Little story on the Pehabong Uleh Part 2
Oleh : Atharis Sultan Prayoe*
Manusia di abad modern ini semua kebutuhannya tersedia serba instant. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, perumahan tak terkecuali mainan anak-anak. Masih ingat ketika kecil saya membuat mobilan sendiri dari papan kayu. Ban mobilnya terbuat dari sandal jepit yang diparut dengan parutan kelapa. Bagaimana dengan anak anak sekarang? Mereka terjebak dengan kemanjaan teknologi. Terakhir, sekitar 1 atau 2 tahun lalu, teknologi Cina membombardir mobilan dari kayu tersebut. Hancur, bo!
Mobil quick-drive alias QD atau mobilan dengan remote control melanda Indonesia. Demam terjadi dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan. Kemudian menjangkiti kota-kota kecil hingga merambah ke kampoeng-kampoeng. Permainan-permainan hi-tech lain, sekarang menjadi kegemaran anak-anak. Sebut saja mulai dari Nintendo, Play Station, Game-Boys sampai Game Computer yang sangat beragam permainannya.
Tiada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri, Begitu kata-kata bijak. Mulai dari zaman kuda gigit besi sampai sekarang ini, kuda sudah gigit roti, perubahan terjadi demikian cepat. Tak terkecuali dunia anak anak. Ada sesuatu yang hilang dari dunia anak, yaitu kebersamaan saat mereka bermain bersama. Keakraban timbul secara alamiah ketika saling berinteraksi dan bereaksi satu dengan yang lainnya.
Jiwa sosial dan humanisme, kesetiakawanan yang terbangun dari permainan kanak-kanak tradisional hilang. Hal-hal tersebut jarang ditemui pada anak anak modern sekarang ini. Teknologi berhasil memacu kemajuan, tapi harus diiringi dengan mental dan iman yang kuat untuk men-drive-nya agar tidak salah jalan. (He he he kebanyakan dengerin Hemawan K, James kwui, jadi agak diplomatis, nih).
Main Cetoran dari Bambu
Salah satu ingatan pada mainan masa kanak-kanak, adalah cetoran. Saat masih duduk di sekolah dasar, kami bermain perang perangan dengan menggunakan senjata cetoran. Biasanya dengan teman-teman, kami membagi menjadi dua regu berlawanan. Misinya: saling memperebutkan benteng masing-masing.
Cetoran adalah mainan yang terbuat dari bambu (Bamboo) yang ruasnya dipotong. Isi dalamnya dibersihkan hingga membentuk rongga seperti laras senapan. Panjang sisi ini adalah 30 hingga 50 cm. Sebagai alat pemicu atau pelatuknya juga terbuat dari bambu sepanjang 5 sampai 10 cm. Ditengah pemicu dipasang stick juga dari bambu, panjangnya hampir sama (kurang-lebih 0,5 cm lebih pendek) dari laras cetoran.
Pelurunya, putik jambu air atau buah talek atau keliat yang banyak terdapat di hutan-hutan Prabumulih. Cara pemakaiannya hampir sama dengan senapan jaman VOC, atau kecepek [senjata api buatan lokal Sumsel] atau bedil. Putik jambu atau buah keliat dipadatkan di mulut cetoran bagian pangkal laras.
Membuat mainan ini sangat mengasyikan. Bayangkan, pencarian bahan atau bambu tidak mudah didapat. Harus dicari ke hutan yang berada di seberang Sungai Kelekar. Hutan itu di dekat kebun Pak H. Hamit Keninjung (Kalau tidak salah nama) yang cukup luas di daerah Karang Raja. Untuk mencapai hutan itu, kami harus menyeberangi sungai dengan berenang. Padahal, saat itu Sungai Kelekar berbau kurang sedap akibat pencemaran dari limbah Pertamina (Kalau tidak salah pencemaran ini masih berlanjut sampe sekarang. Hiks, sedih lihat sungai kita tercemar. Gimana Pertamina? tanggungjawab Donk! Kembalikan sungaiku !!!)
Karena itu, pencarian bambu ini tidak dilakukan sendiri. Melainkan beramai ramai dengan teman-teman sambil bercengkrama dan bersenda-gurau. Tentu saja, itu semakin menambah keakraban di antara kami. Biasanya, kami tidak lupa membawa betetan telok untuk membidik burung atau buah-buahan yang ada di kebun orang ( hehehe, yang ini jangan ditiru, yah!!!).
Makanya saat pulang, kami tidak hanya membawa bambu bahan cetoran. Juga membawa buah-buahan. Sambil menyelam minum air, begitu bunyinya!
Kembali ke peran-perangan. Selain bersenjata cetoran, kami juga melengkapi tubuh dengan rompi anti peluru. Anti peluru??? Ya, kami menyebutnya seperti itu karena dapat melindungi baju kami dari getah peluru yang ditembakan musuh, sehingga baju yang dipakai untuk perang perangan tidak kotor. Rompi anti peluru terbuat dari kantong asooy atau istilah lainnya kantong kresek. Disebut demikian karena bunyinya yang kresek-kresek kalau digesek sama orang yang hidung pesek hehehe... brengsek !!!).
Perang ini punya Rule atau aturan main, yang mendidik sportifitas, tidak kenal menyerah, setia kawan dan kekompakan team (istilah keren sekarang Team Work, Coy...!). Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam permainan ini, tidak pernah terjadi keributan atau perkelahian antara kami karena kami menganggap Its Only Game and friendship Its every think for us, because we loved one each other... (Hehehe... kayak bule saja, benar nggak Inggrisnya, ya**?!!!). Ada yang ingin mencoba...?
To Be Continued...
* * *
* Atharis Sultan Prayoe, penulis kelahiran Prabumulih. Saat ini bermukim di Surabaya.
** Catatan Editor : Hehehe... Baru pulang les bahasa Inggris, ya? =)







Komentar terakhir
aku lagi cari2 cerita rakyat
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora