April 27, 2005

Kali Pucuk

Sapta Indra Bumantara*

 

Saya besar di Prabumulih, setamat SMA baru saya ke tanah Jawa untuk menuntut ilmu dan bekerja.

 

Masih ingat saat di SD, sekitar tahun 1980-an, kami suka berenang ke Kali Pucuk setiap minggu siang. Sambil membawa nasi bungkus, beramai-ramai kami berjalan kearah Prabusari dan melewati banyak tempat pembuatan tahu.

 

Sebelum sampai di Kali Pucuk kami akan berhenti di padang karamunting yang juga ditumbuhi banyak pohon jambu mede. Waktunya beristirahat dan membuka bekal. Kami paling suka menyantap nasi bungkus sambil duduk di atas dahan pohon jambu mede. Karena, daun jambu mede muda dapat dijadikan lalapan.

 

Biasanya... setelah makan, kami berlarian menuju Kali Pucuk. Sesampai di tepi, satu persatu pakaian kami lepaskan dan langsung “byur”.

 

Air Kali Pucuk sangat jernih. Di bawahnya adalah pasir, jadi kami bisa melihat dasar kali. Di sekitar tempat pemandian ini ditumbuhi banyak pohon pelawi. Pohon ini lurus-lurus dan ringan, biasanya suka dibuat “tembung” atau tongkat Pramuka. Setelah berenang, kami mengumpulkan buah hutan, namanya keromunting.

 

Beberapa waktu lalu, saya pernah ambil cuti dan sempatkan untuk melihat Kali Pucuk. Sudah banyak rumah dan kebun di sekitarnya. Dan Kalinya pun sudah tak ada lagi... Hanya genangan lumpur. Trenyuh saya melihat keadaan kali pucuk jadi seperti itu. Entah bagaimana keadaannya sekarang, tak tahulah...

 

--------------

Sapta Indra Bumantara*

Lahir dan besar di Prabumulih. Saat ini menetap di Depok Jawa Barat.

 

Posted by chan/syam at 04:17:26 | Permanent Link | Comments (1) |

April 19, 2005

Prabumulih Diserang Demam Memancing

Ganda Hernadez*

 

Sudah datang masa peralihan musim. Penghujan mulai berakhir dan segera digantikan kemarau. Air di sejumlah batanghari atau sungai besar di beberapa daerah sekitar Prabumulih surut perlahan. Beberapa sungai itu antara lain Lematang, Ogan, Rambang dan Kelekar.

 

Musim seperti ini sangat digemari para pemancing. Saya pun demikian. Sehabis sore, beberapa kali dalam seminggu, saya mengikuti rombongan pemancing pergi ke dusun-dusun bersungai besar. Maklum, sebagai seorang hobbies baru, saya tidak terlalu paham tempat-tempat yang berikan banyak. Hanya para pemancing berpengalaman yang tahu persis.

 

Beberapa dusun yang terkenal bagi para pemancing akhirnya kudatangi antara lain, Tanjung Rambang, Siamang, Talang Batu, Karang Bindu, Tanjung Bulan, Tanjung Miring, Pengurangan, dan Jungai. Dusun-dusun itu tidak jauh dari pusat kota Prabumulih, paling jauh sekitar 1 jam perjalanan dengan sepeda motor.

 

Dari rumah, selain menyiapkan "tehan" atau joran pancing dan bekal makanan, yang tidak boleh lupa adalah umpan. Beberapa jenis umpan yang umumj digunakan adalah cacing, lipas, lipan, ulat pohon jengkol, jangkrik dan kucur.  Yang disebut terakhir dibuat dari daging yang dibusukkan dengan ditambah beberapa bahan bumbu lain supaya baunmya lekat dan khas. Kucur berbau sangat busuk tapi digemari ikan-ikan tertentu. Tapi bukan hanya ikan yang menyenanginya... juga buaya.

 

Memancing demikian menyenangkan, meski terkadang harus menahan dingin kantuk di atas perahu di tengah sungai. Seringkali rasa kantuk justru tidak datang, terutama saat joran tidak henti-henti ditarik ikan. Bbeerapa ikan yang umum ditemukan adalah baung, lais, bujok, toman, huan (ikan gabus), bujok (sejenis gabus kepala lonjong), lampam, sebarau, juare, pilok, tapa, kepa, tembakang, dan lain sebagainya.

 

Saat memancing saya tidak hanya mendapatkan suasana segar karena kembali mendekat bahkan lebur dengan alam terbuka yang masih natural. Memancing menjadi sarana penting melepaskan penat dan jenuh karena rutinitas sehari-hari. Di tengah sungai dan arusnya yang lemah, sambil sesekali memandangi langit berbintang penuh dan bercengkrama dengan kopi di termos buatan sang bini, saya tak henti-henti bersyukur atas kemurahan Tuhan Yang Esa.

* * *

 

Ganmda Hernandez, lahir dan tinggal menetap di Prabumulih, karyawan PDSI di Prabumulih.

Posted by chan/syam at 11:24:45 | Permanent Link | Comments (1) |

Melon Dari Prabumulih

Bagaimana jika informasi terkait wilayah-wilayah yang secara geografis dekat dengan Prabumulih kita bagi di dusunlaman. Tentu saya pribadi menyambut baik.

 

Tentu ada batasan tertentu. Wilayah yang bisa kita masukkan di web-blog ini tentu saja yang berada pada irisan atau tidak terlalu jauh dari Prabumulih. Misalkan, wilayah Pendopo, dan Gunung Megang (meski berada di wilayah kabupaten Muara Enim. Atau Beringin atau Pagar Dewa (barangkali di irisan Prabumulih-Muara Enim-OKU). Pagi ini, saya menerima email seorang teman sekampus dulu, Destika Cahyana. Ia ingin berbagi cerita melalui tulisan tentang perkebunan Melon di Kecamatan Gelumbang. Tepatnya Desa Segayam, yang berjarak tempuh kurang lebih satu jam dari Prabumulih.

 

Why not...

Salam,

[dusunlaman]

-------------------------------------------------------------------

 

Melon Dari Prabumulih

Destika Cahyana*

 

Pagi menjelang siang Inderalaya, Ogan Komering Ilir mulai sibuk. Kijang hitam metalik keluar dari pintu gerbang kampus Universitas Sriwijaya menuju Prabumulih. Sambil meluncur otak 5 penumpang dipenuhi tanda tanya. Mungkinkah dari pelosok Segayam dihasilkan melon berkualitas. Begitu sebuah majalah terkenal menulis pada November 1999. Inilah sepenggal cerita berburu kebun melon di Segayam, Kecamatan Gelumbang, 5 tahun silam.

 

Tiga puluh menit berselang rombongan memasuki Gelumbang. Tepat di km. 51 sebuah papan kayu bertuliskan Kawasan Wisata Danau Segayam menyambut kedatangan kami. Mobil pun berbelok ke kiri memasuki jalan tanah selebar 3 m. Sekitar 6 km kami menyusuri jalanan berdebu menuju Danau Segayam. Di kiri kanan jalan ribuan pohon karet menghampar. Sebagian di antaranya hanya berupa tunggul bekas bakaran. Sungguh sangat terpencil. “Mada’i wong Jakarta pacak buat kebon di sini,” kata Pradityo Wibisono, cantrik dari Jurusan Tanah Unsri.

 

Namun, rasa tak percaya itu berubah total 1800. Sebuah pintu gerbang kayu kecil menghadang. Dari pos kecil, keluar satpam pribumi menemui. Setelah minta ijin sekedarnya kami boleh masuk ke kebun seluas 30 ha. Konon, sang pemilik menguasai lahan bekas kebun karet itu seluas 100 ha. “Baru 12 ha dibuka untuk melon. Yang 18 ha baru dibuka,” kata Yan Wahyu, pengelola kebun. Sisanya masih berupa kebun karet.

 

Luar biasa

 

Tampak puluhan bedengan berukuran 25 m x 1,3 m x 0,3 m berderet rapi. Diatasnya melon sebesar kelapa bergantungan di setiap cabang yang diikat dengan tali pada turus bambu. Setiap bedeng ditanam varietas yang berbeda. Tampak melon kuning mulus, hijau berjala, dan putih. “Ehm, luar biasa. Mirip pemandangan kebun di greenhouse modern,”  kata Marlina, adik tingkat kami. Dari sanalah Kami terus masuk ke dalam kebun. Ternyata kebun itu dibagi menjadi blok-blok berukuran 500 m2—1.000 m2. Ada blok yang buahnya lagi dipanen, tetapi adapula yang baru berbunga. Di blok lain umur tanaman baru 2 minggu, dipasangi ajir, atau malah baru dipasang mulsa. Sebagian lahan sedang digarap bulldozer dan excavator. “Setiap 3 hari kita menanam,” kata Yan. Tampak pula sistem pengairan yang diterapkan 2 macam: irigasi dengan paralon dan perendaman.

 

Dari sanalah setiap minggu dikirim 6 truk ke pasar Jakarta. Bahkan saat kami berkunjung, melon Segayam sudah menembus Jambi, Batam, dan sebagian kota besar di Pulau Jawa. “Permintaan terus meningkat. Karena itu lahan seluas 30 ha yang dibuka harus terwujud akhir tahun ini,” kata Yan.

 

Lahan subur

 

Aku hanya bisa tercenung melihat pemandangan itu. Terlebih saat mendengar Yan berkata, “Pakar pertanian di Palembang bilang, wilayah ini tak cocok untuk melon. Tanahnya masam, juga miskin hara.” Begitu Yan mengulangi perkataan sang pakar—yang juga kebetulan salah seorang pengajar di padepokan kami. Perih bukan? Apalagi ternyata Yan bisa membuktikan Segayam memiliki tanah yang subur. Yan sendiri adalah pakar pertanian dari Malang, Jawa Timur, yang telah lama malang melintang di dunia agribisnis.

 

Yan melanjutkan ceritanya. Walau tanpa bantuan data laboratorium, feelingnya yakin tanah segayam subur. Buktinya, wilayah di desa sekitar Segayam mampu menghasilkan nanas terkenal. Buah nanas punya karakter yang mirip melon. Banyak mengandung air dan rasanya asam—manis tergantung kondisi lahan. “Kalau nanas prabumulih terkenal manis, mengapa yang lain tidak,” katanya. Begitulah kisah tanah subur di Prabumulih yang dimanfaatkan orang pintar.

 

* Destika Cahyana, alumni FP Universitas Sriwijaya saat ini berprofesi sebagai jurnalis di Majalah Trubus, Jakarta.

Posted by chan/syam at 10:33:30 | Permanent Link | Comments (1) |

Prabumulih Dalam Cerita Bibi

Destika Cahyana*

 

Aku tak tahu, berapa banyak orang asli Prabumulih yang merasakan berkah dari tanahnya yang subur. Dari cerita kawan syam di blog ini, Prabumulih lebih terkenal oleh belalai panjang kilang minyak. Juga dari cerita perlawanan Saman. Kini, aku tak tahu lagi, setelah Palembang kutinggalkan 3 tahun lampau.

 

Yang jelas, mertuaku sendiri—yang lahir dan besar di Prabumulih—tak lagi merasakan berkah tanah subur dari Prabumulih. Beberapa mamang dan bibi ipar malah bertahan di Tangerang. Di kontrakan yang sempit selama bertahun-tahun, sampai kini. Walau terkadang mereka berkata, "Kami rindu Prabumulih. Tapi mau bekerja apa kami di sana,"  kata bibiku. Ya, cerita klasik dari kaum sudra yang terjepit. Rindu tapi—seperti kata sebuah lagu—itu bukan milik kita.

* * *

 

* Destika Cahyana, alumni FP Universitas Sriwijaya saat ini berprofesi sebagai jurnalis di Majalah Trubus, Jakarta.

 

Posted by chan/syam at 10:15:40 | Permanent Link | Comments (0) |

April 08, 2005

Prabumulih Dibawah Dualisme Kepemimpinan

Semenjak berstatus kota yang ditandai oleh terbitnya UU no 6 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Prabumulih, bekas kota administrative ini kian menggeliat. Pembangunan fasilitas seperti tidak mau ketinggalan dengan kota besar lainnya.

 

Beberapa proyek pembangunan yang patut diperbincangkan setidaknya antara lain; pembangunan kompleks perkantoran DPRD dan Walikota, Pelebaran Jalan Arteri, Pembangunan gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan pembangunan jalan layang.

 

Dua proyek diantaranya berkategori luar biasa, pembangunan kompleks perkantoran yang sedang diperdebatkan adalah sebuah bangunan yang direncanakan setinggi 9 lantai. Bangunan tersebut patut dijuluki sebagai gedung perkantoran paling “wah” di Sumatera Selatan. Proyek RSUD juga adalah RSUD terbesar (mudah-mudahan terbaik) di Sumatera Selatan.

 

* * *

 

Sepatutnya indikator bahwa Prabumulih mengalami pertumbuhan dapat terukur. Setidaknya, secara fisik. Meski beberapa “megaproyek” ini terasa mengganjal sebagian kelompok atau golongan.

 

Hemat penulis, yang terasa paling mengganjal ialah sebuah rumor bahwa ketidakharmonisan hubungan dua pucuk pimpinan pemerintahan Kota Prabumulih. Walikota Rahman Djalili dan Walikota Yuri Gagarin. Sebuah rumor yang gampang ditandai, cukup dengan nongkrong sebentar di sekitar pasar. Barangkali di kalangan tukang ojek dan penjual rokok atau tukang parkir sekalipun wacana ini terdengung.

 

Hari ini beberapa Harian Sumsel (diantaranya Sumatera Ekspress dan Sriwijaya Post) menurunkan berita bahwa kemarin (7/4/2005). Fraksi PDIP di DPRD Kota Prabumulih mengangkat persoalan ini di forum resmi. Juru bicara F-PDIP Hendry Arsyad SPd mencetuskannya dalam pandangan akhir rapat penyusunan APBD. Beberapa waktu sebelumnya Fraksi Golkar juga menyatakan hal serupa.

 

Beberapa soalan yang disampaikan oleh kedua Fraksi adalah perencanaan pembangunan beberapa proyek yang tidak dilandasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Beberapa diantaranya tidak bernilai ekonomis dan menghamburkan anggaran. Hal lain adalah ketidakjelasan sistem pemeliharan ruas jalan dalam kota yang tambal sulam tetapi tidak menjadikannya lebih baik dari semula, diantaranya ruas Jl. Mayor Ruslan, Jl. Desa Gunung Kemala, Jl. Mentawai dan lainnya.

 

Melalui pandangan akhir tersebut, F-PDIP yang mengantarkan pasangan Rahman Djalili dan Yuri Gagarin mundur dari jabatannya jika tetap tidak mampu bekerja secara selaras.

 

* * *

Posted by chan/syam at 15:33:19 | Permanent Link | Comments (0) |

April 05, 2005

Panik Minyak Habis, Gelar Sosialisasi Seismik

Cadangan minyak bumi di sumsel diperkirakan hanya akan cukup untuk 25 tahun ke depan. Mensikapi hal itu Pertamina DOH Sumbagsel akan melakukan uji seismik di 13 desa di wilayah Prabumulih. Demikian disampaikan oleh Manager Umum Pertamina DOH Sumbagsel, Joko Siswanto pada saat sosialisasi Seismik 3 Dimensi di Blok Talang Jimar ( 4 April 2005).

 

Posted by chan/syam at 08:44:14 | Permanent Link | Comments (0) |