Jam Suling Pertamina
Jam Suling Pertamina
Suatu pagi di awal tahun 1984. Rumah yang baru kami pindahi kebobolan pencuri. Mereka [saya sebut demikian karena tapak sepatu di tanah becek terlihat lebih dari satu jenis] masuk dengan membuka beberapa nako. Kebetulan teralis belum dipasang.
Sebenarnya, isi rumah memang tak banyak. Tapi selain televise dan benda lain, pencuri berhasil memboyong benda yang paling penting di rumah kami di Prabusari; jam dinding.
Meski harganya tidak terlalu mahal, tapi saat itu keluarga kami sedang mengalami kesulitan keuangan yang hebat. Bak (demikian kami memanggil ayah) sakit TBC, dan usaha ekspedisi buahnya bangkrut total. Maka rasanya tidak mudah untuk mempunyai jam dinding yang baru. Demikian memang kenyataannya.
Sampai beberapa bulan kemudian, saat siang ayuk atau kakak perempuan saya ingin mengetahui jam, maka saya akan disuruh melihatnya di rumah tetangga. Tentu saya yang baru saja masuk sekolah dasar belum pandai membaca jam. Supaya praktis saya yang baru mengenal angka 0 sampai 9 mempunyai cara mudah. Cukup dengan menghapalkan posisi yang ditunjukkan oleh jarum pendek dan jarum panjang.
“Jarum panjang di angka 3, jarum pendek angka 12,” Saya melaporkan ke ayuk.
“Itu berarti, sekarang pukul dua belas seperempat.” Sahut Ayuk. Saya menggangguk saja tanpa mengerti betul. Saya mengagumi kepandaiannya membaca jam, waktu itu.
Namun saya sering bingung, kenapa saat pagi hari saya tidak pernah diminta mengintip jam dinding tetangga.
Belakangan hari saya memahami. Ayuk dan kakak saya mengetahui jam dari mendengar “suling pertamina”. Sebenarnya suara yang disebut suara suling itu adalah suara dari ketel uap di Stasiun Produksi Pertamina Prabumulih. Saat katup ketel dibuka, uap akan mendorong benda mirip peluit dan mengeluarkan bunyi panjang “Booooooongg…”
Suara suling pertamina itu terdengar seantero Prabumulih. Dan berkala secara teratur. Beberapa waktu kemudian akhirnya saya paham mengenai waktu saat suara suling terdengar. Dapat ditandai dari jumlah bunyi yang dihasilkan. Suara Suling memang dibunyikan untuk fungsi penanda waktu bagi karyawan pertamina. Sama seperti bunyi lonceng di sekolah yang dipukul guru atau penjaga sekolah.
Suling Satu, demikian saya menyebut suara yang terdengar satu kali di awal pagi, menandakan pukul 06.00 WIB. Selanjutnya, suling tiga menandakankan pukul 06.45 WIB. Suling tiga berarti pukul 07.00 WIB. Saat sore menjelang asar berbunyi sebanyak satu kali. Kalau tidak salah itu menunjukkan pukul 15.15 WIB. Dan kalau tak salah lagi, adalah penanda jam pulang karyawan pertamina. Demikianlah di hari senin hingga sabtu, kecuali jum’at. Pada hari Jum’at, suara suling terdengar pula satu kali saat pukul 11.30 WIB dan satu kali lagi pada pukul 13.00 WIB.
Meski penggunaan suling sebagai penanda waktu kerja bagi karyawan pertamina ini, mengingatkan saya pada satu kritik Maxim Gorky, tapi itu menarik. Secara satiris Gorky menceritakan fenomena kalangan buruh yang hidup diatur oleh bunyi bel.
Dan sekali lagi, sepertinya “jam suling pertamina” itu tidak hanya membantu warga yang tak berjam atau arloji. Tidak hanya menyiarkan panggilan kepada pegawai pertamina. Tapi juga seluruh warga. Pada tiap-tiap bulan Ramadhan, ia akan berbunyi menandakan waktu imsak.
[syam.a.r, Jakarta 25 oktober 2005]
* * *



Komentar terakhir
aku lagi cari2 cerita rakyat
Saya mahasiswi yang lagi nyusun T
Mudah-mudahan dinas pariwisa
Sebagai ora