May 18, 2006
Semua Daerah, Seksi!
Bagian keempat: Semua Daerah, Seksi!
Di media massa (baca: media nasional), pemberitaan mengenai Sumatera Selatan memang mendapat porsi yang sedikit. Bandingkan dengan berita mengenai Papua, Aceh, apalagi Jakarta.
Dalam satu kesempatan, saya sempat berdiskusi ringan seorang aktivis LSM sekaligus praktisi hukum di Palembang. Diskusi ringan itu membahas pertanyaan yang mirip. Kenapa dukungan lembaga internasional lebih banyak mengarah pada isu-isu di daerah-daerah yang sudah disebut di atas?
Kesimpulan teman saya itu: Sumsel tidak seksi!
Maksudnya, seksi pada ranah “isu”. Sumsel tidak memiliki isu yang “menjual”. Tidak ada isu memisahkan diri, tak ada juga isu kerusakan lingkungan sedahsyat isu penambangan emas oleh PT. Freeport Mc Moron. Dan tak sepenting Jakarta, ibukota negara yang penuh dengan bahan berita. Mulai dari perampokan di taksi sampai korupsi di lembaga negara. Dari demonstrasi di Gedung DPR hingga amuk massa di jalan-jalan. Dari ustadz yang aneh hingga artis yang dianggap mempertontonkan kecabulan. Dari kemacetan lalu lintas sampai rencana pembangunan monorel. Pokoknya, di Jakarta segala isu ada. Dan lagi, seksi.
Kiranya pendapat itu bisa diterima. Jika Sumsel saja dianggap tidak seksi, apalagi Prabumulih, sebuah titik kecil saja di propinsi ini. Walau sebenarnya, Prabumulih juga memiliki ragam isu yang sama dengan daerah lain. Isu maupun kasus kerusakan lingkungan, korupsi, pendidikan, pemerintahan, bahkan kelangkaan BBM juga terjadi di kota penghasil minyak dan gas bumi ini.
Memang isu maupun kasus tersebut tidaklah sekrusial yang terdapat di Jakarta, Papua, atau Aceh. Karena tidak besar, maka tidak montok. Karena tidak montok maka tidak pula seksi. Selain perkara keseksian isu, penyebab lain adalah keterbatasan halaman. Tak banyak koran memberi ruang yang besar untuk berita daerah. Baik rubrik “Nusantara” atau “Nasional” di koran nasional cuma menyediakan satu halaman untuk berita yang datang dari pelbagai pelosok tanah air.
Maka dari itu, berharap berita tentang Prabumulih menghiasi halaman koran nasional nyaris muskil. Kecuali, misalnya pemogokan buruh minyak di sektor produksi yang berdampak pada terhentinya pasokan minyak mentah ke kilang di Plaju dan sungai gerong. Contoh lain, terhentinya kiriman gas bumi ke Pabrik Pupuk Sriwijaya atau berkurangnya gas bumi di stasiun pengukur di Singapura. Atau berita lain yang memang punya kaliber yang luar biasa lainnya.
Jadi, kenapa tidak membuat media sendiri ? Prabumulih punya kekayaan budaya yang khas, punya potensi alam yang berlimpah, punya nilai strategis lainnya. Dan saya percaya bahwa setiap daerah itu, seksi!* * *


Prabumulih itu memang kecil tapi berpotensi…
Kalau dulu, sesuai catatan KawanSyam, pernah bergabung ke Marga Rambang Kapak Tengah yang berkedudukan di Tanjungrambang, maka sekarang kondisinya terbalik…
Tanjungrambang menginduk dan jadi bagian dari Prabumulih..
Tapi Prabumulih seharusnya bisa dibikin besar…
Dengan kontribusi dari para orang Prabumulih yang berada di luar “negeri”…. Dengan inisiatif KawanSyam melalui weblog ini, bisa menjangkau orang Prabumulih di seluruh Indonesia…
Tiap tahun kita bisa datang ke Prabumulih dan membahas apa yang bisa dilakukan. Mungkin bisa diwujudkan dengan membuka “Universitas Prabumulih”…. atau apa sajalah yang bisa membantu peningkatan pendidikan masyarakat Prabumulih… Harapan ini adalah doa yang bisa terwujud, Insya Allah…
TRH
Jakarta Timur
membantu memajukan
Ass.Wr.Wb
Aku tertarik dengan tulisan saudara TRH dari Jakarta Timur, jadi untuk orang-orang yang berasal/dibesarkan di Prabumulih dan sudah berhasil dalam tanda kutif, untuk tidak lupa dengan Prabumulih. Saya sering mendengar dan membaca komentar orang-orang yang katanya sudah berhasil dan berpengalaman bahkan sudah berkeliling dunia dari Prabumulih. Pertanyaan saya apa kontribusi nya yang sudah dilakukan untuk Prabumulih??????
Wss
Untuk para pemuda rantau dari Prabumulih, ngape nak jaoh-jaoh caka duet..diluar diprabumulih ini baiii, diprabumulih ini sebenarnya peredaran duet dipbm cukup banyak kalau diteliti, diPrabumulih ini sebenarnya tungkah duet kalau pacak dimanfaatkan…!!! Banyak para cukong2 mate sipit dari mane2 caka diPrabumulih…??? ngape kite nak belahi keluar,Padahal banyak fasilitas yang dapat mendukung kite choiiii oke….??? Mari same2 kite manfaatkan.
Terima kasih atas sarannye, Mang Juhai.
secare pribadi, aku sependapat dengan saran itu.
secare pribadi pule, aku mileh dek menetap di dusun prabumuleh. Hehehe…
Salam,
Syam
Do best for our city (lovely Prabumulih).
Sebagai orang yg lahir dan besar di Prabumulih terus tertanam dalam diri saya di perantauan bagimana memajukan tanah kelahiran saya. Maka dari itu saya mencari-ilmu jauh jauh di kota orang, yang insyaalah ilmu itu bisa saya aplikasikan untuk sumsel umumnya dan Prabumulih khususnya.