Oktober 26, 2005

Jam Suling Pertamina

 

Jam Suling Pertamina

 

Suatu pagi di awal tahun 1984. Rumah yang baru kami pindahi kebobolan pencuri. Mereka [saya sebut demikian karena tapak sepatu di tanah becek terlihat lebih dari satu jenis] masuk dengan membuka beberapa nako. Kebetulan teralis belum dipasang.

 

Sebenarnya, isi rumah memang tak banyak. Tapi selain televise dan benda lain, pencuri berhasil memboyong benda yang paling penting di rumah kami di Prabusari; jam dinding.

 

Meski harganya tidak terlalu mahal, tapi saat itu keluarga kami sedang mengalami kesulitan keuangan yang hebat. Bak (demikian kami memanggil ayah) sakit TBC, dan usaha ekspedisi buahnya bangkrut total. Maka rasanya tidak mudah untuk mempunyai jam dinding yang baru. Demikian memang kenyataannya.

 

Sampai beberapa bulan kemudian, saat siang ayuk atau kakak perempuan saya ingin mengetahui jam, maka saya akan disuruh melihatnya di rumah tetangga. Tentu saya yang baru saja masuk sekolah dasar belum pandai membaca jam. Supaya praktis saya yang baru mengenal angka 0 sampai 9 mempunyai cara mudah. Cukup dengan menghapalkan posisi yang ditunjukkan oleh jarum pendek dan jarum panjang.

 

“Jarum panjang di angka 3, jarum pendek angka 12,” Saya melaporkan ke ayuk.

 

“Itu berarti, sekarang pukul dua belas seperempat.” Sahut Ayuk. Saya menggangguk saja tanpa mengerti betul. Saya mengagumi kepandaiannya membaca jam, waktu itu.

 

Namun saya sering bingung, kenapa saat pagi hari saya tidak pernah diminta mengintip jam dinding tetangga.

 

Belakangan hari saya memahami. Ayuk dan kakak saya mengetahui jam dari mendengar “suling pertamina”. Sebenarnya suara yang disebut suara suling itu adalah suara dari ketel uap di Stasiun Produksi Pertamina Prabumulih. Saat katup ketel dibuka, uap akan mendorong benda mirip peluit dan mengeluarkan bunyi panjang “Booooooongg…”

 

Suara suling pertamina itu terdengar seantero Prabumulih. Dan berkala secara teratur. Beberapa waktu kemudian akhirnya saya paham mengenai waktu saat suara suling terdengar. Dapat ditandai dari jumlah bunyi yang dihasilkan. Suara Suling memang dibunyikan untuk fungsi penanda waktu bagi karyawan pertamina. Sama seperti bunyi lonceng di sekolah yang dipukul guru atau penjaga sekolah.

 

Suling Satu, demikian saya menyebut suara yang terdengar satu kali di awal pagi, menandakan pukul 06.00 WIB. Selanjutnya, suling tiga menandakankan pukul 06.45 WIB. Suling tiga berarti pukul 07.00 WIB. Saat sore menjelang asar berbunyi sebanyak satu kali. Kalau tidak salah itu menunjukkan pukul 15.15 WIB. Dan kalau tak salah lagi, adalah penanda jam pulang karyawan pertamina. Demikianlah di hari senin hingga sabtu, kecuali jum’at. Pada hari Jum’at, suara suling terdengar pula satu kali saat pukul 11.30 WIB dan satu kali lagi pada pukul 13.00 WIB.

 

Meski penggunaan suling sebagai penanda waktu kerja bagi karyawan pertamina ini, mengingatkan saya pada satu kritik Maxim Gorky, tapi itu menarik. Secara satiris Gorky menceritakan fenomena kalangan buruh yang hidup diatur oleh bunyi bel.

 

Dan sekali lagi, sepertinya “jam suling pertamina” itu tidak hanya membantu warga yang tak berjam atau arloji. Tidak hanya menyiarkan panggilan kepada pegawai pertamina. Tapi juga seluruh warga. Pada tiap-tiap bulan Ramadhan, ia akan berbunyi menandakan waktu imsak.

 

[syam.a.r, Jakarta 25 oktober 2005]

 

* * *

Posted by chan/syam at 08:01:24 | Permanent Link | Comments (0) |

Oktober 06, 2005

Interface BSS pada GSM/DCS [Bagian empat]

Interface  BSS pada GSM/DCS  [Bagian empat]

 

Oleh: Atharis Prayoe

 

--------------------------------------------------------

 

 

 

Pengunjung dusunlaman yang baik,

 

 

 

"Interface  BSS pada GSM/DCS" sampai pada bagian ke empat. Jika ada pertanyaan, bisa langsung layangkan email ke Saudara Atharis Proyoe di atharis@plasa.com

 

 

 

Salam,

 

dusunlaman 

 

--------------------------------------------------------

 

 

 

 

 

 

 

       3. Proses Location update pada Um interface

 

Location Update akan dilakukan mobile station pada saat :

 

1.  MS pindah kelokasi area yang lain ( Normal location up dating)

 

2.  Pada saat network membutuhkan informasi updating (Priodic updating)

 

3.  Pada saat IMSI attach/detach (pada saat mematikan atau menghidupkan hanphone)

 

      

 

Pada saat Mobile Station mendapatkan signal dari BTS yang lain dan menemukan location Area Identification (LAI) yang baru pada BCCH, Maka MS akan melakukan permohonan Signaling  Dedicated Control Channel (SDCCH) lewat RACH (Random Access Channel) ke network tersebut. Setelah mendapatkan Signaling Channel yang terdapat pada AGCH (Access Grand Channel) MS melakukan set up pada layer 2 connection termasuk melakukan Set Asynchronous Balance Mode pada layer 3 message yaitu permohonan location update (location update request). Sebagai indikasi tambahan MS menginformasikan bahwa permohonan location update yang akan dilakukan adalah Normal location update (bukan priodik ataupun IMSI attch /detach).

 

 

 

VLR (Visitor Location Register) akan menentukan IMSI berdasarkan pada TIMSI dan LAI dan memungkinkan juga dari pemeriksaan  VLR sebelumnya dan ketentuan admistrasi dari HLR (Home Location Register). Sebelum dilakukan konfirmasi location update dan memberikan TMSI baru ke mobile station, VLR melakukan pembuktian (authentication request dan authentication response) dan mengaktivekan ciphering (Ciphering mode command dan ciphering mode complete).

 

 

 

Setelah melakukan proses diatas maka TMSI baru akan dialokasikan dengan pesan yang dikodekan pada kondisi ini location update telah diterima dan mobile station merespon dengan realokasi TMSI yang lengkap, selanjutnya Base station melepaskan radio resource connection.

Gambar: Location up date

 

 

 

Bagian ini merupakan bagian terakhir dari materi kita (Interface BSS pada GSM/DCS) yang akan membahas proses terjadinya hand over pada Um interface (universal mobile interface/air interface). Bagaimana proses bisa terjadinya hand over akan kita kupas habis dibagian ini. Selain itu juga kita akan bahas call release atau call clear down yaitu bagaimana proses release call terjadi antara network kita dan mobile subscribers… [bersambung]

 

 

 

 

 

 

Posted by chan/syam at 11:41:03 | Permanent Link | Comments (0) |

Oktober 03, 2005

Baaatuuu Eeesss…!

Baaatuuu Eeesss…!

 

Prabumulih di suatu waktu terdengar teriakan khas: “Batu es! Batu esss…!” Sumber suara itu berasal dari seorang anak lelaki remaja. Sepanjang jalan ia meneriakkannya sambil membawa “bos” es –yang sudah barang tentu: berat.

 

Suara teriakan anak penjual batu es itu memang hanya terdengar pada satu masa: berakhir di pertengahan dekade 1980-an. Saat lemari es atau kulkas belum banyak dimiliki warga Prabumulih. Umumnya dari sedikit pemilik batu es adalah penghuni komplek pertamina. Dari sana penjual batu es nyambut atau membeli barang dagangannya dengan harga antara Rp 35,- sampai Rp 40,-. Lalu bos berisi sekitar 10 bungkus es batu, dijajakan berkeliling kampung.

 

Pun tidak akan terdengar saban hari sepanjang tahun. Suara kita hanya akan menangkap teriakan panjang khasnya dibulan Ramadhan. Saban sore menjelang berbuka, di dekat pukul lima.

 

Saat ini, menjelang bulan puasa saya merenungkan kejadian masa lampau itu. Biasanya sambil menyiapkan hidangan berbuka puasa, para ibu atau remaja puteri akan menungu suara itu terdengar di depan pagarnya. Lalu menukar setiap bungkus es batu seharga limapuluh rupiah.

 

Saya rasa, suara para remaja penjual batu es dengan keringat dan rasa lelah menjalankan ibadah puasa sungguh dahsyat. Batu es, tidak hanya menjadi kata benda semata. Ia sempat menggemah sebagai penanda waktu: sebentar lagi berbuka.

 

“Batu es! Baaatuuu eeesss!”

* * *

Posted by chan/syam at 02:30:20 | Permanent Link | Comments (2) |

Interface BSS pada GSM/DCS [Bagian tiga]

Interface  BSS pada GSM/DCS  [Bagian tiga]

Oleh: Atharis Prayoe

--------------------------------------------------------

 

Pengunjung dusunlaman yang baik,

 

Lagi, lanjutan dari "Interface  BSS pada GSM/DCS" yang sengaja diturunkan secara bersambung.

 

Jika ada pertanyaan, bisa langsung layangkan email ke Saudara Atharis Proyoe di atharis@plasa.com

 

Baca dan ikuti terus, ya.

--------------------------------------------------------

 

1. Layer 2 (Data link Layer) pada Um interface

 

          Pada um/air interface layer 2 sering juga disebut dengan data link layer atau dalam istilah GSMnya disebut dengan Linking. Di layer ini informasi yang akan dikirmkan akan dilindungi dari gangguan yang akan terjadi. Tugas dari layer ini adalah mendeteksi gangguan dan melakukan perbaikan, melakukan stabilisasi transmisi atau dengan kata lain memberikan garansi terbebas dari gangguan data.

         

2. Layer 3 (Network Layer)

 

Pada layer 3 terdapat 3 fungsi penting yaitu :

A.    Radio Resource management functions

Pada Radio resource management pesan dikirimkan antara MS  (mobile subscbriber) dan Base Transciever Station (BTS) atau Base Station Controller (BSC). Pesan pada radio resourse akan dikirimkan pada A-bis interface dalam Radio Signalink Link (RSL)  atau Direct Tranfer  Application Part (DTAP) kea rah BSC.

      Pada bagian ini hal-hal yang mendasar yang dilakukan adalah :

 

 -  Pada Idle mode procedure (pada saat MS pada kondisi tidak melakukan percakapan):

a.     Melakukan broadcast informasi dari MS ke BSS atau sebaliknya.

b.     Melakukan Paging

 

-        Pada saat dedicated mode (pada saat ms sedang melakukan aktivitas) hal hal penting yang dilakukan pada fungsi radio resource management adalah sebagai berikut  :

a.     Pada saat channel assignment procedure (prosedur dimana pembagian untuk  penempatan channel dari BTS ke MS).

b.     Hand over procedure (Pada saat MS akan melakukan perpindahan dari suatu cell ke cell yang lainnya.

c.      Pada saat  prosedur penambahan channel.

d.     Pada saat pelepasan channel (channel release procedure)

 

-        Pada saat Radio Resources Establishment procedure (Pada saat procedure pembukaan

          Radio resource).

          a.   Pada saat memasuki dedicated mode permohonan untuk procedure penempatan

  channel dengan cepat yang  biasa nya terjadi pada saat hand over.

b.     Pada saat prosedur pengaksesan untuk up link

c.      Notification prosedur untuk call setup, hand over dll

 

B.        Mobility Management

Pada Mobility management        menyampaikan pesan antara MS dan MSC  tanpa dipengaruhi dari sisi BSS. Pesan tersebut  dikirimkan melalui A-bis dan A-Interface dalam RSL (Radio Signaling Link) ataupun DTAP (Direct Transfer Application Part) ke BSC. Fungsi utamanya adalah mensupport mobilitas pengguna sehingga informasi network untuk pemberian lokasi channel dan menyediakan identitas yang dibutuhkan antara MS dan network.

          Prosedur dasar yang dilakukan dalam Mobility Management adalah sebagai berikut :

1.     Mobility Management Common Prosedure :  suatu  Prosedur  Mobility   Management  yang dilakukan dalam keadaan biasa yaitu pada saat merealokasikan TMSI (Temporary Mobile subscriber Idensifier), Autentifikasi, Identifikasi, IMSI detach,prosedur pembatalan dan pada saat prosedur informasi pada Mobility Management.

 

2.     Mobility Management specific Prosedure : suatu prasedur dimana Mobility management memerlukan prosedur khusus yaitu pada saat Location update, periodic updating dan pada saat IMSI attach.

 

 

3.     Connection Management Sub layer service provision : suatu prosedur pada saat connection management sublayer untuk layanan yang bersyarat yaitu :

Mobility Management Connection establishment (pembukaan hubungan pada Mobility management), Mobility Management connection Information transfer Phase dan pada saat Mobility Management Connection release.

 

C.        Connection Management

        Connection     Management    terdiri    dari   : Call   Control,   Short   Massage   dan 

     Supplementary  Service  Support.   Pada  bagian  ini pesan dikirimkan antara MS dan MSC 

     oleh karena itu  sebagian besar dipertimbangkan untuk segera dilaksanakan.  

              Selain Call  Control  pada  connection  management  terdapat  juga  Supplementary

     service support yang digunakan  untuk  call   forwarding dan  Layanan pengenalan nomor 

     yang merupakan layanan call line identification  presentation (CLIP), call line identification

     restriction (CLIR),  dan SMS (Short Messege Service).

         Prosedur mendasar yang dilakukan pada call control adalah sebagai berikut :

 

-                Prosedur pembukaan  panggilan (Call establishment prosedur) : suatu prosedur

              pembuka pada saat akan melakukan panggilan dimana pada prosedur ini terdapat prosedur pada saat akan melakukan panggilan (Mobil originating call) dan pada saat penerimaan panggilan (Mobil terminating Call).

 

-                Prosedur Signaling sampai pada kondisi active pada prosedur ini terdapat  : User

Notification, call rearrangement, user initiated level up dan down grading.

 

              -    Call Clearing suatu prosedur dimana dilakukan  “clearing” percakapan, pada prosedur ini terdapat clearing yang dilakukan oleh mobile station dan ada juga clearing yang dilakukan oleh network serta clearing yang dilakukan secara berbarengan.

 

Posted by chan/syam at 02:26:19 | Permanent Link | Comments (0) |