May 23, 2006

Bioskop Nasional

Seperti pernah ditulis di weblog ini, bioskop Nasional adalah salah satu media hiburan gambar bergerak di kota Prabumulih tertua. Didirikan sekitar era 1950-an oleh duo kongsi TERINOM dan SUHUR (seperti diceritakan kembali oleh Suherman Muis Suhur dalam email kepada saya baru-baru ini).    

 

Keberadaannya di Prabumulih di era tahun 1950-an itu mungkin cukup fenomenal. Coba bayangkan seperti apa kota Prabumulih di tahun 1950-an? Jalan Rambang (sekarang Jalan Sudirman) sebagai jalan utama di Prabumulih masih sempit dan mungkin tidak semuanya sudah diaspal. Hutan-hutan dan belukar yang mengelilingi kota masih lebat dan asri.. Tapi kota Prabumulih sudah mempunyai gedung bioskop sendiri.   Keberadaan "Nasional Bioscope" (begini dulu ia dieja) masih terus berlanjut hingga ke era 70-an kala saya masih duduk di sekolah dasar. Bioskop Nasional ditonton oleh bertruk-truk masyarakat dari dusun-dusun sekitar untuk menonton dengan riuh dengan bertepuk tangan dan berteriak-teriak bila sang Jagoan India sudah datang menyelamatkan pacarnya yang ada di tangan musuh...   

 

Ya, film India! Film India memang tontonan terfavorit masyarakat waktu itu. Siapa yang tak kenal dengan Dev Anand, Hema Malini, Dharmendra, Jeetendra, Pran, Satrughan Sinha, Rishi Kapoor, Helen, Amitabh Bacchan, Dimpel Kapadia, Nettu Singh, Rakesh Roshan, Sunil Dutt...   

 

Film India itu akan diputar hingga berhari-hari bahkan bisa sebulan penuh! Daya tampung bioskop hanya 300-400 tapi bisa dimuati oleh 700 orang! Penonton rela nonton sambil berdiri dan kepanasan sambil berpeluh keringat demi menonton bintang kesayangannya itu tadi. Jika adegan sudah sampai ke perkelahian ala India, maka ya itu tadi, penonton akan berteriak-teriak sambil bertepuk tangan dan bahkan mencucurkan air mata bila adegan sedih berkepanjangan yang ditayangkan.   

 

Peringkat kedua film yang disukai adalah silat mandarin dan Hongkong dengan bintang-bintang Fu Shen, David Chiang, Ti Lung, Chen Kuan Thai. Lalu film silat Jepang dengan bintang utama Etshuko Shiomi dan Sinichi Chiba serta Yasuaki Kurata sebagai langganan pemeran antagonis.   

 

Namun kini dengan semakin berkembangnya teknologi video hingga VCD dan DVD maka peran bioskop sebagai pemberi gambar hidup pelan-pelan menyurut. Hingga awal tahun 1990-an Bioskop Nasional masih menyuguhkan tontotan film-film dengan jumlah penonton yang semakin merosot dan bahkan tidak menguntungkan lagi sebagai usaha. Hingga akhirnya ditutup sama sekali. Meski gedung ini sempat dimanfaatkan oleh sebuah usaha permainan ketangkasan. * * *

 

[Topan Redda Hasanuddin, Kamis 18 Mei 2006, 1:09 PM]
Posted by chan/syam at 10:57:31 | Permanent Link | Comments (3) |

May 22, 2006

Aneh Itu Mahal

Biji chestnut yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai kastanye, adalah salah satu nyamikan populer di masyarakat eropa. Jika anda membaca komik Donal Bebek terbitan Disney, buah inilah yang digotong-gotong oleh dua ekor tupai, Kiki dan Koko, yang kerap dikejar-kejar Donal. Dalam komik Donal Bebek terbitan Indonesia, chestnut atau kastanye itu disebut kenari.


Beberapa waktu lalu, mertua saya datang megoleh-olehi sekantong biji kastanye. Tidak dari eropa, melainkan dibeli dari toko buah All Fresh di Jakarta Selatan. Kastenye memiliki kulit biji yang keras dan agak tebal. Bagian yang dapat dimakan sebenarnya adalah daging biji. Rasanya mengingatkan kita pada biji nangka rebus, yang oleh masyarakat jawa biasa disebut biji beton. Mempur dan kedat. Memang menjadikan kastanye sebagai nyamikan, biji kastanye diolah dengan cara direbus atau panggang.


Iseng-iseng saya tanya harganya. ”Terlalu mahal untuk biji beton,” selorohnya ibu mertua saya. ”Apalagi untuk makanan tupai.”  Ia sama sekali tak menyebut harga.


Chestnut mengingatkan saya pada tumbuhan yang saya kenal sejak usia kecil: Petaling (Ochanostachys amentacea). Di samping rumah orang tua saya ada satu pohon petaling. Di kebun buah depan rumah ada tiga batang lagi. Jika sedang berbuah, kami akan memunguti buah petaling berjatuhan di tanah, atau sesekali memanjat. Daging buahnya kami pukul-pukul dengan kayu hingga mengelupas dan hanya tersisa bijinya. Bijinya sebesar kelereng. Biji itu biasanya direbus. Tapi lebih sering kami lemparkan saja ke tumpukan ranting yang dibakar ditengah kebun. Karena cara terakhir itu memberi kami hiburan. Biji-biji itu akan meletup dan berbunyi seperti petasan kecil setelah agak lama terbakar. Adakalanya biji itu ikut terlontar. Dengan begitu kami bisa menandai bahwa biji petaling sudah matang. Mirip dengan cara mengetahui roti panggang sudah matang begitu dilontarkan oleh toaster.


Di pasar Prabumulih, dulu kerap ditemukan pedagang menjual buah petaling.  Baik mentah atau yang sudah direbus. Tapi saat ini, pemandangan itu tak ditemukan lagi. Sebab, pohon ini memang bukanlah jenis yang dibudidayakan secara khusus. Tanaman hutan biasa. Atau jika ditanam, cuma sebagai tanaman tunggu-tungguan di kebun.


Secara berangsur-angsur, pohon ini menjadi langka. Lantaran hutan-hutan kecil di sekitar pemukiman habis ditebangi demi perluasan pemukiman. Pohon petaling juga ditebangi karena kayunya punya kualitas yang baik. Pada skala yang lebih besar hutan-hutan di sekitar Prabumulih dan bahkan Sumsel, juga dikonversi untuk perkebunan besar dan Hutan Tanaman Industri. Pola monokultur seperti pada perkebunan sawit atau HTI akasia juga mendorong laju habisnya pohon petaling.


Padahal, jika boleh berandai-andai... jika petaling masih bisa dibudidayakan kemudian diperkenalkan sebagai bahan nyamikan atau cemilan yang aneh dan sebutlah unik atau apalah, mungkin petaling punya harga yang bagus dan mahal. Tidak lagi cuma... ’secanting selawe’.
* * *

Posted by chan/syam at 04:12:23 | Permanent Link | Comments (3) |

May 18, 2006

Semua Daerah, Seksi!

Catatan Satu tahun blog dusunlaman    Bagian keempat: Semua Daerah, Seksi!   

 

Di media massa (baca: media nasional), pemberitaan mengenai Sumatera Selatan memang mendapat porsi yang sedikit. Bandingkan dengan berita mengenai Papua, Aceh, apalagi Jakarta.   

 

Dalam satu kesempatan, saya sempat berdiskusi ringan seorang aktivis LSM sekaligus praktisi hukum di Palembang. Diskusi ringan itu membahas pertanyaan yang mirip. Kenapa dukungan lembaga internasional lebih banyak mengarah pada isu-isu di daerah-daerah yang sudah disebut di atas?    

 

Kesimpulan teman saya itu: Sumsel tidak seksi!    

 

Maksudnya, seksi pada ranah “isu”. Sumsel tidak memiliki isu yang “menjual”. Tidak ada isu memisahkan diri, tak ada juga isu kerusakan lingkungan sedahsyat isu penambangan emas oleh PT. Freeport Mc Moron. Dan tak sepenting Jakarta, ibukota negara yang penuh dengan bahan berita. Mulai dari perampokan di taksi sampai korupsi di lembaga negara. Dari demonstrasi di Gedung DPR hingga amuk massa di jalan-jalan. Dari ustadz yang aneh hingga artis yang dianggap mempertontonkan kecabulan. Dari kemacetan lalu lintas sampai rencana pembangunan monorel. Pokoknya, di Jakarta segala isu ada. Dan lagi, seksi.   

 

Kiranya pendapat itu bisa diterima. Jika Sumsel saja dianggap tidak seksi, apalagi Prabumulih, sebuah titik kecil saja di propinsi ini. Walau sebenarnya, Prabumulih juga memiliki ragam isu yang sama dengan daerah lain. Isu maupun kasus kerusakan lingkungan, korupsi, pendidikan, pemerintahan, bahkan kelangkaan BBM juga terjadi di kota penghasil minyak dan gas bumi ini.    

 

Memang isu maupun kasus tersebut tidaklah sekrusial yang terdapat di Jakarta, Papua, atau Aceh. Karena tidak besar, maka tidak montok. Karena tidak montok maka tidak pula seksi.  Selain perkara keseksian isu, penyebab lain adalah keterbatasan halaman. Tak banyak koran memberi ruang yang besar untuk berita daerah. Baik rubrik “Nusantara” atau “Nasional” di koran nasional cuma menyediakan satu halaman untuk berita yang datang dari pelbagai pelosok tanah air.   

 

Maka dari itu, berharap berita tentang Prabumulih menghiasi halaman koran nasional nyaris muskil. Kecuali, misalnya pemogokan buruh minyak di sektor produksi yang berdampak pada terhentinya pasokan minyak mentah ke kilang di Plaju dan sungai gerong. Contoh lain, terhentinya kiriman gas bumi ke Pabrik Pupuk Sriwijaya atau berkurangnya gas bumi di stasiun pengukur di Singapura. Atau berita lain yang memang punya kaliber yang luar biasa lainnya.   

 

Jadi, kenapa tidak membuat media sendiri ? Prabumulih punya kekayaan budaya yang khas, punya potensi alam yang berlimpah, punya nilai strategis lainnya. Dan saya percaya bahwa setiap daerah itu, seksi!* * *
Posted by chan/syam at 08:30:01 | Permanent Link | Comments (5) |

May 16, 2006

Kalipucuk [Sebuah Memoar]

[Ditulis oleh Topan Redda Hasanuddin]    

 

Usai menikmati Kopi Pendopo yang dari ampasnya saja tergambar aromanya... Mari kita berkilas balik sebentar ke masa-masa sekolah dasar-ku di SD Negeri Nomor 1 Prabumulih...   

 

Itu mungkin masa-masa terbaikku di usia anak sekolah dasar yang sedang duduk di kelas 4 hingga kelas 6 SD. Suatu masa dimana kita tidak berpikir untuk masa kini dan kita tidak menoleh ke belakang, karena kita toh tidak punya ingatan apa-apa tentang masa lalu.    

 

Setelah pulang sekolah, saya  dan teman-teman, akan pergi menuju stasiun kota Prabumulih karena disitu akan ada ibu-ibu yang berderet berjualan "nasi uduk" atau "nasi gemuk" istilah kita. Lalu kita minta dibungkuskan masing-masing satu buah nasi gemuk plus sambal telor, tempe goreng, teri goreng, bawang goreng tidak ketinggalan ditaburkan agak banyak karena akan menambah aroma nikmat dan memang lezat saat di lidah. Tak lupa siraman sambal cabe encer di atas nasi gemuk itu tadi.   

 

Lalu kita berempat atau berlima kembali menyusuri rel keretaapi untuk menuju "Kali Pucuk" tempat semua orang berenang di kali yang airnya jernih apalagi jika habis hujan dan airnya akan cukup melimpah. Di perjalanan kita pasti akan melintasi desa Prabusari yang di pinggir-pinggir jalannya itu banyak tumbuh bunga kacapiring yang berbunga putih dan beraroma wangi. Melintasi jembatan di atas sungai Kelekar yang disampingnya berdiri pohon Rengas, melintasi Bangunan SD di tanjakan Prabusari, mencabuti ilalang yang tumbuh di pinggir jalan setapak, melewati padang savana kecil tempat para Pramuka berkemah, dan akhirnya sampailah kami di kali legendaris sang Kali Pucuk...   

 

Sebelum berenang berkecimpung di air yang dingin, kami sudah santap bersama di rimbunan semak seduduk putih, nasi gemuk yang tadi dibawa sejak dari stasiun Prabumulih... rasanya nikmaaat luar biasa karena sudah lapar dan lelah selama di perjalanan tadi.   Lalu ritual berenang pun dimulai, baju-baju dan celana-celana dilepas, badan sudah bugil telanjang sambil berhaha hihi berlari mencebur ke bagian air yang dalam.  Jebbburrrr...! Air menciprat, kepala sudah tenggelam hingga ke dasar air kali yang jernih. Ikan-ikan seluang kecil dan udang-udang kecil berenang-renang bebas di sekitar kaki-kaki...   

 

Tidak puas hanya mencebur dari pinggir kali, kami pun secara berurutan naik ke pohon "entah pohon apa namanya" dan dari ujung pohon yang paling tinggi dengan gaya kaki dipeluk dengan kedua tangan. Kami menyebut gaya itu "gaya dogan"...  Dan, terjun dengan mulut berteriak, “auuuooooo... auuoooo... auuoooo...”   

 

Adakah kini Kalipucuk itu masih bertahan ?* * *
Posted by chan/syam at 10:44:36 | Permanent Link | Comments (6) |

May 15, 2006

Kopi Pendopo: Nikmatnya Ampas

Jika anda seorang penikmat kopi, cobalah kopi pendopo. Memang kopi dari daerah di dekat Prabumulih tidak sepopuler kopi ketimbang kopi dari Semendo, Pagaralam atau Muara dua Kisam. Semendo dan Pagaralam memang terkenal sebagai sentra kopi terbesar di Sumatera Selatan. Kopi Muaradua kisam, di kabupaten OKU Selatan konon lebih dikenal dalam ”kemasan” kopi lampung. Maklum kawasan perkebunan kopi ini memang terletak di perbatasan Propinsi Sumsel dan Lampung.    

 

Singkat kata, kopi Pendopo sebenarnya sama saja dengan kopi di sumatera selatan lainnya. Berasal dari jenis kopi robusta. Secara umum rasanya pun seperti kopi sumatera lainnya, cenderung asam.   

 

Yang membedahkannya adalah pada saat kopi ini siap diminum. Jika kopi-kopi pabrikan lain mempromosikan kopi tanpa ampas, maka bersiaplah dengan sensasi nikmatnya ampas pada kopi Pendopo.  Kopi pendopo banyak sekali ampasnya. Dari secangkir kopi, sepertiganya adalah ampas yang mengambang di permukaan cangkir. Tentu saja ini disebabkan karena proses pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi. Baik pada proses penggorengan biji yang diduga disengaja tidak terlalu garing, juga proses penggilingannya yang disengaja tidak dibikin sangat halus.    

 

Meski begitu, kopi ini memiliki kelezatan yang tak kalah dengan kopi lainnya. Juga wangi. Ampasnya yang terkadang lekat disela gigi meninggalkan sensasi kopi yang berasa asam dan khas.     Sesekali cobalah kenikmatan kopi pendopo. Tanpa perlu takut ada yang memanggil anda dengan cara berseloroh, ”Pagi, Dona...!”*   

 

* potongan sebuah dialog dalam satu iklan kopi pabrikan yang menjual kopi tanpa ampas. * * *
Posted by chan/syam at 05:29:30 | Permanent Link | Comments (0) |

Naik Mokbil Meniti Sepur

Orang-orang Prabumulih dulu, yang sekarang sudah berusia sepuh, membunyikan kata mobil dengan mokbil.  Tidak diketahui kenapa demikian. Anggap saja sama dengan orang jawa dulu menyebut motor dengan montor.


Tapi, gara-gara kekeliruan yang dilakukan dulu sekali, sampai sekarang orang Prabumulih menyebut kereta api sebagai sepur. Ini tentu berasal dari Bahasa Belanda yang berarti rel kereta api. Barangkali karena rambu peringatan yang sering dipasang di perlintasan jalan raya dengan rel kereta api, yang kerap berbunyi: Awas Satu Sepur. Maksudnya, awas rel kereta satu jalur.
Sementara kata penunjuk untuk rel sendiri, oleh masyarakat lokal prabumulih disebut ban sepur. Boleh jadi kata ban yang dimaksud, berasal kata band dari bahasa Belanda. Artinya, pita.


Bahasa Belanda sendiri menyebut kereta api dengan trein.
* * *

Posted by chan/syam at 05:19:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Mencari Gunung di Prabumulih

Topografi Prabumulih dan sekitarnya dapatlah dikatakan rata saja. Tanpa pebukitan, lembah, apalagi gunung. Herannya, cobalah berkeliling dan temukan nama-nama gunung di sana. Niscaya ditemukan kampung atau dusun bernama Gunung Ibul, Gunung Kemala, Gunung Raja, Gunung Megang, dan Pagar Gunung.  * * *
Posted by chan/syam at 05:09:56 | Permanent Link | Comments (2) |

May 11, 2006

Raja Pulang dan Medan Pertempuran Mati-matian

Banyak yang tidak sepakat jika nama Prabumulih dikaitkan dengan kata prabu dan mulih. Dalam bahasa Jawa, keduanya berarti raja dan pulang. Atau jika dipadukan berarti raja yang pulang atau raja yang kembali.    

 

Keterangan yang menolak tentang ini menyebutkan, nama prabumulih berasal dari kata: uleh dan pehabung. Yang pada suatu masa dibalik menjadi pehabung dan uleh. Uleh berarti mendapatkan. Pehabung berarti penuh berlimpah. Konon karena lidah orang jepang ketika menduduki kawasan tambang minyak penting ini sulit menyebut pehabong uleh, maka jadilah parabumulih. Pada gilirannya kata ini mengalami penyederhanaan menjadi Prabumulih.   

 

Sementara, kelompok yang menerjemahkan Prabumulih sebagai raja pulang, berpijak pada legenda yang menyebutkan bahwa mahapatih kerajaan Majapahit, Gajahmada, pulang dari perang dan mangkat di Prabumulih. Peristirahatan terakhir sang mahapatih, dipercaya terdapat di Dusun Gunung Ibul. Penanda makam tersebut sebagai makam sang gajamada (yang barangkali dikira sang raja) adalah sebuah bekas tapak kaki berukuran lebih besar dari manusia pada kebanyakan.    Terlepas dari kontroversi tersebut, di sekitar Prabumulih terdapat tempat lain yang memakai nama Prabu. Yaitu, Prabu menang. Sayangnya, dusunlaman tidak memiliki catatan apakah nama prabu tersebut juga berasal dari kata Pehabung.  

 

Lebih lanjut, di Prabumulih terdapat juga tempat bernama Patigalung. Menurut Yulius Hendra dalam suatu obrolan dengan dusunlaman, untuk mengetahui sejarah suatu tempat, dapat dipelajari dari bahasa yang digunakan dalam penamaan tempat. ”Kata patigalung, bukan berasal dari bahasa prabumulih.” Demikian Yulius menerangkan.  Kata pati dan galung, berasal dari bahasa jawa kuno. Pati berarti mati-matian, dan galung berarti medan pertempuran besar. Patut diduga patigalung adalah penamaan untuk tempat dimana telah terjadi pertempuran mati-matian.  Barangkali karena itu, ada Prabu yang Menang dan Prabu yang Mulih?  * * *
Posted by chan/syam at 07:49:54 | Permanent Link | Comments (0) |

May 10, 2006

Kampung di Pompa Air

Dari stasiun kereta api Prabumulih, jika anda menyusuri rel ke arah Tanjung Karang atau Lubuk Linggau, tak sampai 1 kilometer anda akan bertemu percabangan rel yang memisahkan dua kota tujuan itu. Ketika mulai menyeberangi Sungai Tapus, di sebelah kiri terdapat perkampungan kecil. Namanya Kumpo. Semula bernama Kumpe, yang dalam bahasa Prabumulih berarti Pompa.

  

Dinamakan kampung Kumpo karena dulu memang terdapat sebuah pompa di sana. Pompa air untuk mengisikan air dari sungai ke ketel pada lokomotif tenaga uap. Sekarang meski Sang Kumpe tidak lagi berdiri di sana, lapuk dimakan zaman, kemudian pipa besinya yang bercat gelap telah menjadi barang kiloan, nama kumpe me atau kumpo telah lanjur menjadi nama kampung.

  * * *
Posted by chan/syam at 05:03:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Sosial

Pernah dengar nama kampung Sosial? Jika hendak mencari perabotan dapur berbahan besi atau alumunium, datanglah ke sana. Kampung kecil ini adalah kampung pengrajin. Sentra penghasil kompor, panci, kukusan, langsang, dan lain-lain.


Kampung ini terdapat persis di antara Bakaran dan Prabusari. Penduduk kampung sosial mayoritas datang berasal dari wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) yang merupakan para pengrajin yang pandai.


Dusunlaman tidak mendapatkan catatan, apakah kampung ini memiliki nama tersendiri pada awalnya. Tapi sebagian masyarakat dusun prabumulih menyebut kampung ini dengan kampung ”Ikak Sue”. Penamaan tersebut sebenarnya berasal dari kata ”ikak” dan ”sue”. Dalam salah satu bahasa OKI, kedua kata itu berarti ”ini” dan ”apa”.  Barangkali karena pada awal masa pembauran, penduduk kampung sosial sering terdengar menyebutkan ”ikak sue?”. Hal itu diperparah lagi dengan ketidakpahaman penduduk lokal (dusun prabumulih) yang belum mengerti bahasa yang dibawa dari  daerah OKI tersebut.


Sejak kapan nama ”Sosial” disematkan sebagai nama kampung? Konon, bermula dari masuknya program dari Departemen Sosial.

Yaitu, program pembinaan bagi para pengrajin yang pandai memproduksi aneka perabot dapur.  
Meski program pembinaan tersebut sudah lama terhenti,
nama ”Sosial” tampaknya abadi.
* * *

Posted by chan/syam at 04:55:25 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2