Bagaimana jika informasi terkait wilayah-wilayah yang secara geografis dekat dengan Prabumulih kita bagi di dusunlaman. Tentu saya pribadi menyambut baik.
Tentu ada batasan tertentu. Wilayah yang bisa kita masukkan di web-blog ini tentu saja yang berada pada irisan atau tidak terlalu jauh dari Prabumulih. Misalkan, wilayah Pendopo, dan Gunung Megang (meski berada di wilayah kabupaten Muara Enim. Atau Beringin atau Pagar Dewa (barangkali di irisan Prabumulih-Muara Enim-OKU). Pagi ini, saya menerima email seorang teman sekampus dulu, Destika Cahyana. Ia ingin berbagi cerita melalui tulisan tentang perkebunan Melon di Kecamatan Gelumbang. Tepatnya Desa Segayam, yang berjarak tempuh kurang lebih satu jam dari Prabumulih.
Why not...
Salam,
[dusunlaman]
-------------------------------------------------------------------
Melon Dari Prabumulih
Destika Cahyana*
Pagi menjelang siang Inderalaya, Ogan Komering Ilir mulai sibuk. Kijang hitam metalik keluar dari pintu gerbang kampus Universitas Sriwijaya menuju Prabumulih. Sambil meluncur otak 5 penumpang dipenuhi tanda tanya. Mungkinkah dari pelosok Segayam dihasilkan melon berkualitas. Begitu sebuah majalah terkenal menulis pada November 1999. Inilah sepenggal cerita berburu kebun melon di Segayam, Kecamatan Gelumbang, 5 tahun silam.
Tiga puluh menit berselang rombongan memasuki Gelumbang. Tepat di km. 51 sebuah papan kayu bertuliskan Kawasan Wisata Danau Segayam menyambut kedatangan kami. Mobil pun berbelok ke kiri memasuki jalan tanah selebar 3 m. Sekitar 6 km kami menyusuri jalanan berdebu menuju Danau Segayam. Di kiri kanan jalan ribuan pohon karet menghampar. Sebagian di antaranya hanya berupa tunggul bekas bakaran. Sungguh sangat terpencil. Madai wong
Jakarta pacak buat kebon di sini, kata Pradityo Wibisono, cantrik dari Jurusan Tanah Unsri.
Namun, rasa tak percaya itu berubah total 1800. Sebuah pintu gerbang kayu kecil menghadang. Dari pos kecil, keluar satpam pribumi menemui. Setelah minta ijin sekedarnya kami boleh masuk ke kebun seluas 30 ha. Konon, sang pemilik menguasai lahan bekas kebun karet itu seluas 100 ha. Baru 12 ha dibuka untuk melon. Yang 18 ha baru dibuka, kata Yan Wahyu, pengelola kebun. Sisanya masih berupa kebun karet.
Luar biasa
Tampak puluhan bedengan berukuran 25 m x 1,3 m x 0,3 m berderet rapi. Diatasnya melon sebesar kelapa bergantungan di setiap cabang yang diikat dengan tali pada turus bambu. Setiap bedeng ditanam varietas yang berbeda. Tampak melon kuning mulus, hijau berjala, dan putih. Ehm, luar biasa. Mirip pemandangan kebun di greenhouse modern, kata Marlina, adik tingkat kami. Dari sanalah Kami terus masuk ke dalam kebun. Ternyata kebun itu dibagi menjadi blok-blok berukuran 500 m21.000 m2. Ada blok yang buahnya lagi dipanen, tetapi adapula yang baru berbunga. Di blok lain umur tanaman baru 2 minggu, dipasangi ajir, atau malah baru dipasang mulsa. Sebagian lahan sedang digarap bulldozer dan excavator. Setiap 3 hari kita menanam, kata Yan. Tampak pula sistem pengairan yang diterapkan 2 macam: irigasi dengan paralon dan perendaman.
Dari sanalah setiap minggu dikirim 6 truk ke pasar Jakarta. Bahkan saat kami berkunjung, melon Segayam sudah menembus Jambi, Batam, dan sebagian kota besar di Pulau Jawa. Permintaan terus meningkat. Karena itu lahan seluas 30 ha yang dibuka harus terwujud akhir tahun ini, kata Yan.
Lahan subur
Aku hanya bisa tercenung melihat pemandangan itu. Terlebih saat mendengar Yan berkata, Pakar pertanian di Palembang bilang, wilayah ini tak cocok untuk melon. Tanahnya masam, juga miskin hara. Begitu Yan mengulangi perkataan sang pakaryang juga kebetulan salah seorang pengajar di padepokan kami. Perih bukan? Apalagi ternyata Yan bisa membuktikan Segayam memiliki tanah yang subur. Yan sendiri adalah pakar pertanian dari Malang, Jawa Timur, yang telah lama malang melintang di dunia agribisnis.
Yan melanjutkan ceritanya. Walau tanpa bantuan data laboratorium, feelingnya yakin tanah segayam subur. Buktinya, wilayah di desa sekitar Segayam mampu menghasilkan nanas terkenal. Buah nanas punya karakter yang mirip melon. Banyak mengandung air dan rasanya asammanis tergantung kondisi lahan. Kalau nanas prabumulih terkenal manis, mengapa yang lain tidak, katanya. Begitulah kisah tanah subur di Prabumulih yang dimanfaatkan orang pintar.
* Destika Cahyana, alumni FP Universitas Sriwijaya saat ini berprofesi sebagai jurnalis di Majalah Trubus, Jakarta.
Komentar terakhir
aku lagi cari2 cerita rakyat
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora