unsur pemerintahan yang baik (good governance) adalah transparasi alias keterbukaan atau keterusterangan. Selama ini, persoalan minyak disembunyikan dari kenyataan sebenarnya. Yang disampaikan kepada rakyat hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang seperti gunung es.

 

Rakyat hanya diberi tahu bahwa harga minyak dunia sangat tinggi, oleh karena itu mengakibatkan subsidi yang harus ditanggung negara sangat besar. Mengingat subsidi tersebut membebani APBN, maka satu satunya cara hanya mengurangi dan akhirnya menghapus subsidi BBM dari APBN.

 

Kita sendiri tidak pernah tahu, berapa sesugguhnya produksi minyak kita? Dan berapa juta dolar per bulan hasil dari penjualan minyak Indonesia di pasaran internasional? Lalu jumlah uang sebesar itu ditaruh di mana? Untuk apa juga tidak trasparan?.

 

Selain itu, masih banyak persoalanlain seperti siapa-siapa yang terlibat dalam bisnis minyak kita? Mengapa PERTAMINA kesulitan uang tunai, padahal rakyat membeli BBM tidak pernah ngutang?. Mengapa kita lebih suka menyewa tangker daripada punya sendiri?, dan pertanyaan yang paling besar adalah, mengapa selama ini kita tidak berusaha memproses minyak kita sendiri? sehingga tidak perlu impor. Bukankah kita kaya akan minyak?, atau karena kita tidak memiliki teknologinya?, mengapa kita tidak berusaha sungguh-sungguh menguasai teknologi pemrosesan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak?. Ini adalah merupakan cerminan mentalitas sebagian orang kita yang yang lebih suka mencari keuntungan daripada menciptakan keuntungan dalam arti yang lebih luas.

 

Sayangnya pemerintah hanya memikirkan sendiri persoalan BBM ini tanpa melibatkan rakyat. Artinya solusi yang diambil sangat bersifat “negara sentris”. Rakyat harus hemat energi dengan dipaksa melalui pemadaman listrik secara bergilir, nggak perlu pakai jas sehingga tidak perlu AC, siaran tv harus dimatikan jam 01.00, dll. Sehingga yang muncul di benak kita adalah, mengapa begini?, mengapa begitu?, mengapa kebijakan seperti ini?, apakah ini kebijakan yang bijak? ( Yuni Ambarwati, Jogjakarta 07/9/05)

 

Posted by chan/syam at 04:26:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Agustus 29, 2005

Menggagas Langkah Komoditi Prabumulih Menuju Pasar Global

Pekan lalu dusunlaman [www.dusunlaman.blog.com] mendapat masukan dari salah satu rekan Prabumulih, Yudha di Yogyakarta. Masukan itu berupa gagasan, bagaimana jika media ini mampu berperan untuk mengenalkan produk dan komoditi perdagangan asal Prabumulih.

 

Sudah barang tentu, dusunlaman menyambut baik gagasan tersebut. Mengingat selain komoditi migas, Prabumulih dikenal dengan penghasil buah nanas dan hasil bumi lainnya.

 

Maka yang terpikir pertama kali oleh dusunlaman adalah menyediakan ruang semacam direktori komoditi Prabumulih yang ingin dikenalkan kepada calon pembeli di luar Prabumulih.

 

Banyak sekali komoditi Prabumulih yang bisa diperkenalkan ke publik di luar prabumulih. Sebut saja kerajinan rotan seperti, ambung, keruntung, nyihu, tampah, bakul, behunang, atau lainnya yang khas. Atau produk olahan buah, misalnya lempok atau tempoyak.

 

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, dukungan dan kontribusi rekan sekalian sangat diharapkan. Jika memiliki produk atau komoditi yang ingin dipromosikan melalui media ini, silahkan kirim ringkasan berikut spesifikasi produk, sangat dianjurkan disertai foto. Silahkan kirimkan ke kawansyam@yahoo.com.

 

Tabik,

dusunlaman  

 

Posted by chan/syam at 05:51:14 | Permanent Link | Comments (1) |

Juli 05, 2005

Teknologi Komunikasi Tanpa Kabel

nirkabel

Teknologi Komunikasi Tanpa Kabel

Atharis S Prayoe, ST

 

Pengantar

 

Tulisan kali ini adalah bagian dari serangkaian tulisan mengenai teknologi komunikasi tanpa kabel yang lagi berkembang pesat dewasa ini. Tujuan penulisan hanya untuk sharing knowledge maupun  pengalaman bagi teman-teman sekampung halaman untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui ataupun mengajari teman-teman semua, melainkan sumbangan pemikiran atas kepedulian putra daerah Prabumulih untuk memajukan kampung halamannya. Jika respon positif yang timbul dari tulisan ini maka penulis akan membuat tulisan ini per episode yang akan mengupas teknologi komunikasi tanpa kabel. Jika tidak ada atau responnya negative  maka tulisan ini hanya sampai disini saja.

 

Kita tidak mau kan hanya menjadi pengguna handphone tanpa tau apa yang menyebabkan hanphone kita bisa berdering. Tulisan ini mengajak kita mengenal dunia maya yang kita rasakan keberadaan nya sebagai sarana telekomunikasi tercanggih saat ini. Sudah selaiknya kita mengetahui apa saja yang menjadi elemen network GSM ( Global System for Mobile communication). Apa dan bagaimana telekomunikasi bergerak seluler terjadi?  Akan terjawab dalam tulisan ini .  Jadi, ikuti terus ya!

 

 

Untuk memenuhi kebutuhan manusia berkomunikasi kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun, sistem telekomunikasi bergerak seluler diciptakan dan telah digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.  Awalnya, memang seperti suatu keajaiban, jika orang bisa berbicara ke orang di belahan benua lain dengan telepon tanpa kabel.  Orang awam kebanyakan bertanya, "Koq bisa nyambung? Pakai apa ya?"

 

Itulah ajaibnya telekomunikasi bergerak seluler.  Dibalik keajaiban itu ternyata ada jawaban logis, bahwa komunikasi/hubungan dapat terjadi  dengan menggunakan media udara (air interface) dari hand phone ke BTS (Base Transceiver Station  merupakan station pemancar dan penerima  fhisik nya berupa menara atau tower yang dilengkapi dengan peralatannya)  dengan kecepatan 22,8 Kb/s, dari BTS kemudian diteruskan ke BSC sebagai induk dari BTS yang kemudian BSC meneruskan ke SSS (Switching Sub System yang terdiri dari : MSC, HLR, VLR, EIR dan AuC yang akan di jelaskan pada episode mendatang jika ada respon dari teman2) untuk menentukan tujuan telpon kita ke  arah mana: HP Ke HP, HP ke fix phone ( telpon rumah ), Interlokal, SLI dll.  Prosesnya terjadi sangat cepat, jadi seperti orang berbicara tatap muka.

 

Nah, hal ini dapat terjadi karena telekomunikasi bergerak seluler mempunyai berbagai perangkat/elemen yang ngerjain seluruh proses yang diperlukan dalam komunikasi/hubungan. Seluruh perangkat dan elemen ini diatur oleh sistem sehingga membentuk jaringan, yang sering kita sebut sebagai network.

 

Jadi ingat ya, kalau orang berbicara network, berarti orang tersebut berbicara sistem jaringan, yang tentunya akan melibatkan banyak hal.    Untuk mengetahui lebih dalam tentang teknologi GSM, kita kupas satu-persatu Yoook !!!

 

Arsitek Jaringan GSM

 

Jaringan GSM secara garis besarnya dibagi menjadi 3 sistem yaitu:

1.     Switching Sub System (SSS). Tugasnya mengatur komunikasi antar pelanggan GSM, mengatur komunikasi pelanggan GSM dengan jaringan lain, dan sebagai data base untuk manajemen mobilitas pelanggan.  Berarti si SSS inilah yang mengatur hubungan telekomunikasi seluler antar pelanggan Telkomsel dan dari/ke pelanggan operator lain, sekaligus mencatat posisi pelanggan, lokal atau roaming atau SLJJ, dls.  Kalau di jaringan PSTN, SSS sering disebut sebagai Sentral Telepon, karena semua proses hubungan tercatat di sini.

2.     Base Station System (BSS).  Si BSS biasanya memiliki BSC yang bertugas mengendalikan mobile station/pelanggan yang berada dibawah wilayah cakupannya, dan menghubungkan mobile station dengan SSS. BSS merupakan bagian dari radio seluler dari jaringan GSM.   Dalam network GSM, radio seluler merupakan elemen utama, karena komunikasi ditransmit melalui frekwensi radio.

3.     Operation Maintenance System (OMS). Sedangkan Operation Mainetenance Center bertugas melakukan pengawasan performansi seluruh jaringan BSS dan SSS yang ada dibawah kendalinya, melakukan penanganan gangguan tingkat pertama, loading data base dan memberikan informasi gangguan dan performansi jaringan.

 

Ibarat perang, BSS merupakan regu prajurit yang gerilya dan ditempatkan dimana-mana.  Sedang SSS adalah komandan regu sedangkan OMS adalah pengawas perang. Kali ini, kita beri penghormatan tertinggi dulu buat para prajurit – BSS- untuk dibahas duluan.  Setuju, kan?

 

Base Station System (BSS)

 

Base Station System (BSS) merupakan bagian dari radio sistem pada network GSM yang terdiri dari: BSC, BTS dan TRAU.  Ketiganya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  Kenapa?  Karena fungsi mereka berbeda namun satu dengan lainnya saling mendukung.  Bagaimana 'saling mendukung'nya BSC, BTS dan TRAU, ceritanya begini…. ( he he he kayak kismis : kisah2 mistery ) aja

 

Base Station Controller (BSC)

 

BSC adalah bagian inti (intelligent/master) dari sistem BSS yang menghubungkan antara BTS dengan SSS (seluruh data base BTS dan TRAU ada pada BSC).  Pada Siemens Base Station antara BSC dan Network SSS perlu bantuan peralatan jaringan lain, berupa Transcoding and Rate Adaptation Unit (TRAU) melalui A-sub interface (interface BSC-TRAU) dan A interface (interface MSC-TRAU).

 

Adapun fungsi utama dari BSC adalah: data base seluruh network elemen BSS, penyambungan kanal trafik, memproses pensinyalan, pongontrolan daya, menangani fungsi-fungsi operasi dan maintenace serta monitoring system.

 

Base Transceiver Station (BTS)

 

BTS dapat dilihat sebagai bagian dasar dalam jaringan BSS dan perlengkapan hubungan antara BSC dan MS (mobile subscriber/pelanggan).  Fungsinya sebagai elemen network yang berinteraksi langsung dengan mobile subscriber melalui radio interface (air interface). BTS terdiri dari Tx (transmite) dan Rx (Receive) yang menyediakan kanal pembicaraan.  Seperti radio pada umumnya, radio interface di BTS memiliki daya pancar yang terbatas, dalam GSM sering dikenal dengan istilah wilayah cakupan atau radio service area. Cara kerja radio suatu BTS adalah membentuk dan mengatur sel trafik hubungan dan hand over (perpindahan MS dari satu BTS ke BTS lain) yang berada didalam wilayah cakupannya.

 

Transcoding Rate and Adaptions Unit (TRAU)

 

TRAU adalah interface antara BSC dan SSS (MSC). Meskipun TRAU merupakan bagian dari BSS, biasanya TRAU diletakkan dekat MSC.  Hal ini dimaksudkan untuk penghematan link transmisi.

 

Pada perangkat TRAU terjadi kompresing link dari dari 64 Kbps dari MSC ke TRAU (4 A-Interface/PCMA) menjadi 16 Kbps dari TRAU ke BSC (1 Asub-Interface/PCMS). Kompresing ini dilakukan hanya untuk traffic channel. Hal tersebut dimaksudkan agar traffic channel yang digunakan untuk percakapan pelanggan bisa lebih banyak 4 kali dari sebelumnya.  Sedangkan untuk time slot 0 yang digunakan untuk frame alignment signal dan time slot 16 untuk signaling tidak dilakukan kompresing, kecepatannya tetap 64 Kb/s sebab kalo dikompres juga maka untuk proses pensinyalan akan jadi lambat. Karena di TRAU dilakukan pengkompresan maka TRAU juga melakukan adaptasi suara agar suara pelanggan sama seperti aslinya, tidak terkompres meninggi atau mengecil seperti micky mouse.

                                     

 

                                      Gambar 1. Arsitektur GSM D900

 

 

 

Jika ada pertanyaan mengenai Elemen Network GSM atau komunikasi tanpa kabel, silakan layangkan surat atau email ke redaksi dusunlaman.blog.com.  Semua pertanyaan akan langsung dijawab oleh penulis tanpa dipungut bayaran alias gratis  (He he he… mumpung penulisnya lagi baik, nih)

 

 

 

 

Posted by chan/syam at 09:57:54 | Permanent Link | Comments (73) |

May 24, 2005

Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Bagian Selatan

Yuni Ambarwati, S. Ip*

 

Jika kita membicarakan  Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Bagian Selatan, maka tentunya kita akan masuk ke dalam dua kawasan permasalahan, yakni :      

 

1. Permasalahan pendidikan nasional pada umumnya.

2. Permasalahan pendidikan di Sumatera Bagian Selatan.

 

Kedua kawasan permasalahan ini tentu memiliki karakteristik tersendiri, akan tetapi dapat dikatakan bahwa perbedaan karakteristik masalah hanya terletak pada bobot masalah yang dihadapi.

 

Realitas pendidikan nasional terdapat paling sedikit dua permasalahan besar yang dihadapi pendidikan nasional kita saat ini, yaitu : pertama, Kualitas pendidikan, baik sistem maupun penyelenggaraan relatif belum cukup memadai. Kedua, Kesenjangan pendidikan yang telah menjadi masalah sangat serius dalam kehidupan sosial kita.

 

Untuk hal yang pertama, menarik untuk dicermati survey yang dilakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy ( PERC ), yang berkedudukan di Hongkong. Surver tersebut menyimpulkan bahwa sistem pendidikan Indonesia berada di urutan ke 12 dari 12 negara yang diteliti.

 

Ada 17 variabel dasar survey PERC, yang meliputi :

  1. Impresi keseluruhan tentang sistem pendidikan suatu  negara.
  2. Porsi penduduk yang berpendidikan dasar.
  3. Porsi penduduk yang berpendidikan menengah.
  4. Porsi penduduk yang berpendidikan Perguruan Tinggi.
  5. Jumlah biaya untuk mendidik tenaga kerja produktif.
  6. Ketersediaan tenaga kerja produktif berkualitas tinggi.
  7. Jumlah biaya untuk mendidik tenaga kerja.
  8. Ketersediaan tenaga kerja.
  9. Jumlah biaya untuk mendidik staf manajemen.
  10. Ketersediaan staf manajemen.
  11. Tingkat keretampilan tenaga kerja.
  12. Semangat kerja dari para tenaga kerja.
  13. Kemampuan berbahasa Inggris.
  14. Kemampuan berbahasa asing lain.
  15. Kemampuan untuk menggunakan teknologi tinggi.
  16. Tingkat kektifan tenaga kerja.
  17. Frekuensi perpindhan atau pergantian tenaga kerja yang pensiun. 

Rendahnya kualitas sistem maupun penyelenggaraan pendidikan membawa akibat besar bagi kualitas SDM yang akan dihasilkan. Surveu yang dilakukan oleh United Nations Development Programme (UNDP), dalam Human Development Report 2003, menunjukkan kualitas SDM (Human Development Indeks) Indonesia berada di urutan 112 dari 174 negara di dunia. Data ini menunjukkan penurunan peringkat indeks kualitas SDM Indonesia dibandingkan tahun 2002, yaitu 110.

 

Sementara itu,tentang kesenjangan pendidikan dapat dilihat bahwa kesenjangan telah terjadi paling sedikit pada empat alur penting, yakni :

 

  1. Kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, pusat keunggulan berada di Jawa, padahal sumber devisa negara berada di luar Jawa.
  2. Kesenjangan antara desa dan kota.
  3. Kesenjangan antara lembaga pendidikan swasta dan lembaga pendidikan negeri. Lembaga pendidikan negeri disubsidi nyaris penuh oleh pemerintah, sementara lembaga pendidikan swasta baru belakangan ini mulai mendapat sedikit perhatian.
  4. Kesenjangan atara kaya dan miskin. Kaum miskin semakin sulit untuk mengakses pusat-pusat keunggulan karena kesulitan untuk membayar SPP.

 

Banyak hal yang harus kita lakukan, dan agenda berikut layak untuk dipertimbangkan:

 

  1. Secara nasional mendirikan pusat pengembangan kualitas pendidikan
  2. Sebarkan “virus pro mutu” bagi lembaga pendidikan sehingga ikhtiar peninkatan mutu disamping memperbesar daya tampung dari lembaga itu sendiri dapat berjalan baik.
  3. Upayakan “vaksinasi mutu” bagi lembaga pendidikan, yaitu menanamkan prinsip bermutu secara terus menerus sejak awal.

 

Philip B Crosby menyebut lima vaksin mutu yang penting : Integritas, sistem, komunitas, pelaksanaan, dan kebijakan.

 

Semoga lembaga pendidikan di Sumatera Bagian selatan dapat mwningkatkan kualitas dan mutu sehingga lahirlah Sumber Daya Manusia yang berkualitas.  

 

* * * 

 

* Yuni Ambarwati, S. Ip; Kelahiran Prabumulih, saat ini berdomisili di Jogjakarta

 

Posted by chan/syam at 12:34:52 | Permanent Link | Comments (0) |

May 17, 2005

Bagaimana Mengembangkan Nanas Prabumulih

Destika Cahyana *

 

Data Dinas Pertanian prabumulih menyebutkan, luas kebun nanas yang biasanya diusahakan secara tumpangsari dengan kebun karet muda sekitar 2.143 hektar. Produksinya sekitar 2.965 ton nanas setiap kali panen.

 

Kabarnya, pernah Pemkot Prabumulih mencoba bekerjasama dengan Jerman untuk industri pengolahan. Tapi baru sebatas penjajakan. Kesimpulan yang diambil saat itu, kadar gula pada nanas Prabumulih terlalu tinggi, sehingga tidak cocok untuk dikalengkan atau dibuat sirup.

 

Kita tidak tahu, apakah penelitian itu langsung mentok. Atau political will pemkot tidak sebesar hasratnya untuk untuk menarik investor di bidang lain misalnya pembangunan mall, dll. Harusnya pemkot mencari jalan pemecahan lain.

 

Pengalaman saya di Trubus, jarang sekali di Indonesia, pertanian maju karena dorongan pemerintah.Lazimnya, pertanian yang berhasil adalah pengusaha perorangan bermodal kuat. Pada gilirannya, petani hanya berperan sebagai buruh saja, tidak berbeda dengan di pabrik. Salah satu perusahaan yang mengusahakan perkebunan nanas ada di Lampung.

 

Tapi, ada juga suatu desa yang sector pertaniannya maju karena adanya organisasi tani local yang menguasai system dari hulu sampai hilir. Misalnya, pertanian padi organik di Jogjakarta dan Jawa Tengah.

 

Yang juga berhasil mengembangkan pertanian adalah yayasan keagamaan. Contohnya, pertanian organik pastor agatho di Cisarua, Bogor. Organisasi Islam yang juga berhasil adalah pondok pesantern Az-Zaitun di Sukabumi. Meski disebut-sebut kontroversional, ia cocok dijadikan contoh pesantren yang berdaulat pangat.

 

Kembali ke nanas Prabumulih, saya pikir masih terbuka peluang untuk mengembalikan kejayaannya. Tinggal, pilihan model pertanian seperti apa yang harus upayakan.

 

* * *

Destika Cahyana, Alumni FP Unsri Jurusan Ilmu Tanah (angk. 1996). Saat ini beraktivitas sebagai jurnalis di Majalah Trubus, Jakarta.

Posted by chan/syam at 11:46:04 | Permanent Link | Comments (2) |