Bertahan di Arus Zaman

Keunikan arsitektur bangunan sebuah kota adalah keindahan. Tidaklah istimewa jika arsitektur sebuah kota sama saja dengan kota yang lain.
Jikalau anda sempat melancong ke kawasan pertokoan di kota ini pada dekade 1980-an, niscaya tak akan menemukan bangunan yang menyolok. Bangunan pertokoan masih didominasi oleh rumah-rumah panggung berbahan kayu. Tentu saja rumah-rumah panggung tersebut sudah diadaptasi. bagian bawahnya sebagian sudah dikeraskan dengan semen atau tegel dan bertembok. Tetapi masih beratap genting berbentuk limas.
Klik READ MORE untuk melanjutkan baca:
Seiring waktu, tak hanya jumlah penduduk mengalami pertumbuhan. Pun arsitektur bangunan perkotaan. Sebagaimana pertokoan kota lain di Indonesia, Prabumulih terimbas trend rumah toko [ruko] “kotak sabun”. Lambat laun bangunan pertokoan lama yang sebenarnya memiliki nilai estetis dan historis tergeser. Barangkali sebagian bangunan kayu sempat dipindahkan secara utuh ke lahan-lahan perkebunan. Seperti bangunan milik keluarga Ligosan yang dipindahkan ke kebun karet dekat Jerambah Kuning jambat teras, atau di sekitar perkantoran PAM. Sebagian lain, mungkin tidak.
Kotak-sabun-isasi kota Prabumulih mengalami percepatan yang signifikan kemudian. Tidak hanya pertokoan yang berada ruas Jalan Sudirman (pertokoan di ruas jalan bersalin rupa secara cepat sejak pembangunan Pasar Inpres di tahun 1985-an). Pertokoan di ruas jalan lain seperti Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Pandean, Jl. M. Yamin dan jalan-jalan di sekitar Pasar Prabumulih bernasib sama.
Perubahan tersebut terhitung berlangsung cepat. Bukan hanya lantaran tren di kota-kota lain yang mengalami perubahan serupa. Juga karena faktor lain. Seperti karena adanya tawaran “membangunkan”. Tawaran tersebut datang dari pihak lain. Penawaran tersebut bisa berupa bangun-sewa. Artinya setelah bangunan lama diubah jadi ruko baru, biaya pembangunan dianggap “bayar sewa” untuk jangka waktu tertentu. Misalnya, selama 20 – 30 tahun. Penawaran juga berupa “bagi dua”, yakni hak milik bangunan baru selanjutnya terbagi dua. Sebagian tetap milik pemilik lama, sebagian menjadi milik pihak pembangun. Adakalanya bagi tiga, dua bagian untuk pembangun, sisanya pemilik lama. Selain itu kemudahan pengajuan kredit di perbankan turut mempercepat renovasi bangunan lama menjadi ruko model baru.
Maka semuanya lambat laun berubah. Kota menjadi deretan ruko yang tampak seragam. Tak ada sesuatu yang unik dan menyolok yang bisa dilihat pelancong yang datang ke kawasan ini.
Eh, nanti dulu. Lihatlah ke seberang mesjid Anuqoba! Ada sebuah rumah kayu. Dihimpit salah satu bangunan ruko setinggi 4 lantai, tertinggi di kota ini.
Tepian bagian bawah rumah kayu itu dibelai aliran sungai. Sungai khas kota: bau dan kotor. Rumah kayu ini dibangun pada tahun 1939 oleh Terinom. Lebih dulu dibangun dibanding mesjid Anuqoba -- terhitung mesjid pertama di Prabumulih — yang dibangun sekitar dekade 1950-an. Dan sekarang telah dihuni oleh 5 generasi, Terinom, Amir Hamzah bin terinom, Asman bin Amir Hamzah, serta anak dan cucu dari Asman bin Amir Hamzah.
Seolah tak peduli dengan arus perubahan rumah kayu ini masih berdiri gagah dihimpit bangunan-bangunan baru.
“Sebenarnya, kadang keinginan memugar rumah itu ada,” Kata Anton, Putra Asman. “Tapi, rasanya terlalu berat. Rumah itu menyimpan kenangan yang tidak bisa kami lupakan.”
Lebih lanjut dikatakan Anton, terutama neneknya atau yang kerap mereka panggil Nek Ino. Hampir seumur hidupnya dilewatkan bersama sejarah rumah itu.
“Tawaran bangun sewa atau bagi dua dari banyak pihak juga berdatangan. Lokasi rumah ini diincar karena memang strategis. Tapi memutuskan untuk tidak menerimanya.”
Menurut Anton, pihak pemerintah juga berkali-kali mendesak agar rumah segera “disesuaikan” dengan zaman. Desakan tersebut tetap tidak mengubah keputusan mereka mempertahankan keaslian bangunan.
Meski demikian, keberadaan rumah tetap tak lepas dari penggusuran. Terakhir, menjelang akhir tahun 2003, rumah ini harus terpangkas bagian tundan (teras) akibat pelebaran jalan.
Bagi banyak pihak, boleh jadi perubahan identitas perkotaan yang meninggalkan identitas lokal mendekati keniscayaan. Bagi dusunlaman, keberadaan satu-satunya rumah panggung ini, mengingatkan bahwa, sudah waktunya pemerintah kota prabumulih melakukan beberapa langkah penyelamatan identitas lokal ini.
* * *

