Juni 29, 2005

Little story on the Pehabong Uleh Part 2

Oleh : Atharis Sultan Prayoe*

 

Manusia di abad modern ini semua kebutuhannya tersedia serba instant. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, perumahan tak terkecuali mainan anak-anak. Masih ingat ketika kecil saya membuat mobilan sendiri dari papan kayu. Ban mobilnya terbuat dari sandal jepit yang diparut dengan parutan kelapa. Bagaimana dengan anak anak sekarang? Mereka terjebak dengan kemanjaan teknologi. Terakhir, sekitar 1 atau 2 tahun lalu, teknologi Cina membombardir mobilan dari kayu tersebut. Hancur, bo’!

         

Mobil quick-drive alias QD atau mobilan dengan remote control melanda Indonesia. Demam terjadi dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan.  Kemudian menjangkiti kota-kota kecil hingga merambah ke “kampoeng-kampoeng”. Permainan-permainan hi-tech lain, sekarang menjadi kegemaran anak-anak. Sebut saja mulai dari Nintendo, Play Station, Game-Boys sampai Game Computer yang sangat beragam permainannya.

         

“Tiada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri,” Begitu kata-kata bijak. Mulai dari zaman kuda gigit besi sampai sekarang ini, kuda sudah gigit roti, perubahan terjadi demikian cepat. Tak terkecuali dunia anak anak. Ada sesuatu yang hilang dari dunia anak, yaitu kebersamaan saat mereka bermain bersama. Keakraban timbul secara alamiah ketika saling berinteraksi dan bereaksi satu dengan yang lainnya.

 

Jiwa sosial dan humanisme, kesetiakawanan yang terbangun dari permainan kanak-kanak tradisional hilang. Hal-hal tersebut jarang ditemui pada anak anak modern sekarang ini. Teknologi berhasil memacu kemajuan, tapi harus diiringi dengan mental dan iman  yang kuat untuk men-drive-nya agar tidak salah jalan. (He he he kebanyakan dengerin Hemawan K, James kwui, jadi agak diplomatis, nih).

 

Main Cetoran dari Bambu

 

Salah satu ingatan pada mainan masa kanak-kanak, adalah cetoran. Saat masih duduk di sekolah dasar, kami bermain perang perangan dengan menggunakan senjata “cetoran”. Biasanya dengan teman-teman, kami membagi menjadi dua regu berlawanan. Misinya: saling memperebutkan benteng masing-masing.

 

Cetoran adalah mainan yang terbuat dari bambu (Bamboo) yang ruasnya dipotong. Isi dalamnya dibersihkan hingga membentuk rongga seperti laras senapan. Panjang sisi ini adalah 30 hingga 50 cm. Sebagai alat pemicu atau pelatuknya juga terbuat dari bambu sepanjang 5 sampai 10 cm. Ditengah pemicu dipasang stick juga dari bambu, panjangnya hampir sama (kurang-lebih 0,5 cm lebih pendek) dari laras cetoran.

 

Pelurunya, putik jambu air atau buah talek atau keliat yang banyak terdapat di hutan-hutan Prabumulih. Cara pemakaiannya hampir sama dengan senapan jaman VOC, atau kecepek [senjata api buatan lokal Sumsel] atau bedil. Putik jambu atau buah keliat dipadatkan di mulut cetoran bagian pangkal laras.

 

Membuat mainan ini sangat mengasyikan. Bayangkan, pencarian bahan atau bambu tidak mudah didapat. Harus dicari ke hutan yang berada di seberang Sungai Kelekar. Hutan itu di dekat kebun Pak H. Hamit Keninjung (Kalau tidak salah nama) yang cukup luas di daerah Karang Raja. Untuk mencapai hutan itu, kami harus menyeberangi sungai dengan berenang. Padahal, saat itu Sungai Kelekar berbau kurang sedap akibat pencemaran dari limbah Pertamina (Kalau tidak salah pencemaran ini masih berlanjut sampe sekarang. Hiks, sedih lihat sungai kita tercemar. Gimana Pertamina? tanggungjawab Donk! Kembalikan sungaiku !!!)

 

Karena itu, pencarian bambu ini tidak dilakukan sendiri. Melainkan beramai ramai dengan teman-teman sambil bercengkrama dan bersenda-gurau. Tentu saja, itu semakin menambah keakraban di antara kami. Biasanya, kami tidak lupa membawa betetan telok untuk membidik burung atau buah-buahan yang ada di kebun orang ( hehehe, yang ini jangan ditiru, yah!!!).

 

Makanya saat pulang, kami tidak hanya membawa bambu bahan cetoran. Juga membawa buah-buahan. Sambil menyelam minum air, begitu bunyinya!

 

Kembali ke peran-perangan. Selain bersenjata cetoran, kami juga melengkapi tubuh dengan rompi anti peluru. Anti peluru??? Ya, kami menyebutnya seperti itu karena dapat melindungi baju kami dari getah peluru yang ditembakan musuh, sehingga baju yang dipakai untuk perang perangan tidak kotor. Rompi anti peluru terbuat dari kantong asooy atau istilah lainnya kantong kresek. Disebut demikian karena bunyinya yang kresek-kresek kalau digesek sama orang yang hidung pesek hehehe... brengsek !!!).

         

Perang  ini punya Rule atau aturan main, yang mendidik sportifitas, tidak kenal menyerah, setia kawan dan kekompakan team (istilah keren sekarang Team Work, Coy...!). Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam permainan ini, tidak pernah terjadi keributan atau perkelahian antara kami karena kami menganggap “It’s Only Game and friendship It’s every think for us, because we loved one each other...” (Hehehe... kayak bule saja, benar nggak Inggrisnya, ya**?!!!). Ada yang ingin mencoba...?

 

To Be Continued...

* * *

           

*   Atharis Sultan Prayoe, penulis kelahiran Prabumulih. Saat ini bermukim di Surabaya.

** Catatan Editor : Hehehe... Baru pulang les bahasa Inggris, ya? =)

Posted by chan/syam at 10:37:05 | Permanent Link | Comments (2) |

Juni 27, 2005

Senuling; Sebuah Jalan

“Ini kan sama dengan jalan Cendana!” Seorang pemuda usia tanggung berseloroh dengan kawan-kawan sebayanya di sebuah pangking (bale-bale bambu yang biasanya terdapat di depan rumah masyarakat).

 

Tidak sulit memahami apa yang dimaksud pemuda tanggung itu. Tentu saja jalan cendana yang ia maksud adalah jalan yang terdapat di depan rumah bernomor 10 milik mantan penguasa negara ini. Dia menyamakannya dengan Senuling di dusun Prabumulih. Dalam pandangannya, di jalan kecil (dimana sebuah mobil harus melambat di tepian jika ada mobil lain datang dari arah berlawanan) sepanjang paling-paling 1 kilometer itu, terdapat rumah  4 pejabat (baca: penting). Berderet dari arah pangkal (Gedung SDN 23): M. Erwadi, Desta Dwi Dutayana, dan Azimi (ketiganya anggota DPRD Kota Prabumulih). Itu belum cukup, masih ada satu rumah lagi yaitu kediaman Yuri Gagarin, beliau bukan kosmonot, melainkan wakil walikota Prabumulih. Maka, masuk akal juga pikiran anak laki-laki usia tanggung tadi.

 

Namun, apakah keberadaan 4 pejabat publik tersebut dirasakan menguntungkan bagi masyarakat di jalan itu yang notabene bertetangga dengan sang pejabat? Nanti dulu!

 

Media dusunlaman pernah berbincang dengan beberapa laki-laki dewasa yang sedang ngobrol di salah satu teras bawah rumah panggung. Bapak-bapak yang mengenakan kopiah itu sedang menunggu giliran mengaji di salah satu rumah. Kebetulan saat itu masih giliran para ibu selesai.

 

Menurut mereka ada beberapa tidak ada perubahan yang berarti di sepanjang jalan itu. Ambil salah satu contoh, tenaga kerja. Jumlah remaja nongkrong malah makin banyak lantaran tidak ada lapangan pekerjaan. Taraf kesejahteraan, kemudahan mendapatkan pelayanan publik (seperti layanan kesehatan, pendidikan atau yang lain), penambahan fasilitas publik, juga tidak mengalami perubahan.

 

Tapi, betulkah tidak ada peningkatan sama sekali. Seorang bapak buru-buru meralat. “Ada lah... lampu jalan bertambah satu. Itu!” Katanya sambil menunjuk.

 

* * *

Posted by chan/syam at 10:50:21 | Permanent Link | Comments (0) |

Kisah Jalan Leher Botol

 

Begitu memasuki kota Prabumulih, di Cambai para pejalan akan disambut sebuah gapura yang menelan dana 400 juta rupiah (termasuk gapura di kawasan Simpang Penimur).

 

Selanjutnya, jalan-jalan kota amemperlihatkan betapa kota kecil ini mulai bergerak berkembang. Mulai sekitar kawasan simpang Muara Dua, jalan terbagi menjadi dua jalur. Penataan itu direncanakan akan mencapai kawasan Smipang Empat (batukuning) kelurahan Patigalung.

 

Proyek pelebaran badan jalan Sudirman itu berhenti di kawasan dusun Prabumuli, tepatnyasekita bekas lapangan tenis dekat di pertigaan jalan Senuling. Tidak jelas apa yang menyebabkan itu terjadi. Padahal pihak birokrat (pemerintahan kota) prabumulih tidak bekerja sendiri. Proyek itu juga menggunakan pendekatan militer, alias juga dikerjakan oleh Batalyon Zeni Tempur II/SG Kodam II Sriwijaya yang memang bermarkas di Prabumulih. Penggunaan batalyon ini tentu dengan alasan, peralatan berat mereka memadai.

 

Rumor yang berkembang kemudian, rupa-rupa warnanya. Ada yang menyebutkan, bahwa masyarakat dusun Prabumulih menghambat kemajuanlah, atau meminta gantirugi terlalu tinggi. Bahkan ada rumor yang menekankan, bahwa kegagalan proyek tersebut adalah ketidakbecusan pejabat wakil walikota Prabumulih melakukan pendekatan kepada masyarakat, padahal wawako Yuri Gagarin dianggap mewakili masyarakat di lokasi tersebut.

 

Yang penulis ketahui, pada pertengahan 2003, beberapa lembaga diantaranya LBH Palembang dan Serikat Buruh Bersatu Prabumulih (SBBP) pernah melakukan penyebaran informasi berupa poster yang berisi Keppres No 55/1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan

 

Dekat-dekat kejadian itu, ketika traktor yang dioperasikan oleh anggota Yon Zipur berhasil menyeberangi jembatan sungai Muntang Tapus (Sebelah bekas Hotel Murni—50 meter dari Alai Batu), seorang pemilik lahan meminta pekerjaan tidak diteruskan sebelum ada kesepakatan. Ia adalah pemilik lahan yang diatasnya berdiri bedeng (bekas gedung sekolah Yayasan Pendidikan Kerja—YPK). Bapak H. Mat Sulan bin Djuri.

 

Penulis tidak yakin persis hubungan antara berhentinya pekerjaan itu sampai sekarang dengan apa yang dilakukan salah satu pemilik lahan tersebut. Pelebaran itu memang berhenti disana, menyempit kembali seperti mulut botol, dan lebar kembali di depan bawah kemang, tepay di depan kantor Pertamina DOH Sumbagsel. Tentang ini tidak perlu heran, sebab bukan hanya lahan tersebut milik pertamina, hingga prosesnya tidak njelimet. Tapi juga pertamina mengerjakan dan membiayai sendiri pekerjaan tersebut, sampai depan kantor markas Yon Zipur, konon.

 

Lalu, apakah benar rumor yang berkembang tersebut. Bahwa masyarakat dusun Prabumulih menolak proyek tersebut, meminta nilai ganti rugi terlalu tinggi, atau ketidakbecusan pemerintah kota.

 

M. Erwadi, salah seorang anggota DPRD Kota Prabumulih dalam satu kesempatan berdiskusi kecil dengan penulis membantah rumor-rumor tersebut. Menurut Gatot (panggilan akrab M. Erwadi), sangat tidak bijak menyimpulkan bawa masyarakat dusun Prabumulih (Baca: yang bermukim di sepanjang Jl. Sudriman) menolak proyek pelebaran jalan menjadi dua jalur. Untuk menguatkan pendapatnya Gatot menambahkan, “Apakah sudah ada yang mendata, siapa saja yang menolak atau siapa saja yang menerima?”

 

Intinya adalah belum pernah ada sosialisasi secara utuh dan menyeluruh kepada masyarakat. Maka, yang akan ia (baca: selaku anggota DPRD) lakukan bersama pihak terkait adalah membentuk tim untuk melakukan sosialisasi mengenai hal tersebut.

 

* * *

Posted by chan/syam at 10:17:32 | Permanent Link | Comments (0) |

Juni 23, 2005

Demi Nostalgia [Boleh] Beli Kaset Bajakan

Begitu metromini melambat di mulut terminal Blok M sebab padat antrean. Beberapa penumpang turun [baca: melompat] di sana, termasuk saya. Waktunya membeli koran, koran-koran terlucuti harga aslinya menjelang malam. Saya menarik Kompas dan Koran Tempo, masing-masing tumpukan di tandai dengan papan kecil bertuliskan harga. Kompas hanya menjadi Rp. 1.500 (harga pagi : Rp. 2500). Sedang Koran Tempo yang resminya Rp. 2.400 jadi seribu perak.

 

Lapak-lapak pedagang kaki lima berjubal. Mulai dari buku bekas, onderdil loak, pakaian, VCD porno. Penjual kaset dan VCD lagu juga tumpah ruah. House music, dangdut, pop&rock, diputar dengan speaker berebut mencari telinga. Lamat-lamat terdengar suara yang akrab ditelinga saya; Karel Simon dan Hera Sofyan. Lagu “Tige Serangkai”. Lagu itu berasal dari album “Lagu-Lagu Daerah Sumbagsel” produksi Tanama Record. Meski sound suara lamat itu terdengar “parah” dari sound system yang sama “parah”, tapi perhatian saya tersedot.

 

Tidak susah menemukan sumber suara itu. Sebuah lapak penjual kaset bajakan. Tempatnya hanya sebuah meja dan atap terpal seadanya. Bajakan? Saya jarang membeli kaset, baik orisinil atau bajakan. Kalau terpaksa harus beli, maka saya pilih yang orisinil. Bukan anti kegiatan bajak membajak, hanya biar tidak menyesal karena kualitas kaset bajakan sering tidak begitu memuaskan.

 

“Kasetnya mana?”

 

Penjualnya hanya menunjuk ke arah kaset yang saya cari. Tetangga penjual kaset menanyakan apakah saya dari Palembang, persis saat saya menjumput benda yang mengantar saya ke sana. “Prabumulih...,” Jawab saya.

 

Kami sempat ngobrol untuk beberapa saat. Lalu saya pergi setelah membayar enam ribu perak. Harga yang sangat murah untuk membeli sensasi. Saya tidak peduli lagi dengan status bajakan yang mencoreng kaset itu. Di Blok M, Jakarta... dimana saya bisa menemukan kaset orisinil untuk album itu. Entah kalau di sumsel. Apalagi, mungkin ia sudah tidak diproduksi lagi.

 

[Permata Hijau, 23 Juni 2005]

* * *

 

Kapan

Posted by chan/syam at 10:17:44 | Permanent Link | Comments (2) |

Photos

GC75e_GC79%20images%20025_GC79%20man%20writing%20on%20keypad

Ungkapkan catatan anda tentang Prabumulih dan sekitarnya di web-blog dusunlaman. Untuk mengirim naskah, silahkan kirim email ke kawansyam@yahoo.com.

Senangnya berbagi.

Salam,

Syam Asinar Radjam [editor dusunlaman.blog.com]

Posted by chan/syam at 08:24:51 | Permanent Link | Comments (4) |

Juni 17, 2005

Little story on Phabong Ulech [Part 1]

Little story on Phabong Ulech [Part 1]

Oleh : Atharis Sultan Prayoe

 

Cerita ini merupakan pengalaman pribadi saat masa kecilku di Prabumulih. Aku merupakan anak tertua dari 4 Saudara, kami tinggal di Dusun Karang Raja III. Orang-orang menyebut kampungku Karaga alias Karang Raja Tiga. Orang tuaku adalah penduduk asli Prabumulih dan kami lahir dan besar di sana.

 

Waktu SD aku sekolah di SDN 15 atau sekarang berubah menjadi SDN 3 Prabumulih Timur. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh juga untuk ukuran anak SD, kira kira 5 atau 6 KM. Setiap berangkat ke sekolah aku dan teman teman melewati  rel kereta api. Kalo dipikir pikir sekarang hal tersebut cukup berbahaya juga. Jika ada kereta yg lewat kami cepat cepat kami menyingkir. Walau pun kami telah berada di pinggir rel kereta tetapi tetap aja kami terhuyung-huyung diterpa angin dari kereta api yg larinya kencang sekali. Saking seringnya kami melewati rel kereta tersebut kami jadi ahli meniti rel kereta api. Kami bisa sambil berlari-lari di atas rel kereta api. Hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah untuk orang orang biasa.

       

       

Berenang di Sungai

 

Tempat  kami sekolah berada persis berada di depan lapangan Prabu Jaya dan dekat kantor walikota (sekarang jadi kantor camat). SD kami sering menjadi pusat kegiatan sekolah-sekolah yang ada di Prabumulih karena lokasinya yang stategis.

 

Di dekat SD kami ada sebuah sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Di atas Sungai tersebut ada jembatan rel kereta api. Kami sering berenang disana. Terutama, sehabis main bola di lapangan Prabujaya seusai pelajaran olah raga. Kami langsung bergegas menuju sungai tersebut dan langsung “Byuuuur” terjun ke sungai.

 

Selain berenang kami juga sering melakukan atraksi terjun dari jembatan rel kereta yang tingginya kira-kira 8 sampai dengan 10 meter. Aksi itu sebenarnya sangat berbahaya, karena selain bahaya di trabrak kereta, juga saat terjun ke sungai. Dasar sungai selain banyak pasir dan Lumpur juga banyak batuan yang tajam yang berasal dari jalan kereta api.

 

Tak jarang kami bolos pelajaran sekolah karena berenang. Dan jika kami ketahuan berenang maka konsekuensinya kami siap dijemur sambil mengangkat kaki sebelah dengan tangan memegang telinga di lapangan sekolah. Tapi hukuman tersebut tak pernah membuat kami jera……..Ah dasar  anak nakal, he he he….!!!

 

Main betetan/Gandi

 

Sepulang sekolah biasanya kami main atau berburu di hutan. Senjata yang kami gunakan adalah betetan/gandi. Alat ini dalam Bahasa Indonesia atau di daerah lain disebut dengan ketapel. Tahukah anda dengan ketapel ??? Ketapel adalah senjata pamungkasnya nabi Daud untuk mengalahkan Goliat. Betetan ini kami buat sendiri. Kami menggunakan pohon tembesu yang ujungnya bercabang dua (bahasa prabumulihnya, cangka). Cangka tembesu itu kami bersihkan kulit kayunya. Kemudian ujung kedua cabangnya diikat dan dibakar sampai melengkung.

 

Selanjutnya kedua cabangnya di potong simetris seperti huruf  Y tetapi kedua ujung cabang nya melengkung seperti huruf  U. Setelah itu cangka tadi kami pletuer atau cat sesuai dengan corak dan selera masing-masing. Saat pengecetan selesai (cat sudah kering), selanjutnya adalah memasang kedua cabang tadi dengan karet. Karet yang digunakan adalah karet untuk celana, kami biasa menyebutnya karet kolor. Tapi karet kolor yg biasa kami gunakan, ukurannya lebih besar dan lebih tebal. Selanjutnya sisi yang tidak diikat ke cangka disambungkan dengan kulit atau kaleb berukuran kira kira 5 x 2 ½ CM yang berfungsi sebagai pelontar.

 

Jadilah sebuah betetan yang presisi dan artistik. Kami menyebut karya kami tersebut dengan cangka/betetan telok karena cabangnya yang melengkung seperti telur dan terbuat dari kayu tembesu yang susah didapat. Karya kami beda dengan betetan yang dibuat oleh kampung-kampung lain yang umumnya dibuat hanya dari kayu bisa dan bentuk nya seperti huruf Y.

 

Betetan tersebut dibawa kemana mana dan selalu tergantung di leher sebagai pelengkap pakaian dinas kami (he he he, kayak tentara saja). Kegunaannya biasanya untuk membidik burung atau menghalau serangan musuh. Tapi tak jarang kami salah guna dengan senjata tersebut untuk membidik hewan peliharaan, mangga, rambutan, jambu yang ada di kebun orang, yang ini namanya kebablasan nih, huh……………… nakal, nakal, nakaaaaaaaaaal.

 

…[bersambung]

 

* * *

Atharis Sultan Prayoe= Alumni SDN 15 Prabumulih J

Posted by chan/syam at 10:55:43 | Permanent Link | Comments (0) |

Juni 16, 2005

Keping Kenangan

14465352534183cf9d5de57

Masih ada yang ingat memainkan gasing kayu? Memoar mengenai Festival Gasing Tradisional di Prabumulih adalah salah satu dari 21 memoar dalam buku Keping Kenangan ini. Bagi yang berminat memilikinya bisa mencarinya ke Toko Buku Aksara Kemang atau beberapa toko buku di Jakarta [Harga toko Rp. 50.000]. Atau silahkan pesan ke saya,  Rp. 40.000 sudah termasuk ongkos kirim. Silahkan hubungi saya via email ke kawansyam@yahoo.com.  

Posted by chan/syam at 11:39:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Juni 13, 2005

Photos

rumah pak darwis

"Rumah Panggung" -- Di kota Depok, tepatnya di Sawangan, terdapat rumah panggung. Rumah ini milik Bapak Darwis Siagim, perantau asal Prabumulih.

Posted by chan/syam at 10:20:02 | Permanent Link | Comments (6) |

Juni 08, 2005

Mesjid Daarus-Salam

IMGP1187.JPG 

Mesjid Daarus-salam -- Mesjid Darusalam di Komplek Pertamina [komperta] Prabumulih. Paska renovasi mesjid ini memang terlihat tambah mega, dan dapat di lihat dari tepian jalan raya Prabumulih - Muara Enim. Tapi sebagian orang lebih menyukai kondisi mesjid sebelum renovasi yang dikelilingi pohon-pohon besar sehingga tampak lebih teduh dan sejuk.

Posted by chan/syam at 10:16:55 | Permanent Link | Comments (13) |

Juni 07, 2005

Mesjid Jami' Nurul Arafah

IMGP1166.JPG
Posted by chan/syam at 08:05:15 | Permanent Link | Comments (25) |
1 2