Agustus 29, 2005

Soal Perbatasan, Muaraenim-Prabumulih Sepakat Damai

MUARAENIM, SRIPO — Untuk memberikan kemudahan dan meningkatkan pelayanan kepada seluruh masyarakat, terutama yang berdomisili di daerah perbatasan, Bupati Muaraenim H Kalamudin Djinab, SH dan Walikota Prabumulih Drs H Rachman Djalili, MM melakukan kesepakatan di sejumlah bidang, terutama bidang pelayanan publik. Kesepakatan antar dua pemerintah daerah itu dilakukan Sabtu (27/8) di Desa Sugihwaras.

 

Di dalam MoU tersebut setidaknya ada beberapa bidang kerja sama yang disepakati antara kedua belah pihak, yaitu bidang pendidikan dan kebudayaan, kesehatan, transportasi, pendapatan daerah, pemerintahan, lingkungan hidup, pekerjaan umum, tenaga kerja, pertanian dan lain-lain terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik. Menurut Kalamudin, penandatanganan MoU tersebut merupakan suatu tonggak sejarah antara Pemkab Muaraenim-Pemkot Prabumulih, untuk meningkatkan kerja sama dan pelayanan terhadap masyarakat di daerah perbatasan. Sebab selama ini biasanya masyarakat yang berkecamattempat tinggal di daerah perbatasan, baik itu antar kabupaten/kota, propinsi bahkan negara, kondisi perekonomian masyarakat selalu tertinggal.

 

Bahkan lebih dari itu, diharapkan ke depan akan ada puskesmas terpadu ataupun sekolah unggulan terpadu di daerah perbatasan, yang dananya berasal dari Pemkab Muaraenim dan Pemkot Prabumulih. Sementara itu Bupati Kalamudin dan Walikota Rachman Djalili dalam kesempatan yang sama mendapatkan gelar adat dari Ketua Adat Rambang Burani. Untuk Kalamudin mendapatkan gelar Penateh Bupati Payung Lurah, sedangkan Rachman Djalili mendapatkan gelar Mamak Setie Rambang yang meliputi Puyang Setie Liling, Puyang Setie Manbul, Puyang Setie Mulak, dan Puyang Setie Bugola. Di mana empat setie (puyang) tersebut merupakan cikal bakal keturunan marga Rambang. (ari)

 

[sumber: sriwijaya post, 29 Agustus 2005)

Posted by chan/syam at 07:04:30 | Permanent Link | Comments (0) |

Menggagas Langkah Komoditi Prabumulih Menuju Pasar Global

Pekan lalu dusunlaman [www.dusunlaman.blog.com] mendapat masukan dari salah satu rekan Prabumulih, Yudha di Yogyakarta. Masukan itu berupa gagasan, bagaimana jika media ini mampu berperan untuk mengenalkan produk dan komoditi perdagangan asal Prabumulih.

 

Sudah barang tentu, dusunlaman menyambut baik gagasan tersebut. Mengingat selain komoditi migas, Prabumulih dikenal dengan penghasil buah nanas dan hasil bumi lainnya.

 

Maka yang terpikir pertama kali oleh dusunlaman adalah menyediakan ruang semacam direktori komoditi Prabumulih yang ingin dikenalkan kepada calon pembeli di luar Prabumulih.

 

Banyak sekali komoditi Prabumulih yang bisa diperkenalkan ke publik di luar prabumulih. Sebut saja kerajinan rotan seperti, ambung, keruntung, nyihu, tampah, bakul, behunang, atau lainnya yang khas. Atau produk olahan buah, misalnya lempok atau tempoyak.

 

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, dukungan dan kontribusi rekan sekalian sangat diharapkan. Jika memiliki produk atau komoditi yang ingin dipromosikan melalui media ini, silahkan kirim ringkasan berikut spesifikasi produk, sangat dianjurkan disertai foto. Silahkan kirimkan ke kawansyam@yahoo.com.

 

Tabik,

dusunlaman  

 

Posted by chan/syam at 05:51:14 | Permanent Link | Comments (1) |

Agustus 19, 2005

Pangking = Pance = Panjang Cerite

Pangking adalah juga bale-bale, saung, yang dibuat sebagai tempat duduk dibawah lindap pohon atau dinding rumah. Umumnya alasnya dirangkai dari bambu. Mulai dari seukuran bangku (bukan kursi) SD sampai sebesar halte busway (lengkap dengan kanopi)nya. Pangking adalah juga bale-bale, saung dalam bahasa Prabumulih.

 

Pangking tidak hanya menjadi tempat beristirahat melewatkan sedikit waktu sambil bergosip. Tidak juga sebagai tempat ibu-ibu mencari kutu. Para perempuan tua biasanya lebih memilih tundan atau beranda rumah panggung sebagai tempat bergosip sambil berburu kutu kepala rekannya. Pilihan lainnya adalah tangga. Mulai dari tundan, berjejer sampai anak tangga dekat tanah.

 

Maka jadilah pangking sebagai tempat berdiskusi para laki-laki sambil mengunyah kudapan dan secangkir kopi atau teh. Kadang kala juga botol minuman beralkohol... Diskusi terjadi melompat-lompat dari persoalan ke persoalan lain. Dari satu isyu ke isyu lain. Dari harga getah karet, pengangguran, sampai pilkada.

 

Pangking kemudian menjadi forum dialektika ragam persoalan lokal. Tanpa disengaja tentu saja. Di pangking aku sering menghabiskan waktu, ngobrol ngalor ngidul, dari nungging hingga njengking.

 

Karenanya pangking yang dalam nama lokal masyarakat lokal pinggiran DAS Lematang disebut dengan “Pance”,... diberi kepanjangan “PANjang CErite”

 

Posted by chan/syam at 11:28:32 | Permanent Link | Comments (0) |

Agustus 05, 2005

karamunting

pbm karamuntingkaramunting02karamunting

Bunga dan putik karamunting yang sebentar lagi masak. Buah ini adalah buah liar yang populer di Prabumulih. Penulis pernah mendapat kiriman teh jenis forest tea, sebenarnya teh biasa yang diramu dengan buah-buah black berry yang tumbuh liar di hutan eropah. Kalau teh dicampur karamunting, barangkali enak juga :)

Posted by chan/syam at 05:33:11 | Permanent Link | Comments (7) |

Agustus 03, 2005

Jerambah Kuning

  pbm jeramba kuning “Jerambah Kuning”, artinya “Jembatan Kuning” sebenarnya sebuah lubuk kecil di aliran Sungai Jambat Tehas. Bagian sungai ini memotong jalan lingkar yang menghubungkan kawasan bakaran dengan kawasan tugu kecil. Nama jerambah kuning diambil dari jembatan di jalan itu yang melintasi bagian sungai ini. Dulu, pagar pengaman jembatan adalah pipa yang dicat dengan warna kuning bergaris hitam.

 

 pbm jeramba kuning2 Tempat ini sempat menjadi pemandian yang populer. Meski tidak sepopuler bagian hulunya, “Kali pucuk”, Jerambah kuning menjadi pilihan orang-orang yang ingin karena airnya lebih deras dan sediki lebih dalam dan jernih kehijauan. Itu disebabkan karena bagian dasar lubuk dipenuhi pasir.

 

jerambah kuning2Saat ini, Jerambah Kuning tidak lagi berfungsi sebagai tempat pemandian karena pendangkalan. Barangkali karena hutan di bagian hulu semakin sedikit. Selain itu, beberapa aktivitas lain diduga memperburuk kondisi ini. Salah satunya adalah pembangunan sumur oleh salah satu industri tahu seperti foto-foto di bawah ini.

Jerambah Kuning7 jerambah kuning 4

 

Posted by chan/syam at 09:02:26 | Permanent Link | Comments (0) |

Prabu dan Presiden

PRESIDEN T PRESIDEN

Gedung ini merupakan bekas salah satu pusat hiburan di Prabumulih. Bioskop yang pernah berganti nama dari Prabu Theatre dan Presiden Theatre. Sekarang bernasip sama dengan gedung-gedung bioskop lainnya; Mati.

 

* * *

Posted by chan/syam at 08:35:57 | Permanent Link | Comments (2) |